Aku memperhatikan Mbok Umi keesokan paginya dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Mbok Umi adalah perempuan yang tidak pernah diam. Dalam tiga tahun ia bekerja di rumah kami, aku sudah hafal irama bicaranya seperti hafal lagu yang terlalu sering didengar. Cerita tentang harga cabai yang naik lagi padahal baru sebulan turun. Tetangga dua rumah dari sini yang katanya mau pisah dari suaminya tapi sudah tiga kali bilang begitu dan tidak pernah jadi. Sinetron yang ia ikuti dengan setia dan komentar panjannya tentang kenapa karakter A seharusnya tidak menikah dengan karakter B. Resep baru yang berhasil dipelajari dan langsung dipraktikkan tanpa konfirmasi dari siapapun di rumah apakah ada yang mau makan hasilnya.

Semua disampaikan dengan volume yang cukup keras untuk didengar dari ruang tamu ke dapur dan sebaliknya. Setiap hari. Tanpa gagal.

Tapi pagi ini, ketika aku keluar dari kamar untuk sarapan, aku melihat Mbok Umi berdiri di depan pintu kamar Rara yang setengah terbuka dengan cara yang tidak biasa.

Bukan berdiri mau masuk. Bukan berdiri setelah selesai keluar. Ia berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang gagang pintu, sedikit membungkuk ke depan seperti mau mengintip, tapi tubuhnya tidak bergerak ke dalam. Seperti seseorang yang sudah sampai di depan sesuatu dan tiba-tiba tidak bisa melanjutkan.

Lalu aku melihat ia mundur selangkah.

Menutup pintu kamar Rara dari luar.

Tanpa masuk.

"Mbok." Aku mendekati dari ujung lorong. "Cucian Rara belum diambil?"

Mbok Umi berbalik. Wajahnya tampak normal dari jauh — tidak pucat, tidak ketakutan berlebihan. Tapi semakin dekat aku, semakin aku bisa melihat ada sesuatu yang tidak ada di sana biasanya. Cara matanya yang tidak langsung menatap mataku selama satu detik sebelum akhirnya menatap langsung.

"Nanti Mbak Mira yang ambilkan dulu ya. Mbok tidak mau masuk ke kamar itu hari ini."

"Kenapa?"

Mbok Umi melirik sebentar ke arah pintu kamar Rara yang tertutup. Lalu kembali ke aku. Menurunkan suaranya menjadi setengah dari volume normalnya — gerakan yang aku hampir tidak pernah melihat Mbok Umi lakukan selama tiga tahun.

"Boneka itu, Mbak Mira."

"Boneka baru Rara?"

"Itu bukan boneka biasa." Kata-kata itu keluar dengan nada yang tidak meninggalkan ruang untuk diperdebatkan. "Pertama kali Mbok lihat kemarin waktu Mbak Rara bawa keluar dari dalam kotak, langsung ada yang tidak beres. Di dalam sini." Mbok Umi menepuk dadanya dengan telapak tangan. "Perasaan yang tidak sama dengan lihat boneka biasa."

"Mbok, boneka antik memang kadang terasa tidak nyaman karena tampilan wajahnya yang terlalu realistis. Itu fenomena yang—"

"Bukan soal tampilannya." Mbok Umi memotong dengan halus tapi tegas — sesuatu yang jarang ia lakukan. "Mbok tahu boneka antik seperti apa. Pernah lihat banyak waktu ikut ibu mertua ke pasar loak dulu. Ini beda. Ada yang nempel di boneka itu, Mbak. Yang bukan seharusnya ada di benda mati."

"Nempel apa?"

"Sesuatu yang..." Mbok Umi mencari kata. "...bukan dari pabrik. Bukan dari bahan yang dibuat manusia."

Aku memandang Mbok Umi selama beberapa detik.

Perempuan ini tidak pernah dalam tiga tahun bercerita tentang hal-hal supernatural kepada kami. Bukan tipe itu. Tipe Mbok Umi adalah tipe yang lebih percaya pada hal-hal konkret dan nyata — harga pasar, cuaca, resep masakan.

Tapi cara ia berbicara sekarang berbeda dari biasanya. Lebih berhati-hati. Lebih serius.

"Ada yang lain yang mau Mbok ceritakan?" tanyaku.

Mbok Umi menoleh sekilas ke arah lorong untuk memastikan tidak ada siapapun yang bisa mendengar — Rara sudah di sekolah, Mama masih di kamar.

"Tadi pagi," katanya dengan suara yang turun lebih jauh, "waktu Mbak Mira masih di kamar mandi, Mbok lihat Mbak Rara sarapan di meja makan sambil bicara."

"Bicara sama bonekanya?"

"Iya. Tapi bukan cara biasa anak main sama boneka." Mbok Umi mencontohkan dengan kepalanya — gerakan kepala yang bergerak ke kiri sedikit, berhenti, bergerak ke kanan sedikit, berhenti, angguk kecil, seperti orang yang mengikuti alur percakapan dua arah. "Kayak orang yang lagi dengerin lawan bicara dan merespons. Kepala ikut-ikut dengan natural. Bukan gerakan yang dibuat-buat. Dan mata Mbak Rara — matanya bergerak seperti ada yang dilihat. Bukan mata anak yang lagi main pura-pura sendiri."

Aku tidak langsung menjawab.

"Berapa lama itu berlangsung?"

"Mbok lihat mungkin lima menit sebelum akhirnya masuk dapur." Mbok Umi menekan bibirnya. "Mbak Mira, Mbok tidak mau lebay. Mbok bukan tipe orang yang gampang takut sama hal-hal seperti ini. Tapi..." Ia berhenti. "Perasaan Mbok bilang ada yang tidak beres. Dan perasaan itu sudah benar dua kali dalam hidup Mbok, dan dua kali itu betul."

"Dua kali sebelumnya tentang apa?"

"Tidak perlu Mbok ceritakan sekarang. Yang penting sekarang: Mbak Mira perlu lebih perhatikan adik Mbak."

Ia mengambil sapu yang dari tadi ada di tangannya dan berjalan ke arah dapur, mengakhiri percakapan dengan cara orang yang sudah menyampaikan semua yang perlu disampaikan.

Aku berdiri di depan pintu kamar Rara yang tertutup.

Mendorong pintu sedikit.

Mengintip ke dalam.

Kamar Rara sepi. Rara sudah sekolah. Boneka itu ada di rak — duduk di tempat yang Rara letakkan tadi pagi. Menghadap ke pintu. Ke arahku yang berdiri mengintip.

Aku menutup pintu.

Dan berdiri di lorong dengan perasaan yang tidak bisa aku beri nama yang tepat — campuran antara pikiran yang mengatakan bahwa ini semua bisa dijelaskan secara logis dan perasaan yang mengatakan bahwa ada sesuatu yang perlu aku perhatikan lebih serius dari yang sudah aku lakukan sejauh ini.

---