Empat puluh hari setelah Bapak meninggal, aku diusir dari rumahku sendiri.

Bukan dengan kata-kata kasar. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada yang membanting pintu. Mas Bagus menyampaikannya seperti laporan meeting — duduk di kursi ruang tamu yang dulu selalu jadi tempat duduk Bapak, dengan tangan disilangkan di dada, dan berkata:

"Ninda, Mas pikir sudah waktunya kamu cari tempat sendiri."

Aku berdiri di ambang pintu dapur, masih memegang lap basah yang baru aku pakai membersihkan kompor.

"Maksud Mas?"

"Rumah ini perlu diurus dengan baik. Mas dan Reni akan pindah ke sini bulan depan."

Di sofa sudut, Mbak Reni duduk dengan tangan di pangkuan dan senyum yang tidak pernah berhasil aku definisikan — bukan ramah, bukan dingin, tapi sesuatu di antara keduanya yang selalu membuatku waspada.

"Kamu kan sudah kerja, Ninda," kata Mbak Reni dengan nada yang terdengar seperti mendukung tapi rasanya seperti mendorong. "Sudah bisa mandiri. Bagus kan?"

Aku menatap Mas Bagus. Kakakku yang dua tahun terakhir hanya pulang tiga kali — Lebaran, waktu Bapak kritis pertama, dan waktu Bapak meninggal. Kakakku yang tidak pernah sekalipun menggantikanku jaga malam di rumah sakit. Kakakku yang kini duduk di kursi Bapak seolah posisi itu memang sudah ditakdirkan untuknya.

"Ini rumah Bapak," kataku pelan.

"Iya. Dan Mas anak sulung. Tanggung jawab rumah ini ada di Mas." Nadanya tidak berubah. Seperti membacakan aturan yang memang sudah tertulis. "Kamu tidak perlu khawatir. Mas tidak minta kamu keluar sekarang. Bulan depan saja."

Lap basah di tanganku terasa semakin berat.

Empat puluh hari.

Bapak baru empat puluh hari pergi, dan sudah ada yang menghitung siapa yang perlu angkat kaki.