Kos-kosan Reza sederhana — dua lantai, enam kamar, halaman kecil di depan dengan pohon mangga yang kata Reza "tidak pernah berbuah tapi bagus untuk fotonya".

Kamar nomor tiga di lantai bawah: tujuh meter persegi, jendela menghadap taman, kamar mandi dalam yang sempit tapi bersih. Ada meja kayu kecil dan lemari yang salah satu pintunya perlu diangkat dulu baru bisa dibuka.

"Maaf ya agak apa adanya," kata Reza di ambang pintu.

"Ini bagus." Aku sungguhan. "Terima kasih."

Reza berdiri di sana dengan tangan di saku celana, matanya sedikit mengkhawatirkan. "Kamu baik-baik saja, Ninda?"

"Baik."

"Kelihatannya tidak."

"Reza—"

"Oke oke, tidak aku paksa." Ia melangkah mundur. "Mie ayamnya nanti ya, warungnya tutup siang."

Aku mengangguk. Berjalan ke jendela. Membuka tirai.

Dari jendela ini terlihat halaman kecil itu — pohon mangga yang tidak pernah berbuah itu, dan di baliknya jalan gang yang sesekali dilewati motor dan anak-anak bermain.

Jauh dari rumah Bapak. Tapi mungkin itu yang dibutuhkan sekarang.

Aku duduk di tepi ranjang. Mengeluarkan ponsel. Mengirim pesan ke Dinda:

*Aku sudah lihat tempat tinggal baru. Tidak apa-apa. Kamu hati-hati ya di sana.*

Dinda membalas cepat: *Kak Ninda maafin Dinda ya. Dinda tidak bisa apa-apa.*

*Kamu tidak salah, Dinda. Fokus kuliah.*

Aku menyimpan ponsel. Menatap kamar kecil itu.

Ini bukan rumah Bapak. Tapi ini ruangku sendiri — tidak ada siapapun yang bisa menyuruhku pergi dari sini.