Surat itu datang tiga hari setelah Pak Surya pertama bertanya soal warungku.
Bukan surat sungguhan — lebih ke amplop kecil yang dititipkan lewat Laras, anakku, waktu dia pulang sekolah dan berhenti di depan warung dengan ekspresi tidak berdosa anak delapan tahun yang belum mengerti implikasi dari apa yang dia bawa.
"Ma, Pak Surya titip buat Mama."
Aku menatap amplop itu. Nama depannya ditulis tangan: *Mbak Mela.*
"Pak Surya mana, Las?"
"Yang mobilnya hitam itu, Ma. Tadi ketemu di jalan pulang sekolah. Baik orangnya."
Baik. Delapan tahun, dan "baik" adalah kriteria penilaian karakter seseorang. Aku mengusap rambut Laras dan menyuruhnya ganti baju dulu.
Di dapur, sambil menunggu nasi matang untuk makan siang kami, aku membuka amplop.
*Mbak Mela, perkenalkan lebih lanjut saya Surya Pratama. Saya bergerak di bidang properti dan pengembangan kawasan. Saya sangat menikmati masakan Mbak Mela dan obrolan-obrolan kita selama ini. Selain sebagai pelanggan, saya juga ingin berbicara tentang peluang bisnis yang saya pikir bisa menguntungkan Mbak Mela. Tidak perlu serius dulu — mungkin kita bisa ngobrol santai sambil makan malam? Saya yang traktir. Nomor saya di bawah ini.*
Aku membaca dua kali.
Lalu melipatnya dan menaruhnya di laci dapur di bawah tumpukan plastik kresek bekas.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena suratnya — atau mungkin karena suratnya juga. Tapi lebih karena sesuatu yang sudah lama ada di kepalaku mulai terasa lebih nyata dan lebih mendesak setelah aku baca surat itu.
Laras butuh biaya SD yang tidak murah meski sekolah negeri. Butuh buku. Butuh seragam baru karena yang lama sudah mulai ketat. Butuh sepatu yang tidak bolong di ujungnya lagi.
Warung itu cukup untuk kami makan dan bayar kontrakan. Tapi cukup itu tipis — selaput yang bisa robek kapan saja kalau ada satu bulan yang tidak baik.
Almarhum Mas Wahid meninggalkan satu hal: sebidang lahan kecil di sisi utara gang ini yang balik namanya baru selesai dua bulan lalu setelah proses surat-menyurat yang menguras energi. Seratus lima puluh meter persegi, panjang dan sempit, berbatasan di satu sisinya dengan jalan raya kecil yang ramai.
Aku tidak tahu mau diapakan lahan itu. Terlalu kecil untuk dibangun ruko. Terlalu strategis untuk dibiarkan kosong.
Dan sekarang ada orang yang mungkin punya jawaban untuk itu.
Tapi sesuatu yang lain juga ada.
Pertanyaan Pak Surya waktu itu — *gang ini kelihatan stabil, tidak banyak perubahan* — itu bukan pertanyaan romantis. Itu pertanyaan survei.
Dan surat yang dia titip lewat anakku — bukan lewat aku langsung, bukan lewat pesan di HP, tapi lewat anak delapan tahun yang mudah disuap dengan kata "baik" — itu cara orang yang sudah menghitung seberapa jauh ia bisa masuk sebelum membuka kartu sebenarnya.
Aku bukan bodoh.
Mas Wahid dulu bilang aku terlalu mudah percaya. Satu tahun sendirian mengurus warung dan anak sudah sedikit mengobati kelebihan percaya itu.
Tapi juga belum cukup untuk tahu harus melakukan apa sekarang.
Pagi berikutnya, sebelum buka warung, aku duduk di teras dengan secangkir teh dan memperhatikan Gang Melati bangun.
Jam enam kurang, Pak Asep sudah buka kios sayurnya. Kang Wahyu terdengar dari ujung gang — suara kunci-kuncinya beradu sebelum bengkelnya buka. Bu Lastri gorengan muncul dengan gerobak dari arah timur.
Dan Toko Dewi — toko kelontongnya Bu Ratna — lampunya sudah menyala sejak setengah jam lalu.
Aku menatap toko itu.
Bu Ratna. Perempuan paling tidak ramah yang pernah kutemui dalam hidup, tapi juga perempuan yang paling konsisten dalam satu hal: tidak pernah berbohong, tidak pernah basa-basi. Kalau dia tidak suka, kamu tahu. Kalau dia setuju, kamu tahu. Tidak ada ruang untuk interpretasi yang salah.
Aku tidak suka Bu Ratna. Aku juga tidak tidak suka Bu Ratna.
Aku hanya belum menemukan kategoriku untuk dia.
Tapi kemarin siang, ketika dia makan soto di mejaku untuk pertama kalinya dan bertanya *Pak Surya sering ke sini?* dengan cara yang terlalu tidak santai untuk pertanyaan santai — aku merasa ada sesuatu yang kami berdua sedang perhatikan dari sisi yang berbeda.
Sesuatu yang sama.
Pak Surya datang jam delapan pagi.
Masuk dengan senyum yang aku mulai hafal — senyum yang selalu muncul persis sebelum dia mengatakan sesuatu yang ingin dia katakan sejak tadi.
"Mbak Mela." Dia duduk di mejanya yang biasa. "Sudah baca suratnya?"
"Sudah."
"Bagaimana?"
Aku menyajikan soto dan duduk di kursi seberangnya — yang tidak biasa kulakukan, aku biasanya berdiri. Tapi kali ini aku ingin sejajar.
"Saya mau tanya dulu, Pak."
Dia mengangguk. Tidak terburu-buru.
"Bapak bilang properti dan pengembangan kawasan. Yang Bapak kembangkan di sini itu apa?"
"Akses jalan." Dia menjawab langsung — lebih langsung dari yang kukira. "RT 05 sedang dalam proses negosiasi untuk perluasan jalan masuk. Salah satu opsi lewat gang ini. Kalau ada lahan yang bisa dibebaskan di sepanjang gang, nilainya bisa sangat bagus."
"Berapa bagus?"
Dia menyebutkan angka.
Aku diam.
Angka itu dua setengah kali dari taksiran harga pasar yang pernah ada yang tawarkan kepadaku sebelumnya.
"Itu estimasi yang bisa saya fasilitasi," lanjutnya. "Tapi butuh beberapa pemilik lahan yang mau. Satu tidak cukup."
Satu tidak cukup.
Artinya ada yang lain yang dia dekati juga.
"Siapa yang lain?" tanyaku.
Dia tersenyum tipis. "Belum bisa saya sebutkan sebelum ada kesepakatan informal dari masing-masing pihak."
Aku menatapnya beberapa detik.
Lalu aku berdiri, mengambil mangkuk sotonya yang belum disentuh, dan membawa kembali ke dapur.
"Maaf, Pak. Soto saya masih harus saya panasin dulu. Sebentar ya."
Di dapur, berdiri di depan kompor yang tidak menyala, aku menarik napas dalam-dalam.
*Satu tidak cukup.*
Bu Ratna juga punya lahan di belakang gang ini. Aku tahu karena pernah lihat sertifikat tanahnya waktu dia tidak sengaja jatuh dari map di toko bulan lalu dan aku bantu pungut. Nama di sertifikat itu: *Bram Andiraka* — nama yang sama dengan nama anak Bu Ratna, dan di bawahnya ada keterangan hak waris.
Pak Surya mendekati kami berdua.
Bukan kebetulan. Ini terencana.
Aku menyalakan kompor. Memanaskan soto.
Dan memutuskan satu hal: sebelum aku jawab apapun ke Pak Surya, aku perlu bicara dengan Bu Ratna.
Entah perempuan itu mau atau tidak.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar