Aku sudah memastikan boneka itu ada di rak sebelum tidur.
Jam sebelas malam. Sebelum mematikan lampu kamar Rara, aku berdiri di ambang pintu dan memandang ke dalam. Kebiasaan lama — memeriksa adikku sudah aman sebelum pergi ke kamarku sendiri. Rara tidur menggulung di bawah selimut biru kesayangannya, napasnya teratur dan dalam, rambutnya sedikit berantakan di atas bantal.
Di rak kayu di sisi kiri kamar, posisi ketiga dari atas, boneka itu duduk di antara boneka beruang lama yang satu telinganya sudah lepas dan kotak musik yang dua tahun tidak pernah dibuka. Gaun putih dengan renda tipis di tepi bawah dan lengan. Rambut cokelat tua dikepang dua dengan pita merah kecil di ujung masing-masing kepang. Wajah porselan yang sangat halus, hampir terlalu halus untuk terasa seperti mainan biasa.
Tadi siang, ketika pertama kali Rara meletakkannya di rak, boneka itu menghadap ke dinding. Aku tidak nyaman melihat punggungnya, jadi aku balikkan supaya menghadap ke ruangan, ke arah kasur Rara. Matanya dari kaca, warna cokelat muda, memantulkan cahaya lampu tidur yang redup dengan cara yang membuat sesuatu di perut aku diam-diam bereaksi.
Aku memadamkan lampu utama. Keluar. Menutup pintu kamar Rara.
Pergi ke kamarku sendiri. Tidur.
Seharusnya itu semua yang terjadi.
Pukul enam pagi, alarm ponselku berbunyi. Aku matikan. Duduk sebentar di tepi kasur. Minum air dari gelas di meja samping tempat tidur — ritual pagi yang tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Lalu bangkit untuk membangunkan Rara supaya tidak telat sekolah.
Aku mendorong pintu kamarnya.
Masuk.
Mataku secara otomatis pergi ke rak — seperti yang sudah aku lakukan setiap pagi sejak tiga hari boneka itu ada di sini. Entah kenapa selalu ke rak itu dulu, sebelum melihat ke kasur Rara.
Boneka itu tidak ada di rak.
Aku berhenti berjalan. Berdiri di tengah kamar. Memindai rak dari atas ke bawah dengan teliti. Satu per satu posisi. Tidak ada. Mataku bergerak ke meja belajar yang penuh pensil dan buku. Tidak ada. Ke lantai dekat lemari. Tidak ada.
Lalu mataku mendarat ke kursi belajar di sudut kanan kamar.
Di sana.
Boneka itu duduk di kursi belajar. Tegak. Kaki menjuntai ke bawah sejajar dengan kaki kursi kayu. Kedua tangan diletakkan rapi di atas lutut — posisi yang terlalu teratur, terlalu disengaja untuk terlihat seperti boneka yang terjatuh atau tergeser tidak sengaja.
Dan wajah porselannya menghadap langsung ke arah pintu.
Langsung ke arahku.
Aku berdiri tidak bergerak mungkin selama lima belas detik penuh. Otakku bekerja mencari penjelasan yang masuk akal. Mungkin Rara bangun tengah malam untuk ke kamar mandi dan memindahkannya dalam kondisi setengah sadar. Mungkin—
Jendela kamar Rara tertutup. Aku sendiri yang menutupnya kemarin malam karena hawanya mulai sejuk.
Tidak ada angin. Tidak ada sebab fisik yang bisa memindahkan boneka dari rak ke kursi yang jaraknya hampir dua meter dan membuatnya duduk dalam posisi serapi itu.
"Rara."
Suaraku keluar setengah volume dari biasanya.
Rara tidak bergerak. Matanya masih tertutup rapat.
"Rara, bangun." Kali ini sedikit lebih keras.
Adikku menggeliat. Membalik badan ke arahku dengan gerakan lambat orang yang benar-benar tidak rela meninggalkan tidur yang hangat. Matanya terbuka satu per satu, berkerjap-kerjap menghadapi cahaya pagi.
Lalu matanya beralih ke kursi belajar.
Dan dalam sepersekian detik, wajahnya berubah dari mengantuk menjadi cerah seperti lampu yang dinyalakan.
"Clara bangun duluan!" serunya dengan nada yang sama seperti menyebut fakta paling menggembirakan yang ia temui minggu ini.
Aku menelan ludah. "Kamu yang pindahkan boneka itu ke kursi tadi malam?"
"Tidak." Rara duduk di kasurnya, matanya masih berbinar ke arah kursi. "Clara yang mau duduk di sana. Katanya dari rak tidak bisa lihat jendela dengan baik."
Sesuatu berhenti di dalam dadaku selama satu detik.
"Clara bilang itu? Kapan?"
"Tadi malam waktu hampir tidur." Rara bangkit dari kasur, berjalan ke kursi, meraih boneka itu dan memeluknya ke dada. "Kak Mira juga harus dengerin Clara. Kasihan dia, sudah sangat lama tidak ada yang mau dengerin."
"Rara." Aku berdiri tepat di depan adikku. "Boneka tidak bisa benar-benar bicara. Tidak ada boneka yang bisa. Ini bukan tentang imajinasimu yang bagus atau tidak — ini tentang fakta fisik bahwa boneka adalah benda mati."
"Yang ini tidak sepenuhnya benda mati." Rara menatapku dengan tatapan sabar seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu kepada orang yang agak lambat mengerti. "Mba Guru pernah bilang, orang dewasa lama-lama kehilangan kemampuan untuk mendengar hal-hal yang tidak kelihatan. Anak kecil masih bisa karena belum menutup diri." Ia mengetuk pelipisnya. "Clara tidak bicara pakai mulut. Tapi langsung ke sini. Dan Rara bisa terima."
"Itu telepati, Ra. Itu bukan—"
"Rara mandi dulu ya, Kak." Rara sudah berjalan ke arah kamar mandi sambil masih mendekap boneka itu. "Rara taruh Clara di sini dulu."
Ia meletakkan boneka itu kembali di kursi belajar — persis di posisi yang sama.
Dan berjalan keluar dari kamar.
Aku berdiri sendirian di kamar Rara, menghadap boneka itu di kursi belajar.
Boneka itu menghadap ke arahku.
Matanya kaca. Tidak mungkin bergerak. Tidak mungkin melihat.
Tapi ada sesuatu dalam cara benda itu terasa — berdiri sendirian di kamar yang sekarang sepi — yang membuat aku merasakan sesuatu di punggung tengkukku. Bukan rasa takut yang jelas. Lebih seperti ketidaknyamanan yang tenang dan sabar. Seperti kesadaran bahwa ada sesuatu yang sedang memperhatikan, dan sesuatu itu sudah sangat terbiasa menunggu.
Aku keluar dari kamar tanpa mengubah posisi boneka itu.
Dan selama aku menyiapkan sarapan di dapur, aku berusaha tidak memikirkan bahwa semalam pukul satu dini hari, aku terbangun tiba-tiba dari tidur. Dan dari balik dinding tipis antara kamarku dan kamar Rara, ada suara.
Suara Rara yang bergumam dalam tidurnya.
Dan suara yang lain. Sangat pelan. Hampir tidak tertangkap. Suara rendah yang bukan milik siapapun yang tinggal di rumah ini.
Pagi ini terasa lebih panjang dari biasanya.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar