Toko kelontong bukan bisnis yang glamor.

Tidak ada yang foto-foto di depan toko kelontong untuk konten media sosial. Tidak ada yang bikin vlog tentang betapa indahnya pagi hari menghitung stok sabun mandi. Tidak ada inspirational quote tentang perjuangan seorang ibu yang bangun jam lima untuk buka toko sebelum ayam tetangga berkokok.

Tapi toko kelontong bisa menghidupi satu ibu dan satu anak dengan cukup. Dan cukup, dalam kamus Ratna Dewi, sudah lebih dari banyak orang punya.

Aku buka mata jam empat empat puluh lima setiap pagi. Bukan alarm — sudah tidak butuh alarm sejak tahun kedua janda. Tubuh ini sudah punya jadwalnya sendiri. Empat empat puluh lima: bangun. Lima kurang seperempat: salat Subuh. Lima lebih seperempat: bikin sarapan untuk Raka. Lima empat puluh lima: bangunkan Raka. Enam kurang lima: buka toko.

Raka — Andiraka Prasetiyo, dua belas tahun, anak satu-satunya yang kadang lebih cerewet dari pelanggan tapi juga satu-satunya orang yang boleh lihat aku menangis tanpa harus aku jelaskan kenapa.

"Bu, hari ini ada ulangan IPA."

"Sudah belajar?"

"Semalam."

"Semalam itu dari jam berapa sampai jam berapa?"

Jeda yang terlalu panjang.

"Raka."

"Dari jam delapan. Sampai... delapan setengah."

Aku meletakkan sendok nasi di meja dengan bunyi yang cukup keras untuk menyampaikan pesan tanpa harus mengatakannya. Raka mengerti. Ia langsung mempercepat makannya.

"Pulang sekolah langsung ke toko," kataku. "Bantu angkat dus minuman yang datang sore."

"Iya, Bu."

Itu kalimat ketiga kami pagi ini. Biasanya memang tidak banyak. Kami sudah saling mengerti dalam bahasa yang tidak membutuhkan banyak kata.

Jam tujuh pagi, toko sudah buka satu jam dan aku sedang ngelap etalase rokok ketika Kang Wahyu muncul.

Wahyu Santoso. Tiga puluh tujuh tahun. Tidak menikah. Pemilik bengkel motor kecil di ujung gang yang sudah ada sejak sebelum aku pindah ke sini. Rambutnya selalu ada oli di salah satu bagiannya meski sudah mandi. Kemejanya selalu lengan panjang meski cuaca terik. Dan setiap pagi dia singgah beli kopi sachet dua bungkus tanpa pernah menjelaskan kenapa butuh dua.

"Kopi yang biasa, Bu Ratna."

Aku sudah meraih kopi itu sebelum dia selesai bilang. "Lima ribu."

Dia taruh uangnya di meja. Tidak ada kembalian karena dia sudah tahu satu bungkus dua ribu lima ratus, dua bungkus lima ribu pas.

Tapi hari ini dia tidak langsung pergi.

"Bu Ratna sudah kenal sama pemilik warung baru itu?"

Aku menaruh kopi di kantong plastik kecil. "Mela? Sudah."

"Orangnya bagaimana?"

Pertanyaan yang aneh untuk Kang Wahyu yang biasanya tidak banyak bicara. Aku menatapnya sebentar.

"Berisik," jawabku akhirnya.

Kang Wahyu menahan senyum — aku lihat karena sudah sering lihat ekspresi itu. "Ramah maksudnya."

"Berisik."

Dia menerima jawabanku tanpa argumentasi lebih lanjut. Itu yang aku suka dari Kang Wahyu. Tidak pernah memaksakan interpretasinya.

"Ada tamu kemarin ke gang ini," katanya sambil memasukkan dua bungkus kopi ke sakunya. "Mobil hitam. Cukup sering."

"Pak Surya. Katanya pindah ke RT 05."

"RT 05 kompleks perumahan baru itu?"

"Katanya."

