Boneka itu sudah punya nama sebelum matahari terbenam di hari yang sama.

Aku mendengarnya dari kamarku — suara Rara yang sedang melakukan ritual yang sudah aku kenal betul sejak ia kecil. Setiap kali ada anggota baru masuk ke koleksi mainannya, Rara akan melakukan sesi perkenalan resmi. Ini bukan main-main. Ini serius. Ia akan memperkenalkan anggota baru kepada semua yang sudah ada sebelumnya dengan nada seorang pemandu acara yang profesional.

"Teman-teman, perkenalkan — ini Clara. Dia anggota baru dan akan tinggal bersama kita di sini. Clara, yang ada di sebelah kirimu itu Beruang Gendut — namanya memang Gendut karena waktu Rara umur empat tahun dia minta sendiri dinamai begitu. Sebelahnya Kura-Kura Biru, lalu Kelinci Tanpa Telinga karena telinganya sudah copot dua tahun lalu dan tidak ada yang mau pasangkan lagi karena ternyata susah cari telinga kelinci yang cocok ukurannya..."

Aku meletakkan pulpen. Berjalan ke kamar Rara.

Adikku duduk bersila di atas kasur dengan boneka baru di pangkuan, dikelilingi koleksi mainannya yang tertata dalam setengah lingkaran di depannya — Beruang Gendut, Kura-Kura Biru, Kelinci Tanpa Telinga, dan beberapa yang lain. Wajah Rara sungguh-sungguh. Ini prosesi resmi. Ada protokol yang harus diikuti.

"Kenapa Clara?" tanyaku dari ambang pintu.

Rara mengangkat kepala. Matanya langsung dan tanpa keraguan. "Karena namanya Clara."

"Kamu yang kasih nama itu?"

"Bukan aku yang kasih." Rara menatapku dengan ekspresi sabar seseorang yang sudah terlalu sering menjelaskan sesuatu kepada orang yang tidak cepat menangkap. "Namanya memang Clara. Waktu Rara pertama kali gendong dia tadi siang dari dalam kotak, nama itu langsung ada di kepala Rara. Tiba-tiba saja. Langsung masuk."

Aku masuk dan duduk di tepi kasur Rara. Memandang boneka yang sekarang duduk rapi di pangkuan adikku.

"Itu artinya otakmu yang aktif menciptakan nama itu secara tidak sadar," kataku dengan nada yang aku usahakan terdengar santai. "Itu hal yang wajar dan normal. Kreativitas—"

"Bukan begitu rasanya." Rara menggeleng. "Kalau Rara yang buat sesuatu di kepala, ada prosesnya. Walaupun cuma sekilas, ada rasanya seperti Rara lagi mikir. Ini tidak ada proses apa-apa. Tiba-tiba sudah ada. Namanya Clara." Ia mengelus kepang rambut boneka itu dengan jari. "Seperti dikasih tahu."

Aku memandang boneka itu.

Matanya kaca. Oval. Cokelat muda. Tidak ada gerakan di sana — tidak mungkin ada gerakan di sana, itu kaca yang dicat, bukan mata sungguhan.

Tapi cara mata itu terasa dari sudut pandangku, dengan cahaya sore yang masuk miring dari jendela kamar Rara — ada sesuatu yang tidak bisa aku identifikasi dengan kata-kata yang tepat. Seperti ada kedalaman yang lebih dari sekadar kaca dan cat di baliknya.

"Jadi kamu ngobrol sama boneka ini?" tanyaku.

"Iya." Nada Rara tidak berubah — tenang, faktual, tanpa dramasi. "Tadi malam waktu hampir tidur, Clara cerita banyak."

"Tadi malam?" Aku menatap Rara lebih tajam. "Ini baru datang siang ini."

"Iya, tapi sebelum tidur Rara sudah bisa dengar Clara." Rara menunduk memandang boneka itu sejenak seperti mengonfirmasi sesuatu, lalu kembali ke aku. "Clara cerita tentang dirinya. Tentang sudah lama berada di sini, di rumah ini. Sebelum kita datang."

Sesuatu berhenti bergerak di dalam dadaku.

"Di rumah ini? Sebelum kita datang?"

"Iya. Sudah sangat lama katanya." Rara berkerut sedikit. "Clara tidak bilang berapa lamanya dengan angka. Tapi dari cara dia cerita, rasanya sudah sangat lama sekali. Dan selama itu tidak ada teman. Tidak ada yang mau main sama dia."

"Kenapa tidak ada teman?"

"Karena tidak ada yang bisa dengar." Rara menatapku langsung. "Seperti Kak Mira sekarang."

Aku membuka mulut untuk merespons.

Lalu menutupnya.

Karena semalam pukul satu dini hari, aku terbangun dari tidur tanpa alasan yang jelas. Dan dari balik dinding tipis antara kamarku dan kamar Rara — dinding yang hanya papan kayu dan sedikit material isolasi — ada suara.

Suara Rara yang bergumam pelan dalam tidurnya.

Dan suara yang lain. Sangat pelan. Hampir di batas kemampuan telinga manusia untuk menangkap. Suara rendah yang tidak bisa aku identifikasi sebagai suara siapapun yang tinggal di rumah ini — bukan Mama, bukan Mbok Umi yang rumahnya di luar, bukan TV yang siapapun lupa matikan.

Suara itu berlangsung mungkin dua menit sebelum berhenti. Lalu Rara bergumam lagi. Lalu sunyi.

Aku berbaring kaku di kasurku sampai jam dua pagi sebelum akhirnya bisa tidur lagi.

"Kak Mira?" Suara Rara menarikku kembali ke saat ini. "Kak Mira kenapa?"

"Tidak apa-apa." Aku berdiri dari tepi kasur. "Mandi dulu, ya. Hampir makan malam."

"Oke." Rara menaruh boneka itu berdiri di rak — bukan rebahan, berdiri. Dengan posisi yang terlalu rapi untuk diletakkan anak delapan tahun yang sedang terburu-buru ke kamar mandi. "Kak Mira juga harus coba dengerin Clara. Mungkin kalau coba sungguh-sungguh, bisa."

Aku tidak menjawab itu.

Menutup pintu kamar Rara.

Berdiri di koridor selama beberapa detik sambil punggung bersandar ke dinding, mata menatap langit-langit lorong yang berwarna krem pudar.

Boneka yang bisa bicara.

Boneka yang mengaku sudah lama ada di rumah ini sebelum kami datang.

Boneka yang — menurut adikku berusia delapan tahun — tidak ada yang bisa mendengarnya selama waktu yang "sangat lama sekali."

Aku menggosok wajah dengan kedua telapak tangan.

Anak kecil punya imajinasi aktif. Itu normal. Itu sehat. Boneka yang punya nama, yang punya cerita, yang punya kepribadian — semua itu normal untuk anak delapan tahun.

Yang tidak normal adalah suara yang aku dengar semalam dari balik dinding.

Aku memasak makan malam dengan satu bagian pikiranku tetap di kamar Rara, mendengarkan suara-suara yang ada dan tidak ada dari sana.

---