Bu Lastri mengetuk pintu kamarku jam delapan malam.

Perempuan enam puluh tahun itu sudah seperti ibu kedua — rumahnya persis di sebelah, pagarnya hampir menyatu dengan pagar kami, dan selama dua tahun terakhir ia sering mengirimi Bapak sayur sop dan bubur karena "kasihan sama yang sakit".

"Ninda, tadi Bu Lastri dengar." Ia berbicara langsung setelah aku membuka pintu. "Mas Bagus minta kamu pergi?"

Aku mengangguk.

Bu Lastri menghela napas panjang — napas orang yang sudah menduga tapi tetap kecewa ketika dugaannya terbukti. "Masuk dulu ke Bu Lastri. Ada teh manis."

Di dapur Bu Lastri yang kecil dan selalu berbau jahe, aku duduk di kursi plastik dan menerima gelas teh panas yang terlalu manis tapi terasa seperti pelukan.

"Kamu mau ke mana kalau benar jadi pindah?" tanya Bu Lastri.

"Belum tahu."

"Ada teman yang bisa diminta tolong?"

Aku memikirkan sebentar. Ada Reza — teman SMA yang punya kos-kosan di daerah Dinoyo. Kami masih sering balas pesan, tidak terlalu dekat tapi juga tidak jauh.

"Ada satu," jawabku.

"Kamu punya tabungan?"

"Sedikit. Cukup untuk dua tiga bulan."

Bu Lastri mengangguk. Meniup teh panasnya. "Ninda, Bu Lastri mau bilang sesuatu. Boleh?"

"Boleh, Bu."

"Kamu anak yang paling mirip sama Bapakmu. Bapakmu itu orangnya sabar, tidak banyak bicara, tapi segala sesuatunya dipikir matang." Bu Lastri menatapku. "Bapakmu tidak mungkin tidak mikirin kamu sebelum pergi."

Aku menahan napas.

"Bu Lastri tidak tahu apa yang Bapakmu tinggalkan. Tapi Bu Lastri yakin dia tidak lupa sama kamu."

Amplop cokelat tua di laci meja kamarku tiba-tiba terasa lebih berat dari sebelumnya.