Kota Nusantara adalah tempat yang sempurna untuk tidak pernah berpikir.

Bukan karena warganya bodoh. Tapi karena semuanya sudah dipikirkan untuk mereka.

Pukul 06:30, dapur otomatis di tiap blok hunian menyajikan sarapan sesuai kebutuhan nutrisi masing-masing warga berdasarkan data biometrik terbaru. Aku menerima porsi: nasi merah, telur rebus, sayuran hijau dengan sedikit garam. Sama seperti kemarin. Sama seperti dua tahun terakhir sejak aku masuk Divisi Protokol.

TATA tahu kebutuhanku lebih baik dari yang aku tahu sendiri.

Pukul 07:00, aku masuk jalur transportasi Sektor Tiga menuju kantor Protokol. Kapsul berjalan otomatis, kapasitas dua belas orang, tanpa kemacetan karena TATA mengatur jadwal keberangkatan setiap warga sehingga tidak ada yang berangkat bersamaan.

Kota yang sempurna. Tidak ada kecelakaan. Tidak ada kelaparan. Tidak ada kejahatan.

Tidak ada ketidakpastian.

Di kursi seberangku, seorang pria berusia empat puluhan menatap keluar jendela dengan ekspresi kosong yang sudah menjadi ekspresi standar di kapsul transportasi. Tidak ada yang perlu dikomunikasikan. TATA sudah mengatur semua yang perlu disampaikan melalui saluran resmi.

Di sebelahku, seorang perempuan muda memeriksa jadwal hariannya di layar Penanda. Checklist panjang kegiatan yang sudah ditetapkan sejak subuh.

Aku memandang mereka dan bertanya-tanya — apakah mereka pernah menerima tiga kata yang tidak seharusnya ada?

Apakah jantung mereka pernah berdetak seperti ini — bukan karena olahraga wajib pukul 07:30, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh laporan biometrik manapun?

Tentu tidak.

Karena kalau iya, mereka sudah "diproses."

Seperti orang tuaku.

---