Jujur saja, aku tidak pernah berniat bikin masalah dengan Bu Ratna.

Waktu pertama pindah ke Gang Melati setahun lalu dan buka warung makan di bangunan kontrakan yang sudah bobrok ini, aku pikir tetangga-tetangga di gang ini baik-baik saja. Pak Asep kios sayuran mau ngajarin aku negosiasi sama supplier. Bu Lastri yang jualan gorengan mau berbagi resep bumbu soto. Kang Wahyu bengkel mau memperbaiki kompor gasiku yang rusak tanpa minta bayar.

Tapi Bu Ratna.

Bu Ratna adalah kategori tersendiri.

Hari pertama aku taruh keranjang sayur di depan tokonya sambil nunggu Pak Asep buka, aku sudah permisi dan dia menjawab dengan tatapan yang rasanya seperti dicek sama auditor pajak. Hari ketiga aku minta pinjam timbangan, dia minta sewa. Lima ribu sehari. Untuk timbangan.

Aku bayar karena memang butuh. Tapi sambil berjalan kembali ke warung dengan timbangan di tangan, aku berdoa dalam hati semoga Pak Asep segera beli timbangan baru untuk kiosnya supaya aku bisa pinjam dari sana saja.

Tapi lama-lama aku mulai mengerti.

Bukan mengerti dalam arti setuju — tapi mengerti dalam arti paham kenapa dia jadi seperti itu. Empat tahun jadi janda, satu anak, toko yang dia kelola sendiri dari nol. Orang yang sudah terbiasa bergantung pada diri sendiri tidak mudah percaya bahwa bantuan orang lain tidak ada harganya.

Aku juga janda. Bedanya baru satu tahun. Bedanya lagi aku masih di fase percaya bahwa dunia pada dasarnya baik.

Mungkin kalau empat tahun lagi aku masih di sini, aku juga akan minta sewa timbangan.

Warung makanku kecil. Delapan meja, masing-masing empat kursi, dan dapurnya lebih besar dari ruang makannya karena aku lebih suka masak dengan lega daripada melayani dengan banyak tempat.

Menu tidak banyak: soto Betawi, nasi uduk, nasi kuning untuk sarapan. Siang ada nasi campur dengan lauk bergilir. Sore tutup, kecuali kalau ada pesanan.

Almarhum Mas Wahid selalu bilang masakanku lebih baik dijual daripada disimpan sendiri. Waktu dia masih ada, itu cuma bercanda — dia pekerja kantoran dengan gaji yang cukup dan aku tidak perlu jualan. Setelah dia pergi karena penyakit yang datang tiba-tiba dan pergi lebih cepat dari yang siap kami hadapi, bercanda itu jadi satu-satunya modal yang kupunya.

Masakanku dan keberanian untuk memulai.

Dua hal yang ternyata cukup untuk bertahan satu tahun pertama.

Pak Surya datang pertama kali hari Kamis, jam delapan pagi, ketika aku sedang beresin sisa sarapan dan berpikir apa yang harus kuganti di menu makan siang.

Dia memesan soto Betawi dan nasi uduk, dan makan dengan cara yang tidak terburu-buru — cara makan orang yang punya waktu dan tidak sedang mengejar apapun. Kebanyakan pelangganku makan cepat, berdiri kalau perlu, karena ini gang perkerja, bukan tempat orang berlibur.

Tapi Pak Surya duduk, makan pelan, dan mengamati sekitarnya.

"Sudah lama buka di sini?" tanyanya setelah selesai makan.

"Setahun."

"Ramai?"

"Cukup." Aku membersihkan mejanya. "Bapak baru pindah ke sini?"

"Baru. RT 05 kompleks baru itu." Dia membayar. "Masakannya enak. Saya mampir lagi."

"Silakan."

Dia pergi. Dan kembali keesokan harinya. Lalu hari berikutnya. Lalu menjadi seminggu dua kali, lalu hampir setiap hari.

Aku tidak keberatan. Dia pelanggan yang baik — tidak cerewet soal menu, tidak minta diskon, tidak minta dilayani sebelum orang lain selesai dilayani. Dia datang, makan, bayar, dan pergi.

Tapi lama-lama aku perhatikan: dia tidak pernah terburu-buru pergi.

Selalu ada obrolan kecil setelah makan. Tentang warung. Tentang masakan. Tentang gang ini. Tentang aku.

"Mbak Mela tinggal di sini sendiri?"

"Sama anak saya, Bapak. Laras, delapan tahun."

"Suami...?"

"Sudah meninggal setahun lalu."

"Maaf." Dan cara dia bilang maaf tidak terasa basa-basi — terasa seperti orang yang mengerti arti kehilangan. "Saya juga sudah sendiri lima tahun."

Aku tidak bertanya bagaimana. Dia tidak cerita lebih lanjut. Dan obrolan berhenti di sana, di garis yang nyaman antara kenal dan tidak terlalu kenal.

Yang membuatku mulai berpikir adalah malam Jumat ketika dia datang lagi padahal warung sudah hampir tutup.

Biasanya aku tidak melayani tamu setelah jam tujuh. Tapi dia datang jam tujuh kurang sepuluh, wajahnya kelihatan lelah dengan cara yang tidak biasa, dan sebelum aku sempat bilang sudah mau tutup, dia sudah duduk di meja pojok dan menatap menu yang sudah kuhafal isinya.

"Masih buka, Mbak Mela?"

"Sebentar lagi tutup. Tapi saya masih bisa masak satu porsi."

Dia tersenyum. "Terima kasih."

Aku masak. Dia duduk diam sambil menatap ke luar lewat jendela. Ketika makanan datang dan aku tidak langsung ke dapur tapi malah membereskan meja di sebelahnya, dia bicara.

"Mbak kenal betul sama gang ini?"

"Lumayan. Kenapa, Pak?"

"Tidak." Dia menyendok kuah soto. "Saya penasaran aja. Gang ini kelihatan... stabil. Tidak banyak perubahan."

Kalimat yang aneh untuk ditanyakan ke penjual soto.

"Stabil bagaimana, Pak?"

"Penghuninya. Sudah lama di sini semua?"

Aku berhenti mengelap meja. Menatapnya. Lalu tersenyum biasa dan menjawab biasa.

"Ada yang lama, ada yang baru. Saya sendiri baru setahun. Bu Ratna toko kelontong sudah empat tahun. Yang paling lama mungkin Kang Wahyu bengkel, sudah belasan tahun katanya."

Dia mengangguk. Melanjutkan makan.

Tapi pertanyaannya menempel di kepalaku sampai setelah dia pergi dan aku kunci pintu warung dan duduk sendirian di dapur.

Kenapa orang yang baru pindah ke kompleks bertanya soal stabilitas penghuni sebuah gang?

Bukan pertanyaan orang yang mau beli soto.

Pertanyaan orang yang mau beli sesuatu yang lebih dari soto.