Aku menelepon Reza keesokan paginya.
"Halo? Ninda?" Suaranya heran — kami memang jarang telepon.
"Reza, aku butuh tolong sesuatu."
"Bilang aja."
"Kamar kosmu ada yang kosong tidak?"
Hening dua detik. "Ada. Kenapa?"
Aku menceritakan semuanya dengan singkat — Bapak meninggal, Mas Bagus minta aku pindah bulan depan, aku perlu tempat tinggal sementara yang tidak terlalu jauh dari klinik tempat aku kerja.
Reza diam cukup lama. "Ninda, kamu tidak perlu bayar dulu."
"Reza—"
"Serius. Kos-kosanku ada kamar yang kosong dua bulan. Kamu masuk dulu, bayarnya nanti kalau kamu sudah settle."
"Aku tidak mau—"
"Ninda." Suaranya tegas tapi hangat. "Kita teman dua belas tahun. Jangan lebay."
Aku tertawa kecil — tawa yang agak aneh karena situasinya tidak lucu tapi tawanya keluar juga.
"Terima kasih, Reza."
"Kapan mau lihat kamarnya?"
"Besok sore kalau bisa."
"Oke. Aku traktir mie ayam sekalian."
Aku meletakkan ponsel. Keluar dari kamar menuju dapur untuk masak sarapan — rutinitas yang tidak berubah meski segalanya di sekitar sedang berubah.
Di ruang tamu, Mas Bagus dan Mbak Reni sudah sarapan dengan lauk yang aku masak tadi malam, dengan ekspresi orang-orang yang merasa semua sudah beres.
Aku memasak telur dadar untuk diri sendiri. Duduk di dapur. Makan sendirian.
Dan memikirkan langkah berikutnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar