Lagu itu mulai dari speaker kantor jam 4 sore, dan gue lupa cara bernapas.
Gue lagi di tengah ngetik balasan email ke tim support pas nada pembukanya masuk — piano pelan, lalu suara perempuan yang nyanyi kayak lagi cerita rahasia. Tiga detik. Cuma butuh tiga detik buat tubuh gue inget sesuatu yang udah dua tahun gue suruh otak gue lupain.
Gue kenal lagu ini.
Bukan kenal yang "oh, pernah denger". Tapi kenal yang nempel di tulang. Lagu yang gue hapus dari semua playlist gue, yang gue skip tiap kali muncul random di radio, yang gue larang diri gue dengerin karena tiap nadanya bawa satu wajah, satu malam, satu kesalahan.
Dan gue tau persis dari mana lagu ini datang.
—
Dua tahun lalu, gue benci acara itu sebelum gue masuk pintunya.
Networking. Kata yang bikin gue gatel. Sekumpulan orang dengan name tag, saling tuker kartu nama yang besok bakal masuk tempat sampah, ketawa terlalu keras buat lelucon yang nggak lucu. Gue cuma datang karena bos lama gue maksa, dan gue udah ngerencanain buat kabur dalam empat puluh lima menit.
Lalu gue liat dia.
Seorang cowok, nyender di pojok bar, megang gelas yang isinya udah nggak dia sentuh, ngeliatin kerumunan dengan ekspresi yang gue kenal banget karena itu ekspresi gue sendiri — seseorang yang lagi ngitung mundur menuju momen pas dia boleh pulang.
Gue nggak tau apa yang ngedorong gue jalan ke arahnya. Mungkin bosen. Mungkin solidaritas sesama orang yang kepaksa hadir. Mungkin sesuatu yang lebih tua dan lebih bodoh dari dua-duanya.
"Lo ngitung juga?" gue nanya, berdiri di sampingnya.
Dia nengok, agak kaget. "Ngitung apa?"
"Sampai boleh pulang."
Dia ketawa — pelan, kaget, kayak gue baru aja nebak hal yang dia kira cuma dia yang tau. "Empat puluh menit lagi. Kalau gue pulang lebih cepet dari itu, gue keliatan kasar."
"Tiga puluh tujuh, sebenernya," gue bilang. "Gue mulai ngitung dari pintu masuk."
Dan gitu aja. Itu pintunya. Itu retakan kecil di tembok yang biasanya gue jaga rapat-rapat, dan lewat retakan itu, semuanya tumpah.
—
Kita nggak pernah pulang dalam tiga puluh tujuh menit.
Kita ngobrol sampai bartender ngelap meja buat ketiga kalinya sebagai isyarat halus. Lalu kita pindah ke tangga di luar gedung, karena di dalam udah terlalu berisik buat hal-hal yang kita omongin.
Kita ngomongin segalanya. Itu yang gue nggak ngerti sampai sekarang — gimana dua orang asing bisa lompatin semua basa-basi dan langsung ke bagian yang biasanya butuh bertahun-tahun. Dia cerita soal startup-nya yang baru aja mati, soal gimana rasanya bangun sesuatu dari nol terus liat dia hancur, soal ayahnya yang pergi pas dia kecil dan gimana dia masih, sampai sekarang, nggak bisa percaya hal-hal baik bakal tinggal.
Dan gue — gue yang biasanya nyimpen semua di balik spreadsheet dan senyum profesional — gue cerita balik. Soal kenapa gue obsesif sama kontrol. Soal ketakutan gue yang paling bodoh: bahwa kalau gue cukup rapi, cukup sempurna, cukup nggak ngerepotin, mungkin orang-orang bakal milih buat tinggal.
"Lo nggak harus sempurna biar orang tinggal," dia bilang waktu itu, pelan, natap kota di bawah kita.
"Gampang ngomongnya," gue bilang.
"Iya." Dia senyum, sedih. "Susah banget malah. Gue aja nggak bisa."
