Tiga hari sebelumnya.
Kurir mengetuk pintu pukul dua belas lewat tujuh menit. Aku yang membukakan karena Mama baru saja pulang dari shift malam dan hampir tidak bisa berjalan lurus dari kelelahan, dan Rara masih di sekolah.
"Paket untuk Keluarga Kusuma." Kurir menyerahkan kotak berukuran sedang yang permukaannya dibungkus kertas cokelat tebal dan diikat tali oranye. "Tanda tangan di sini ya, Mbak."
Aku tanda tangan. Kurir pergi. Aku menutup pintu dan membawa kotak ke meja makan.
Kotak itu lebih berat dari perkiraan.
Nama pengirim di label depan:
*Lena Rahayu — Jl. Ciputat Raya No. 17, Jakarta Selatan.*
Aku membaca itu tiga kali sebelum otak aku benar-benar memproses.
Tante Lena.
Kakak almarhum Kakek dari pihak Mama. Perempuan tujuh puluhan yang tinggal sendirian di rumah yang terlalu besar untuknya, tidak punya anak, yang Mama kunjungi minimal dua kali setahun dengan membawa makanan dan menghabiskan sore bercakap-cakap tentang kenangan-kenangan yang tidak selalu aku pahami sepenuhnya.
Yang meninggal sembilan hari lalu.
Serangan jantung. Tengah malam. Sendirian di rumahnya. Tetangga yang mencurigai sesuatu karena dua hari tidak terlihat keluar lalu menelepon ambulans. Sudah terlambat.
Mama yang mendapat telepon dari tetangga itu masuk ke kamar mandi dan aku mendengar suara tangis yang ditahan selama hampir satu jam dari balik pintu. Aku duduk di depan pintu kamar mandi itu selama hampir sepanjang waktu itu, tidak tahu apakah harus masuk atau membiarkan, akhirnya tidak melakukan keduanya.
"Dari siapa?" Suara Mama dari sofa — berat, tebal kantuk.
"Tante Lena, Ma."
Hening yang agak panjang.
"Mungkin sudah dikirim sebelum beliau pergi." Mama menghela napas dalam. "Simpan dulu, buka nanti waktu Rara pulang."
"Iya, Ma."
Aku meletakkan kotak di pojok ruang tamu.
Dan selama dua jam berikutnya, setiap kali aku lewat depan ruang tamu, entah kenapa mataku selalu berakhir di kotak itu. Bukan karena aku mau melihat. Lebih seperti kotak itu yang menarik perhatian — dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan dengan kalimat yang tidak terdengar aneh.
Rara datang pukul satu setengah dengan tas di punggung dan keringat tipis di dahi dari panas siang. Baru sampai di pintu dan sepatu belum selesai dilepas ketika matanya sudah menangkap kotak di sudut ruang tamu.
"Paket! Buat siapa? Isinya apa? Boleh dibuka sekarang?"
Tiga pertanyaan dalam waktu empat detik. Kecepatan standar Rara ketika menemukan sesuatu baru yang menarik.
Mama yang sudah bangun dengan wajah sedikit lebih manusia dari dua jam sebelumnya membawa kotak ke meja makan. "Ayo kita buka bareng."
Rara tidak perlu diajak dua kali. Ia sudah berdiri di samping Mama bahkan sebelum kotak itu diletakkan di meja.
Di dalam lapisan kertas cokelat: kotak kayu. Ukurannya sekitar empat puluh kali tiga puluh sentimeter, tingginya dua puluhan sentimeter. Tutupnya diikat tali putar yang sudah agak kusam. Kayunya sudah agak gelap karena usia, tapi punya ukiran bunga sederhana di tepi-tepinya yang terlihat dikerjakan dengan tangan. Kayu yang bagus. Dibuat dengan hati.
Mama membuka ikatan tali. Mengangkat tutup kotak dengan pelan.
Aroma keluar ketika tutup terangkat. Bukan bau busuk — jauh dari itu. Tapi bau yang tidak bisa aku deskripsikan dengan tepat. Bau tua, seperti bau lemari antik yang sudah bertahun-tahun tidak dibuka. Bau waktu. Bau sesuatu yang sudah sangat lama berada dalam ruang tertutup.