Kang Wahyu mengangguk pelan. "Tadi pagi saya lihat dia parkir di depan warung Mbu Mela."

Mbu Mela — panggilan yang entah kapan mulai dipakai orang-orang gang untuk Mela, setengah formal setengah akrab.

"Beli sarapan kali," kataku.

"Dua jam, Bu Ratna."

Aku berhenti ngelap.

"Dua jam parkir di depan warung orang kalau cuma beli sarapan itu lama," lanjut Kang Wahyu. Nada suaranya datar, bukan gosip — lebih ke catatan fakta. "Saya perhatiin dari bengkel."

Aku tidak menjawab. Melanjutkan ngelap etalase.

Kang Wahyu permisi dan pergi ke bengkelnya.

Siang itu Pak Surya datang ke tokoku lagi.

Kali ini dia tidak beli banyak. Hanya minyak goreng satu liter dan gula setengah kilo. Pembelian yang bisa dilakukan di warung manapun, tidak perlu jauh-jauh ke toko kelontong yang lebih besar.

Tapi dia di sini.

"Tadi saya dari warung sebelah," katanya sambil menyerahkan uang. "Masakannya enak. Bu Ratna belum coba?"

"Belum."

"Soto Betawinya bagus." Dia menerima kembalian. "Mbak Mela itu pandai masak."

Aku menutup laci kasir. "Pak Surya asalnya dari mana?"

"Jakarta Selatan. Ke sini karena ada urusan bisnis jangka panjang."

"Bisnis apa?"

Senyumnya muncul — senyum yang terlatih. "Properti. Sedikit-sedikit."

"Sendirian?"

"Sendirian." Dia memasukkan belanjaannya ke tas. "Istri sudah pergi lima tahun lalu."

Aku tidak bertanya lebih lanjut. Bukan urusanku.

Tapi waktu dia keluar dan berjalan ke arah warung Mela — bukan ke mobilnya yang parkir di ujung gang — aku memerhatikannya dari balik etalase.

Ada yang tidak beres.

Aku belum tahu apa. Tapi sesuatu dalam caranya bergerak, cara matanya mengamati gang ini tadi sewaktu masuk, cara dia menyebut nama Mela dengan terlalu akrab untuk orang yang baru kenal beberapa hari — sesuatu itu tidak cocok dengan cerita yang dia berikan.

Seorang perempuan yang empat tahun mengelola bisnis sendiri belajar satu hal: cara membedakan orang yang datang untuk membeli dan orang yang datang untuk menghitung.

Pak Surya datang untuk menghitung.

Pertanyaannya: menghitung apa.

Malamnya aku tidak bisa tidur.

Bukan karena memikirkan Pak Surya — setidaknya bukan hanya itu. Tapi karena Raka pulang dengan nilai ulangan IPA enam koma lima yang langsung ia tunjukkan sebelum aku sempat tanya, wajahnya sudah pasang ekspresi minta ampun sebelum aku buka mulut.

"Bu, tadi soalnya susah banget."

"Enam koma lima itu nilai atau nomor rumah?"

"Bu..."

"Besok belajar dari buku, bukan dari rangkuman teman."

"Iya, Bu."

Aku melihatnya masuk ke kamar. Dua belas tahun, sudah setinggi bahuku, sudah bisa masak nasi sendiri dan cuci piring tanpa disuruh. Tapi masih anak yang sama yang dulu tidur di dadaku waktu bapaknya pergi dan tidak mau makan tiga hari karena tidak mengerti kenapa ayahnya tidak pulang.

Empat tahun. Dan kami masih di sini, masih berdiri.

Nilai enam koma lima bisa diperbaiki. Yang penting anakku baik-baik saja.

Aku mematikan lampu toko, mengunci pintu ganda, dan naik ke lantai dua.

Dari jendela kamarku, aku bisa melihat cahaya lampu di warung Mela yang sudah tutup tapi belum padam. Bayangan seseorang masih bergerak di dalamnya.

Perempuan itu selalu tidur larut.

Aku menarik gorden dan berbaring.

Besok masih ada toko yang harus dibuka.