Gue inget mikir, di momen itu, bahwa gue bisa jatuh cinta sama orang ini kalau gue nggak hati-hati. Dan gue inget mutusin, dengan kesombongan orang yang ngira dia bisa ngatur hatinya kayak ngatur kalender — bahwa gue *akan* hati-hati.
Lihat aja seberapa bagus rencana itu jalan.
—
Pas langit mulai berubah dari hitam ke biru tua, dia ngeluarin HP-nya.
"Lo harus denger satu lagu," dia bilang. "Gue nggak bisa jelasin kenapa. Lo cuma harus denger."
Dia setel lagu itu — *lagu ini, lagu yang lagi muter di kantor gue sekarang* — dan kita dengerin bareng lewat satu earphone berdua, di tangga, jam lima pagi, kayak dua orang bodoh yang lupa dunia masih ada.
Pas lagunya selesai, dia bilang, "Lagu-lagu lo bilang banyak soal lo. Lebih dari yang lo mau orang tau."
Lalu dia minta nomor gue. Dia yang minta. Gue inget itu jelas banget, karena itu yang bikin semuanya lebih nggak masuk akal nanti. Dia yang nyodorin HP-nya. Dia yang bilang, *"Biar gue bisa kirimin lagu yang tadi."* Dia yang, pas kita pisah di parkiran, ngeliat gue lama banget terus bilang, *"Gue seneng lo nyamperin gue tadi. Beneran."*
Lalu paginya, gue kirim satu pesan.
Centang dua. Dibaca.
Nggak dibales.
Dan dua tahun gue habiskan buat ngeyakinin diri sendiri bahwa gue salah baca semuanya. Bahwa malam itu cuma berarti buat gue. Bahwa gue, sekali lagi, terlalu banyak ngerasa, dan ditinggal adalah harga yang gue bayar buat itu.
—
Lagu itu masih muter di kantor.
Gue ngangkat muka dari laptop, pelan, kayak takut gerakan terlalu cepat bakal bikin sesuatu pecah. Gue cari sumbernya.
Raga.
Dia di mejanya, headphone ngegantung di leher, dan HP-nya nyambung ke speaker kantor — kayaknya nggak sengaja, kayaknya dia lagi muter playlist sambil kerja dan lupa kalau outputnya ke speaker, bukan ke headphone. Beberapa orang lain nggak peduli. Buat mereka, ini cuma lagu.
Buat gue, ini reruntuhan.
Gue natap dia. Dia nggak nengok. Dia bungkuk ke layar, ngetik, alis ketekuk fokus, nggak sadar — *nggak sadar* — bahwa lagu yang lagi dia setel ke seluruh ruangan adalah lagu yang dua tahun lalu dia bisikin ke telinga gue lewat satu earphone berdua di tangga jam lima pagi.
Pertanyaannya datang sebelum gue bisa nahan, dan pertanyaannya bikin perut gue dingin:
*Sengaja, atau kebetulan?*
Kalau kebetulan, berarti semesta punya selera humor yang kejam.
Tapi kalau sengaja — kalau dia inget, kalau dia milih lagu ini hari ini dari ribuan lagu lain, kalau ada bagian dari dia yang masih nyimpen malam itu di tempat yang sama gue nyimpennya—
Raga ngangkat kepala. Matanya ketemu mata gue, lewat seluruh ruangan, di atas kepala-kepala rekan kerja yang sibuk.
Dan untuk satu detik — satu detik yang kelamaan, yang nggak seharusnya selama itu kalau dia beneran lupa — dia nggak ngalihin pandangan.
Lalu dia raih HP-nya, matiin musiknya, masang headphone, dan balik ke layarnya kayak nggak terjadi apa-apa.
Gue duduk di kursi gue, dengan lagu yang udah berhenti tapi masih menggema di kepala, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, gue mulai bertanya-tanya apakah gue beneran salah baca semuanya.
Atau apakah dia, selama ini, yang lebih jago pura-pura.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar