Hari Rabu, jam 9.47 pagi, fitur pembayaran yang udah gue habisin tiga hari buat dokumentasiin — tiba-tiba berubah total.


Gue tau karena Sintia muncul di samping meja gue dengan wajah orang yang baru aja liat kecelakaan.


"Kay. Lo udah buka staging hari ini?"


Gue belum. Gue buka. Dan gue ngerasain sesuatu yang dingin merayap dari ubun-ubun ke tulang ekor.


Seluruh alur pembayaran yang gue rancang — yang udah gue setujuin sama tim, yang udah gue tulis rapi di dokumen sehalaman yang bikin Raga ngejek itu di all-hands — udah nggak ada. Diganti. Tombolnya pindah, langkahnya beda, satu konfirmasi penting yang gue tambahin biar user nggak salah transfer... dihapus.


Gue cek log-nya. Satu nama. Satu deploy. Tadi subuh, jam 3.12 pagi.


*Raga Wisesa.*


Tiga belas menit setelahnya, ada commit kedua. *"Bikin lebih clean."* Itu pesan commit-nya. Tiga kata. Seakan dia lagi nge-rapihin laci sendiri, bukan ngerombak alur yang nyangkut nyawa transaksi orang. Gue scroll ke bawah, nyari diskusi, nyari satu pun jejak bahwa dia nanya ke seseorang sebelum ngelakuin ini.


Nggak ada. Tentu aja nggak ada.


Gue tutup laptop pelan-pelan. Karena Kayla Hardiman nggak gebrak meja. Kayla Hardiman tarik napas, ngitung sampai tiga, lalu nyari orang yang harus dia ajak ngomong.


Raga lagi di pantry, nuangin kopi, kaos kusut yang sama kayak kemarin — yang artinya dia mungkin nggak pulang.


"Lo ganti alur pembayaran," gue bilang. Datar. Nggak ada tanda tanya, karena ini bukan pertanyaan.


Dia nengok, masih ngantuk. "Oh. Iya. Yang lama kebanyakan langkah. Gue pangkas. Sekarang tiga tap, bukan lima. Faster."


"Tanpa ngomong ke siapa-siapa."


"Gue ngomong ke kode." Dia nyengir, ngira itu lucu. "Hasilnya kelihatan kok di staging, lo bisa—"


"Lo hapus langkah konfirmasi." Suara gue naik satu tingkat. Cuma satu. "Yang bikin user nggak salah transfer ke nomor yang salah. Yang gue tambahin justru karena tim support bilang itu komplain nomor satu mereka."


Jeda. Gue liat dia mulai ngeh.


"...Oh."


"Iya. *Oh.*"


Dia naruh kopinya. "Oke, gue nggak tau soal data support itu. Tapi tetep, lima langkah itu kebanyakan, Kay. User-nya kabur sebelum—"


"Dan tiga langkah itu bikin mereka kirim duit ke orang yang salah, terus nyalahin kita, terus nge-uninstall, terus nulis review bintang satu yang bakal dibaca investor lo." Gue maju selangkah. "Lo nggak motong langkah, Ga. Lo motong jaring pengaman, terus nyebutnya kecepatan."


Pantry hening. Gue baru sadar dua orang engineer di sudut udah berhenti pura-pura nggak nguping.



Inilah yang nggak ada yang ceritain ke lo soal berdebat sama orang yang lebih pinter dari rata-rata: yang bikin capek bukan karena mereka selalu bener. Yang bikin capek karena mereka kebiasaan bener, jadi pas mereka salah, otak mereka butuh waktu ekstra buat percaya itu mungkin.


Gue bisa liat itu kejadian di muka Raga sekarang. Pertarungan kecil antara ego dan logika.


"Oke," dia bilang akhirnya, pelan. "Konfirmasinya gue balikin. Tapi gue tetep mau pangkas dua langkah lain. Yang itu beneran nggak perlu."


"Bawa ke gue dulu sebelum lo deploy. Itu aja yang gue minta."


"Itu yang lo sebut dokumen sehalaman."


"Itu yang gue sebut nggak ngancurin kerjaan tim sendiri jam tiga pagi."


Dia natap gue. Lama. Dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu di tatapan itu yang nggak nyambung sama debat soal alur pembayaran — sesuatu yang lebih tua, lebih dalam, kayak dia lagi nyari sesuatu di muka gue dan nggak nemu, atau nemu, gue nggak bisa baca yang mana.


Lalu dia ngalihin pandangan. "Fine. Gue balikin sekarang."



Gue pikir itu selesai. Tapi pas gue balik ke meja, dia ngikutin gue, nyandar ke pembatas kubikel gue dengan kopi di tangan.


"Lo selalu se-*intens* ini?" dia nanya. Bukan nyolot. Lebih ke... penasaran.


"Cuma kalau ada yang ngebongkar kerjaan gue diam-diam, iya."


"Hm." Dia minum kopinya. "Lo tau, kebanyakan orang baru bakal diem dulu sebulan. Ngangguk-ngangguk, cari aman, baru berani ngomong."


"Gue bukan kebanyakan orang."


"Iya," dia bilang, dan ada sesuatu yang lirih di cara dia bilangnya. "Gue mulai sadar."


Gue nggak nengok dari layar. Karena kalau gue nengok, dia mungkin liat sesuatu yang gue nggak mau dia liat. *Dia nggak inget,* gue ingetin diri sendiri, kayak mantra. *Buat dia, ini pertama kalinya dia kenal lo. Jangan jadi orang yang masih nyimpen luka dari hal yang dia bahkan nggak tau pernah terjadi.*


"Anyway." Raga ngetuk pembatas kubikel dua kali, mau pergi. Lalu dia berhenti. "Lo selalu se-*uptight* ini," dia nanya, dan kali ini ada senyum miring di sudut bibirnya, "atau cuma ke gue?"


Dan di situ — di antara kalimat itu dan jawaban gue — ada celah selebar dua tahun.


Karena gue *hampir* bilangnya. *Cuma ke lo.* Gue ngerasain kata-kata itu udah di ujung lidah, ringan dan jujur dan jauh lebih banyak makna daripada yang dia tau. *Cuma ke lo, karena lo satu-satunya orang yang pernah bikin gue ngerasa dimengerti terus ngilang. Cuma ke lo, karena tubuh gue masih inget tangan lo walau lo nggak inget muka gue. Cuma ke lo, selalu cuma ke lo.*


Gue nelen kata-kata itu bulat-bulat.


"Ke semua orang yang ngerusak kerjaan gue," gue bilang akhirnya, masih natap layar. "Lo cuma kebetulan yang pertama."


Raga ketawa kecil — ketawa yang gue inget, ketawa yang dua tahun gue coba lupain — lalu dia jalan pergi.


Gue tunggu sampai dia cukup jauh. Lalu gue tutup mata, satu tarikan napas panjang, dan gue buka file dokumentasi gue lagi.


Di pojok layar, notif Slack masuk. Dari dia.


**Raga:** konfirmasinya udah gue balikin. dua langkah lain gue tahan dulu, nungguin lo. 🫡

**Raga:** dan Kay—

**Raga:** lo bener.


Gue natap tiga kata terakhir itu lama banget.


*Lo bener.*


Dua kata yang, gue yakin, jarang banget keluar dari Raga Wisesa. Dan gue benci — gue benci banget — betapa gue harus nahan senyum buat tiga kata itu.


*We're not doing this,* gue ingetin diri sendiri lagi.


Tapi jari gue, di luar perintah otak, udah ngetik balasan.


**Kayla:** jangan kebiasaan.


Titik tiga muncul. Ilang. Muncul lagi.


**Raga:** no promises.


Gue tutup laptop. Hari ketiga. Dan gue udah tau, dengan keyakinan yang bikin perut gue dingin, bahwa tiga bulan ke depan bakal jadi tiga bulan terpanjang dalam hidup gue.


Yang gue nggak tau — yang belum gue izinin diri gue tau — adalah bahwa "terpanjang" nggak selalu berarti "terburuk".