Seminggu setelah kunjungan pertamanya, Pak Surya datang ke tokoku bukan untuk belanja.

Dia datang jam sepuluh pagi — jam yang terlalu tanggung untuk belanja kebutuhan harian tapi terlalu awal untuk ada urusan mendesak. Dia berdiri di depan etalase minuman satu menit penuh, lalu memilih air mineral satu botol yang bisa dibeli di warung pinggir jalan manapun.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku dari balik kasir.

"Sudah ini saja." Dia taruh botol di meja. Bayar. Lalu tidak beranjak. "Bu Ratna sudah lama kenal sama warga gang sini?"

"Empat tahun."

"Kira-kira kalau mau kenal lebih sama orang-orang di sini, caranya bagaimana?"

Aku menatapnya. "Tinggal di sini lebih lama."

Dia tertawa kecil. Tulus, bukan dibuat-buat. "Benar juga." Dia menyimpan kembalian. "Saya mau nanya sesuatu, Bu. Boleh?"

Aku tidak menjawab tapi juga tidak menolak. Dia anggap itu izin.

"Gang Melati ini kira-kira ada tidak yang punya lahan lebih? Saya dengar-dengar di RT 05 ada wacana pengembangan akses jalan baru. Kalau ada warga yang tertarik jual atau sewa lahan, mungkin bisa saya bantu fasilitasi."

Satu kalimat yang panjang dengan banyak kata. Dan banyak kata itu menutupi sesuatu yang sederhana: dia mencari tanah.

"Saya tidak punya lahan lebih."

"Tidak harus Bu Ratna. Mungkin tetangga yang lain?"

"Tidak tahu urusan tetangga."

Dia mengangguk dengan ekspresi yang tidak berubah. Tidak kecewa, tidak memaksa. Tersenyum tipis dan memasukkan botol airnya ke dalam tas.

"Terima kasih, Bu Ratna." Dia berbalik ke pintu. "Oh ya — saya dengar Bu Ratna itu ahli dalam urusan bisnis kecil. Kalau kapan-kapan mau ngobrol soal itu, saya senang sekali."

Aku tidak menjawab.

Dia keluar.

Malamnya aku duduk di meja kasir setelah toko tutup dengan buku catatan stok di depanku yang tidak kubaca.

Yang kubaca adalah satu kalimat yang dia ucapkan tadi siang: *wacana pengembangan akses jalan baru*.

Di RT 05 — kompleks perumahan baru yang baru setahun berdiri di ujung jalan besar — memang ada isu soal rencana perluasan akses masuk. Aku pernah dengar dari Pak RT kami bulan lalu, tapi tidak terlalu diperhatikan karena kelihatannya masih wacana jauh.

Tapi kalau ada orang yang menyebut "fasilitasi" dan "lahan" dalam satu kalimat, itu bukan obrolan santai.

Itu survei lapangan.

Aku punya tanah warisan Mas Bram di belakang gang ini — bukan besar, sekitar seratus dua puluh meter persegi, yang selama ini kubiarkan kosong karena belum ada rencana jelas mau diapakan. Sudah beberapa kali orang datang tanya, selalu aku tolak karena harga yang mereka tawarkan tidak masuk akal.

Pak Surya belum menyebut soal tanah itu secara spesifik. Tapi "warga gang ini yang punya lahan lebih" — siapa lagi yang dia maksud kalau bukan aku?

Dan perempuan yang satu lagi.

Mela.

Aku tidak suka memikirkan ini, tapi fakta tidak bisa diabaikan: Mela juga punya lahan kosong.

Bukan lahan dia sendiri — tapi lahan yang statusnya masih dalam nama almarhum suaminya dan belum sempat balik nama karena birokrasi surat-surat yang memang butuh waktu. Lahan di sisi utara gang, yang berbatasan langsung dengan jalan raya kecil.

Itu yang strategis untuk akses jalan baru.

Dan Pak Surya sudah dua minggu makan soto Betawi di warungnya.

Aku menutup buku catatan. Menarik napas.

Ini bukan urusanku. Kalau Pak Surya mendekati Mela untuk urusan bisnis, itu haknya. Kalau Mela mau jual lahannya, itu haknya juga.

Tapi sesuatu yang kecil dan keras di dalam perutku tidak mau setuju.

Pagi berikutnya aku sedang sortir koran bekas di belakang toko ketika Raka muncul dengan seragam sekolahnya yang baru setengah dikancingkan.

"Bu, tadi ada yang titip ini."

Dia menyerahkan amplop kecil. Nama di depannya ditulis tangan: *Ibu Ratna Dewi.*

"Dari siapa?"

"Nggak tahu. Tadi ada di bawah pintu."

Aku membuka amplop. Di dalamnya selembar kertas kecil.

*Bu Ratna, saya Surya. Maaf kalau pertanyaan saya kemarin kurang sopan. Saya ingin ngobrol lebih serius soal rencana yang saya sebutkan — bukan di toko, mungkin di tempat yang lebih nyaman. Kalau berkenan, saya akan menghubungi lewat nomor ini. Terima kasih.*

Di bawahnya nomor HP.

Aku membaca surat itu dua kali. Lalu melipatnya dan memasukkan ke saku.

"Bu?" Raka masih berdiri menunggu.

"Berangkat sekolah sana."

Dia pergi.

Aku berdiri di belakang toko dengan surat itu di saku, menatap tembok belakang yang berbatasan dengan lahan kosong warisan Mas Bram.

Seratus dua puluh meter persegi. Jika lokasinya strategis untuk akses jalan baru, harganya bisa sepuluh kali lipat dari penawaran orang-orang yang datang sebelumnya.

Tapi kenapa perasaanku tidak menyuruh untuk senang?

Sore itu, pertama kalinya dalam setahun, aku memutuskan makan siang di tempat lain.

Aku menutup toko jam dua, menitip Raka ke tetangga sebelah, dan berjalan dua puluh langkah ke warung Mela.

Perempuan itu menatapku dengan ekspresi yang aku tidak bisa baca ketika aku masuk.

"Bu Ratna?"

"Satu porsi soto Betawi." Aku duduk di meja pojok — meja yang sama dengan tempat Pak Surya selalu duduk. "Kalau masih ada."

Mela butuh satu detik untuk memulihkan ekspresinya. Lalu senyum itu muncul lagi.

"Ada, Bu. Sebentar ya."

Aku duduk. Mengamati warung ini dari dalam untuk pertama kalinya.

Kecil. Rapi. Ada foto satu anak perempuan di dinding belakang — siswi SD dengan seragam merah putih dan senyum yang persis seperti senyum ibunya. Meja-mejanya bersih dan tiap meja ada bunga plastik kecil di vas yang tidak terlalu murahan.

Warung ini dirawat dengan telaten oleh orang yang sayang pada pekerjaannya.

Mela meletakkan soto di mejaku. "Ini, Bu."

"Berapa?"

"Dua belas ribu."

Aku makan.

Dan soto itu memang enak. Tidak akan aku akui keras-keras, tapi dalam hati aku mengakui.

Ketika selesai dan Mela membawa mangkuk kosongnya kembali, aku bertanya pelan.

"Pak Surya sering ke sini?"

Mela berhenti sebentar. "Lumayan sering, Bu. Kenapa?"

Aku menaruh dua belas ribu di atas meja. "Tidak ada apa-apa."

Berdiri dan berjalan keluar.

Tapi waktu melewati pintu, aku mendengar Mela berdehem pelan — bukan dehem sakit, tapi dehem orang yang ingin mengatakan sesuatu tapi memilih diam.

Aku menoleh. Mata kami bertemu sebentar.

Lalu aku pergi.