Aku masuk ke kamar. Menutup pintu.
Duduk di tepi ranjang yang sudah aku tiduri sejak SMP — ranjang dengan cat besi yang mulai terkelupas dan bantal yang tidak pernah diganti karena tidak ada anggaran untuk itu.
Dua tahun.
Dua tahun aku merawat Bapak sendirian. Sakit jantung yang pertama kali muncul waktu Mas Bagus sudah lama di Jakarta dan Dinda baru masuk kuliah. Aku yang membawa Bapak ke dokter pertama kali karena Bapak tiba-tiba sesak napas malam hari. Aku yang belajar cara membaca hasil EKG dari YouTube supaya bisa jelaskan ke Bapak tanpa membuat Bapak panik. Aku yang mengatur jadwal minum obat, memastikan Bapak tidak makan makanan yang dilarang, memijat kakinya yang sering kram malam hari.
Mas Bagus tahu semua ini. Aku lapor setiap bulan via WhatsApp. Ia membalas dengan "oke" dan "makasih ya Nda" dan sesekali mentransfer uang yang tidak pernah cukup tapi aku tidak pernah protes.
Sekarang Bapak pergi. Dan Mas Bagus datang dengan segala "tanggung jawab anak sulung"-nya untuk mengklaim apa yang tidak pernah ia jaga.
Ponselku bergetar. Pesan dari Dinda:
*Kak Ninda, tadi aku dengar obrolan Mas Bagus sama Mbak Reni dari kamar. Maaf ya Kak. Aku tidak berani bilang apa-apa.*
Aku mengetik balasan: *Tidak apa-apa, Dinda. Tidur ya.*
Kemudian aku membuka laci meja. Di balik tumpukan buku lama, ada satu amplop cokelat tua yang Bapak titipkan padaku setahun lalu.
"Ninda," Bapak berkata waktu itu, suaranya sudah mulai pelan karena napas yang tidak sempurna, "simpan ini. Jangan dibuka dulu. Nanti kamu tahu kapan waktunya."
Aku memegang amplop itu. Tidak membukanya.
Belum waktunya.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku bertanya-tanya apakah waktunya sudah dekat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar