Selama tiga hari setelah insiden lagu itu, gue mutusin satu hal: gue bakal jadi profesional paling profesional yang pernah ada. Gue bakal kerja kayak robot. Gue bakal datang, eksekusi, pulang. Gue nggak akan natap Raga lebih lama dari yang dibutuhin buat ngomongin alur pembayaran.
Rencana yang bagus. Selama dua belas jam.
Lalu hari Kamis pagi, gue datang ke kantor dengan tiga laporan yang harus gue rapihin sebelum siang, kepala yang masih nyut-nyutan karena begadang, dan tas yang isinya kayak gue mau pindah rumah — dan gue nemu ada orang yang udah naruh kopi di meja gue.
Bukan kopi, tepatnya. Teh. Teh melati, masih anget.
Gue belum sempet bingung pas seorang cowok jangkung dengan kemeja rapi dan senyum yang gampang nyamperin meja gue.
"Sori, gue agak sok tau," dia bilang. "Sintia bilang lo tim teh, bukan tim kopi. Gue Dewa, Head of Growth. Kita belum sempet kenalan resmi."
"Kayla." Gue ngangkat gelas teh itu, agak kikuk. "Makasih. Lo nggak harus—"
"Gue tau." Dia ketawa, ringan, nggak maksa. "Tapi minggu pertama di tempat ini berat. Gue inget minggu pertama gue — gue sampe mikir mau resign hari ketiga. Jadi anggep aja ini... solidaritas korban."
Gue ketawa. Beneran ketawa, bukan ketawa sopan. "Seberapa banyak korban yang udah jatuh?"
"Lo nggak mau tau angkanya." Dia narik kursi kosong, duduk dengan jarak yang pas — nggak terlalu deket, nggak bikin gue risih. "Tapi lo beda. Gue denger lo balik ngomong ke Raga hari pertama. Itu legendaris. Orang masih ngomongin."
"Gue cuma ngomongin alur pembayaran," gue bilang.
"Iya, tapi di sini, ngomongin alur pembayaran ke Raga itu setara nantang naga di sarangnya." Dewa nyengir. "Most people just nurut. Atau ngambek diam-diam. Lo enggak. Refreshing."
—
Gini soal Dewa: dia gampang.
Bukan gampang yang dangkal. Tapi gampang yang lega. Ngobrol sama dia kayak jalan di tanah datar setelah seminggu mendaki. Dia dengerin pas gue ngomong. Dia inget hal-hal kecil — hari berikutnya dia nanya soal laporan yang gue keluhin, dan dia inget namanya. Dia nawarin bantuin gue ngerti dinamika tim tanpa bikin gue ngerasa kayak orang baru yang bego.
"Itu si Andra, jangan kasih dia deadline hari Senin, dia paling lemot abis weekend," dia bisikin pas meeting. "Yang itu Mira, dia diem tapi idenya paling tajam, pancing dia ngomong. Dan kalau lo butuh sesuatu di-approve cepet sama Bram, samperin dia sebelum jam sebelas — abis itu fokusnya udah ke mana-mana."
Semua info yang butuh berbulan-bulan buat gue kumpulin sendiri, dia kasih dalam seminggu. Tanpa pamrih. Tanpa nunggu gue minta.
Suatu siang, pas gue keteteran ngejar dua deadline sekaligus, dia muncul bawa dua kotak makan. "Gue pesen kebanyakan," dia bilang, yang gue tau bohong, tapi bohong yang baik. Kita makan di pojok pantry sambil dia cerita soal kenapa dia masuk dunia growth — bukan karena suka angka, tapi karena suka liat sesuatu yang bagus akhirnya nyampe ke orang yang butuh. Gue dengerin, dan gue sadar gue nggak sekali pun ngecek HP. Itu jarang. Itu, sama gue, hampir nggak pernah.
Dan gue mikir — gue beneran mikir, di tengah teh melati anget dan obrolan yang nggak bikin jantung gue kerja lembur — *kenapa nggak yang kayak gini aja, sih.*
Kenapa otak gue ngotot nyimpen satu cowok yang ngilang dua tahun lalu, pas ada cowok di depan gue yang muncul tiap hari, yang inget gue suka teh, yang nggak bikin gue harus jaga-jaga tiap detik?
Logika bilang: pilih yang gampang.
Sayangnya, gue udah lama tau hati gue nggak punya akses ke departemen logika.
—
Jumat sore, gue lagi rapihin meja pas Dewa lewat, berhenti.
"Eh, Kay. Boleh nanya nggak sok tau?"
"Tergantung seberapa sok taunya."
Dia senyum. "Lo keliatan capek. Bukan capek kerjaan — itu wajar di sini. Tapi capek yang... entahlah. Kayak ada yang lo pikirin terus."
Gue beku sedikit. Karena dia bener, dan gue benci dia bener, dan gue benci betapa gampangnya dia baca gue padahal kita baru kenal seminggu.
"Cuma adaptasi," gue bilang. "Tempat baru. Banyak yang harus dicerna."
"Fair." Dia ngangguk, nggak maksa, dan itu yang bikin dia beda — dia tau kapan harus berhenti. Dia nggak ngorek. Dia nggak masang muka kasian. Dia cuma nerima jawaban gue apa adanya, dan anehnya, justru itu yang bikin gue pengen cerita lebih. "Tapi seriusan. Kalau butuh ngobrol di luar kerjaan, gue ada. Nggak harus soal kerjaan. Kadang otak butuh ngomong sama orang yang nggak bawa-bawa Slack."
Sederhana. Tulus. Tanpa agenda yang gue bisa cium.
Dan untuk sesaat, gue ngerasa hal yang udah lama nggak gue rasain: ngerasa aman buat dilihat.
"Makasih, Dewa," gue bilang, dan gue beneran maksudin. "Gue inget itu."
Dia senyum, ngetuk meja gue pelan, lalu jalan pergi.
—
Gue ngangkat tas gue, mau pulang, pas gue ngerasa ada yang ngeliatin.
Gue nengok.
Raga.
Dia di mejanya di ujung ruangan, tangan masih di keyboard, tapi matanya nggak di layar. Matanya di gue — atau lebih tepatnya, di tempat Dewa baru aja berdiri, di teh melati yang masih setengah di meja gue, di seluruh adegan kecil yang barusan kejadian.
Ekspresinya susah dibaca. Tapi gue liat satu hal jelas, satu hal yang nggak bisa dia sembunyiin secepat dia matiin lagu itu kemarin:
Rahangnya ngencang.
Cuma sebentar. Lalu dia balik ke layarnya, ngetik lagi, kayak nggak ada apa-apa.
Tapi gue udah liat.
Dan sambil jalan ke lift, dengan tas berat di pundak dan kepala yang lebih berat lagi, gue ketawa kecil — ketawa yang nggak ada lucu-lucunya, ketawa orang yang baru sadar dia kejebak di sesuatu yang jauh lebih ribet dari yang dia kira.
*Cowok yang dua tahun pura-pura nggak inget gue,* gue mikir, *kok sekarang keliatan kayak nggak suka liat gue diperhatiin orang lain.*
Atau mungkin gue yang ngarang. Mungkin itu cuma rahang orang yang lagi mikirin bug di kode, dan gue, dasar otak yang kebanyakan ngarep, ngeliat sesuatu yang nggak ada. Itu lebih masuk akal. Itu lebih aman. Gue maksa diri gue percaya versi yang itu.
Lift-nya kebuka. Gue masuk.
*We're not doing this,* gue ingetin diri sendiri, untuk kesekian ribu kali.
Tapi kali ini, bahkan gue sendiri udah nggak yakin gue percaya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar