Aku tidak pernah punya masalah dengan siapapun di Gang Melati.

Selama empat tahun jadi janda, aku sudah belajar satu hal: kalau kamu tidak mengganggu orang, orang tidak akan mengganggu kamu. Prinsip itu yang kujaga. Tokokelontongku buka jam enam pagi, tutup jam delapan malam, dan selama itu aku tidak pernah berurusan dengan siapapun lebih dari yang perlu.

Sampai perempuan itu datang.

Mela Puspita. Tiga puluh tiga tahun. Janda satu tahun. Dan pemilik warung makan baru yang dengan sangat menyebalkan memutuskan untuk parkir gerobak dagangannya tepat di depan toko kelontongku setiap pagi.

"Permisi, ya, Bu," katanya waktu pertama ketika aku keluar dengan sapu untuk nyapu depan toko dan nyaris menendang keranjang sayurannya yang entah kapan sudah ada di sana. "Saya taruh di sini dulu sebentar, nunggu Pak Asep buka kiosnya."

Aku menatap keranjang itu. Menatap dia. Menatap lagi keranjangnya.

"Sebentar itu berapa lama?"

"Setengah jam paling lama." Senyumnya terlalu lebar untuk jam enam pagi. "Pak Asep biasanya buka jam setengah tujuh."

"Kalau Pak Asep tidak buka?"

Senyum itu tidak luntur sedikit pun. "Wah, semoga buka, ya, Bu. Hehehe."

Dan begitulah awalnya.

Setengah jam jadi satu jam. Satu jam jadi dua jam. Dan entah kapan, gerobak itu jadi semacam aksesori tetap di depan tokoku setiap pagi, lengkap dengan pemiliknya yang cerewet dan suka menyapa semua orang yang lewat dengan suara yang terlalu keras untuk ukuran gang selebar empat meter.

"Selamat pagi, Pak Budi! Mampir, Pak, ada soto hangat!"

"Bu Lastri! Beli tempe gorengnya, Bu, baru digoreng ini!"

"Eh, Mas Kang Wahyu! Sudah sarapan belum?"

Aku menyapu halaman tokoku dengan gerakan yang lebih keras dari perlu.

Empat tahun aku jaga ketenangan Gang Melati. Empat tahun.

Namaku Ratna Dewi. Tiga puluh lima tahun. Janda empat tahun setelah Mas Bram meninggal karena kecelakaan kerja di pabrik.

Tidak ada drama. Tidak ada pengkhianatan. Tidak ada perselingkuhan yang perlu aku ceritakan dengan nada dramatik. Mas Bram pergi, aku ditinggal dengan satu anak laki-laki berusia delapan tahun yang sekarang sudah dua belas dan lebih suka main game daripada membantu ibunya angkat barang, dan sebuah toko kelontong warisan mertua yang harus aku pelajari cara mengelolanya dari nol.

Empat tahun itu tidak mudah. Tapi aku lalui.

Sekarang toko kelontongku adalah yang paling lengkap di Gang Melati dan tiga gang sekitarnya. Aku hafal nama dan kebutuhan rutin setiap pelanggan. Aku tahu Bu Darmi selalu kehabisan gula di pertengahan bulan. Aku tahu Pak Hasan butuh rokok kretek di rak paling bawah, bukan yang atas. Aku tahu anak-anak SD yang pulang sekolah jam sebelas lebih suka es krim yang sudah agak lumer dibanding yang keras beku.

Detail seperti itu yang membuat toko bertahan. Bukan keramahan. Bukan senyum lebar. Bukan sapaan keras ke setiap orang yang lewat.

Dan sekarang ada Mela Puspita yang dengan gerobak sayurnya menghalangi pandangan orang ke etalase roti dan snackku setiap pagi.

"Bu Ratna," suaranya muncul dari sebelah kiri ketika aku sedang mencatat stok beras. "Mau nitip timbangan boleh nggak?"

Aku tidak langsung menjawab.

"Timbangan sayur saya rusak. Besok baru ada tukang servis. Kalau boleh pinjam timbangan Bu Ratna yang di sana itu satu hari saja."

Aku menatap timbangan dagangku. Menatap dia.

"Bayar sewa."

Keningnya berkerut. "Bayar sewa timbangan?"

"Lima ribu sehari."

Dia diam sebentar. Lalu senyumnya balik lagi, lebih lebar dari sebelumnya. "Boleh, Bu. Makasih ya."

Dan dia merogoh sakunya dan meletakkan uang lima ribu di meja kasirku sebelum mengambil timbangan.

Aku menatap uang itu.

Seharusnya aku merasa menang. Tapi entah kenapa malah ada rasa tidak enak yang kecil sekali di sudut perutku.

Pak Surya pertama kali muncul di Gang Melati hari Kamis.

Aku tahu ini hari Kamis karena setiap Kamis aku nerima pengiriman beras dari distributor dan selalu ada ribut kecil soal hitung-hitungan karung di depan toko yang makan waktu setengah jam. Jadi ketika mobil hitam mengkilap itu parkir di ujung gang dan seseorang turun dengan kemeja batik lengan panjang yang sepertinya tidak pernah merasakan panas matahari seumur hidupnya, aku sedang dalam kondisi tidak ingin berurusan dengan siapapun.

Tapi dia jalan ke arah tokoku.

"Permisi," katanya. Suaranya tenang. Bukan tenang yang dibuat-buat — tenang yang sudah terlatih. "Ini Toko Dewi?"

"Iya."

"Saya Surya." Dia mengulurkan tangan. "Surya Pratama. Saya baru pindah ke kompleks sebelah, RT 05. Lagi nyari toko langganan untuk kebutuhan bulanan."

Aku menjabat tangannya sebentar. "Silakan masuk."

Dia masuk. Melihat-lihat sebentar. Matanya jenis mata orang yang terbiasa menghitung nilai sesuatu — meja kasir, rak-rak, jumlah pelanggan yang keluar masuk. Bukan pengamatan orang yang cuma mau beli kebutuhan bulanan.

Tapi dia beli. Lumayan banyak. Dan dia bayar tunai, tidak minta hutang, tidak minta diskon.

Ketika pergi, dia berhenti di pintu. "Warung yang di seberang itu juga baru?"

Aku mengikuti arah pandangannya. Gerobak Mela sudah pindah ke depan warungnya sendiri karena sudah lewat jam sarapan.

"Sudah setahun."

"Enak masakannya?"

"Tidak tahu. Belum pernah coba."

Dia mengangguk. Dan pergi.

Aku menatap mobilnya dari dalam toko sampai belok di ujung gang. Ada sesuatu dalam cara dia berjalan — terlalu tegap, terlalu terencana — yang membuat aku memikirkannya lebih lama dari yang seharusnya.

Tapi aku sibuk. Ada stok yang harus dihitung.

Aku lanjutkan pekerjaanku.

Malam itu, dari balik dinding tipis rumah kontrakanku yang bersebelahan langsung dengan dapur warung Mela, aku mendengar suara ketukan pintu. Lalu suara perempuan itu tertawa — tertawa yang berbeda dari tertawanya waktu di depan gerobak. Lebih pelan. Lebih... senang.

Aku tidak menguping.

Hanya kebetulan suaranya sampai karena dinding kami memang tipis.

"Besok Bapak mampir lagi kan? Saya bisa masak soto Betawi yang asli kalau dipesan dulu."

Dan suara laki-laki yang menjawab: "Insya Allah, Mbak Mela. Saya mampir."

Aku tahu suara itu.

Surya Pratama.