Sore harinya, ketika Rara pergi les menggambar dan Mama tidur siang sebelum shift malam yang akan dimulai jam delapan, aku duduk sendirian di ruang tamu dengan kotak kayu itu.
Bukan dengan rencana yang jelas. Aku hanya duduk di depannya, memandang tutup kayunya yang punya ukiran bunga sederhana di tepi-tepinya, dan memutuskan untuk memeriksa lebih teliti dari yang sudah kami lakukan kemarin.
Aku membuka tutup kotak.
Bau tua yang sama keluar — bau waktu yang terperangkap, bau sesuatu yang sudah lama berada dalam ruang tertutup tanpa udara segar. Lapisan beludru merah di dalam kotak sudah pudar warnanya, tidak secerah merah yang mungkin dulu, lebih ke merah bata yang lelah.
Aku menekan-nekan permukaan beludru dengan ujung jari. Padat. Di bawahnya terasa seperti lapisan kayu atau kardus.
Aku periksa sisi-sisi dalam kotak. Dinding kayu yang dihaluskan dengan baik, sambungan yang rapi di setiap sudut, tidak ada celah yang terlihat.
Lalu aku menarik tepi lapisan beludru dari sudut kanan bawah, iseng, tanpa tujuan pasti.
Lapisan itu terlepas dari sudut tersebut dengan mudah — tidak ditempel dengan lem kuat, hanya diletakkan dengan rapi di atas lapisan kardus tipis yang melapisi dasar kotak.
Dan di antara lapisan kardus itu dan dasar kayu yang sesungguhnya, ada celah sempit.
Celah yang cukup untuk menyimpan sesuatu yang tipis.
Aku miringkan kotak ke satu sisi.
Sesuatu bergeser dan terjatuh ke permukaan meja.
Foto.
Bukan foto digital yang dicetak dari printer modern. Foto yang memang sudah berumur — kertas yang lebih tebal dari foto biasa, tepinya sudah menguning dari putih ke krem. Hitam putih, tapi kualitasnya cukup tajam untuk melihat detail dengan jelas.
Dalam foto itu: seorang anak perempuan.
Berdiri di depan dinding rumah, menghadap kamera langsung tanpa malu-malu. Usianya sekitar delapan tahun — sepantaran Rara sekarang. Berpakaian gaun dengan renda tipis di tepinya, model yang cocok dengan beberapa dekade yang sudah lama berlalu. Rambut dikepang dua dengan pita kecil di ujung kepang. Wajahnya kena cahaya yang agak keras, cahaya siang tanpa naungan.
Dan di tangan kanannya, dipeluk ke dada dengan kedua tangan dari dada ke pinggang:
Boneka porselan.
Yang sama persis dengan yang sekarang ada di kamar Rara.
Bukan mirip. Bukan serupa. Identik.
Ukuran yang sama. Bentuk rambut yang sama — cokelat tua, dikepang dua. Pita merah kecil di ujung kepang yang sama. Desain gaun putih dengan renda yang sama. Posisi tangan boneka yang sama — kedua tangan di samping badan dengan telapak tangan terbuka ke depan.
Aku duduk lebih tegak tanpa menyadari melakukannya.
Ruangan terasa lebih sunyi dari seharusnya untuk sore hari.
Aku membalik foto.
Di bagian belakang, ditulis dengan tinta yang sudah agak pudar, tulisan kecil rapi dengan kemiringan tertentu yang khas tulisan tangan dari era tertentu:
*Nisa, 8 tahun.*
Aku membaca itu.
Diam.
Membaca lagi.
Nisa.
Nama yang tidak aku kenal. Anak yang tidak aku kenal. Foto yang ada tersembunyi di bawah lapisan kotak yang dikirimkan oleh Tante Lena yang sudah meninggal sembilan hari lalu, kepada adikku.
Aku membalik foto lagi. Menatap wajah anak itu dengan lebih teliti.
Yang paling menggangguku bukan teka-teki identitas anak ini atau darimana foto ini berasal. Yang paling menggangguku adalah ekspresinya.
Tidak ada senyum. Tidak ada mimik muka yang biasanya ada pada anak yang difoto — sedikit gugup, atau kegembiraan yang tertahan, atau ketidaksabaran ingin selesai. Hanya tatapan langsung ke lensa kamera dengan cara yang jarang sekali ada pada anak berusia delapan tahun.
Kosong.
Tapi bukan kosong yang tidak ada isi — lebih seperti kosong yang ada sesuatu sangat banyak di baliknya yang sudah belajar untuk tidak diperlihatkan. Ekspresi seseorang yang sudah sangat lama tidak punya alasan untuk membuat ekspresi apapun. Wajah yang sudah terbiasa menjadi netral karena netral terasa lebih aman dari apapun yang lain.
Aku memandang boneka dalam foto itu.
Dan menyadari sesuatu yang membuat bulu lenganku perlahan-lahan tegak meskipun udara sore terasa biasa-biasa saja.
Dalam foto hitam putih ini, dengan pencahayaan matahari siang yang agak keras, ekspresi wajah anak itu dan ekspresi wajah boneka yang dipegangnya hampir tidak bisa dibedakan.
Keduanya menghadap kamera. Keduanya diam. Keduanya dengan tatapan yang terasa seperti sudah menunggu terlalu lama tanpa pernah tahu apa yang ditunggu.
Aku menyimpan foto itu di dalam laci mejaku.
Duduk di depan kotak kayu yang sekarang kosong selama beberapa menit.
Lalu menelepon Tio — teman sekelasku yang paling bisa aku percaya untuk tidak membuatku merasa gila ketika bercerita tentang sesuatu yang aneh.
"Tio," kataku ketika ia mengangkat. "Aku butuh bantuan."
"Jenis bantuan yang biasa atau jenis bantuan yang kamu tanya pakai nada seperti itu?"
"Yang kedua."
Tio diam sebentar. "Cerita."
"Ada yang tahu cara mencari tahu siapa seseorang dari foto lama dan nama depan saja?"
"Tergantung nama depannya." Jeda sebentar. "Nama siapa?"
"Nisa. Anak perempuan. Mungkin tinggal di sini sekitar dua puluh atau tiga puluh tahun lalu."
"Di mana yang kamu maksud 'di sini'?"
Aku menatap dinding ruang tamu kami. Lalu menatap lantai. Lalu menatap langit-langit.
"Di rumah ini," kataku akhirnya. "Di rumah kami."
Sunyi di seberang telepon selama beberapa detik.
"Aku ke sana besok," kata Tio.
Aku meletakkan telepon.
Dan duduk di ruang tamu yang semakin redup dengan masuknya sore menuju malam, dengan satu nama yang terus berputar di kepala:
Nisa.
Siapa Nisa? Dan bagaimana fotonya bisa ada tersembunyi di dalam kotak yang dikirimkan bibi yang sudah meninggal kepada adikku?
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar