Pukul 06:00, layar Penandaku menyala.

Tiga kata muncul di sana.

*Kamu tidak harus patuh.*

Aku membeku.

Di Kota Nusantara, tidak ada pesan yang bisa masuk ke Penanda seseorang tanpa melalui TATA. Tidak ada. TATA mengatur semua komunikasi — setiap kata yang dikirim dari satu Penanda ke Penanda lain harus melewati filter sistem, dicatat, diarsipkan, dievaluasi.

Tidak ada yang namanya Sinyal Liar yang berhasil.

Kecuali ini.

Aku menatap layar gelangku selama tiga detik yang terasa seperti tiga tahun. Lalu instingku menendang.

Hapus.

Aku menekan hapus.

Pesan itu hilang dari layar. Tapi tidak dari kepalaku.

Pukul 06:02, alarm check-in harian berbunyi. Aku harus sudah berdiri di depan scanner biometrik di koridor blok tempat tinggalku. Terlambat dua menit dari jadwal akan memicu notifikasi pertama. Terlambat lima menit — notifikasi kedua. Terlambat sepuluh menit — kunjungan Pengawas.

Aku berdiri. Bergerak ke koridor.

Berdiri di depan scanner.

*Biometrik terdeteksi. Mira Kusuma. Divisi Protokol. Peran: Petugas Kepatuhan. Status: Normal.*

Normal.

Padahal di dalam kepalaku, tiga kata itu masih bergema seperti alarm yang tidak bisa dimatikan.

*Kamu tidak harus patuh.*

Siapa yang mengirimnya?

Bagaimana bisa masuk?

Dan yang paling berbahaya dari semua pertanyaan yang seharusnya tidak aku tanyakan:

*Apakah mereka benar?*

---