Di dalam kotak, dilapisi beludru merah yang sudah agak pudar warnanya: boneka porselan.
"Waaaaah." Suara Rara yang panjang itu keluar dengan cara yang hanya bisa dibuat anak delapan tahun ketika melihat sesuatu yang sangat indah dan sangat diinginkan meskipun tidak tahu sebelumnya bahwa ia menginginkannya.
Boneka itu tingginya sekitar empat puluh sentimeter. Gaun katun putih dengan renda tipis di tepi bawah dan ujung lengan — model yang terlihat seperti baju pesta dari beberapa dekade yang sudah lama berlalu. Rambut cokelat tua dikepang dua dengan pita merah kecil di ujung masing-masing kepang. Alis tipis dicat tangan di atas wajah porselan yang sangat halus, hampir tembus cahaya di area pipi dan dagu. Bibir merah muda kecil dalam posisi netral — tidak tersenyum, tidak cemberut.
Dan matanya.
Kaca cokelat muda berbentuk oval, yang ketika cahaya sore dari jendela dapur menyentuhnya, berkilat dengan cara yang membuat sesuatu di perut aku bereaksi secara diam-diam.
"Cantik sekali!" Rara langsung meraihnya dari dalam kotak bahkan sebelum Mama atau aku bergerak.
"Hati-hati, itu porselan," kataku.
Tapi Rara sudah mendekap boneka itu ke dada dengan pegangan yang lebih kuat dari seharusnya untuk mainan baru — lebih seperti pegangan orang yang menemukan sesuatu yang sudah lama dicari, bukan anak yang mendapat hadiah.
Mama menemukan amplop kecil tersisip di bawah lapisan beludru merah. Putih biasa, nama kami tertulis di depan dalam tulisan tangan yang gemetar — tulisan Tante Lena yang aku pernah lihat di kartu ulang tahun beberapa tahun lalu, tapi lebih gemetar dari yang aku ingat.
Mama membuka amplop. Mengeluarkan kartu kecil. Membacanya.
Aku mengamati wajah Mama selama membaca. Ada yang berubah — setitik keriput muncul di antara alis, sudut bibir yang mengencang sedikit, cara matanya bergerak yang lebih lambat dari biasanya di kalimat terakhir.
"Isinya apa, Ma?" tanyaku.
Mama tidak langsung menjawab. Ia menyerahkan kartu itu kepadaku tanpa berkata apapun.
Aku membaca.
*Untuk Rara yang manis,*
*Semoga ia menemukan teman yang sudah lama menunggu. Jaga boneka ini baik-baik ya, sayang. Ia sudah sendirian terlalu lama.*
*— Tante Lena*
Aku membaca kalimat terakhir itu empat kali. Pelan.
*Ia sudah sendirian terlalu lama.*
"Ia" — kata ganti untuk makhluk hidup. Bukan "bonekanya", bukan "benda ini." Tapi "ia" seperti berbicara tentang sesuatu yang punya eksistensi dan kesadaran yang cukup untuk merasakan kesepian.
"Ma," kataku pelan. "Kalimat ini maksudnya apa?"
Mama mengambil kembali kartu itu dari tanganku. Melipatnya. Menyimpannya di saku baju. "Mungkin cara beliau bercerita saja, Mir. Orang tua sering personifikasi benda kesayangan mereka."
"Personifikasi itu apa?" tanya Rara dari balik boneka yang masih ia peluk.
"Pura-pura benda mati seperti punya perasaan," jawab Mama.
Rara memandang boneka di tangannya selama beberapa detik. Serius. Bukan cara anak yang sedang main pura-pura — cara anak yang sedang mempertimbangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
"Tapi kalau ini bukan pura-pura?" katanya akhirnya.
Tidak ada yang menjawab.
Pertanyaan dari mulut anak delapan tahun itu jatuh ke meja makan kami dengan bobot yang tidak wajar untuk pertanyaan dari mulut anak delapan tahun.
Dan aku, yang berdiri di sisi meja memegang kartu yang baru saja dikembalikan Mama, tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk merespons — karena di kepala aku sendiri, pertanyaan yang sama sedang berdiri dengan sangat nyaman.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar