Ada teori yang gue pegang teguh sejak lulus kuliah: hari pertama kerja itu kayak first date. Lo dandan rapi, lo siapin senyum yang pas, dan lo berdoa supaya nggak ada yang berantakan sebelum kopi pertama.


Teori itu hancur dalam tujuh menit.


Bukan karena lift-nya mati, atau karena gue salah lantai, atau karena ternyata dress code di startup ini "bebas asal nggak telanjang" dan gue datang dengan blazer yang bikin gue keliatan kayak mau audit pajak. Bukan. Itu semua masih bisa gue handle.


Yang nggak bisa gue handle adalah cowok yang lagi berdiri di depan whiteboard penuh coretan, lengan kemeja digulung asal, ngejelasin sesuatu sambil gestur tangannya ke mana-mana — dan saat dia nengok ke arah pintu tempat gue berdiri, dunia gue berhenti selama satu detik penuh.


Raga.


Dua tahun. Dua tahun gue udah berhasil meyakinkan diri bahwa malam itu cuma anomali. Statistik. Satu titik data yang nyasar di grafik hidup gue yang rapi. Dan sekarang titik itu berdiri lima meter di depan gue, sama persis kayak yang gue inget — kecuali rambutnya yang sekarang lebih berantakan, dan lingkar mata yang bilang dia belum tidur entah berapa malam.


"Oh, ini dia orangnya." Bram, si CEO yang nge-hire gue, nepuk pundak gue dari belakang. "Guys, kenalin. Ini Kayla, Product Manager baru kita. Yang gue ceritain itu, lho."


Beberapa kepala nengok. Ada yang lambaiin tangan. Ada yang cuma ngangguk dari balik layar. Tapi gue cuma bisa ngeliat satu orang.


Dan satu orang itu jalan ke arah gue, ngulurin tangan, senyum sopan yang—


"Halo." Raga. Suaranya sama. Persis. "Welcome ya. Gue Raga, CTO. Semoga betah."


Gue nunggu. Nunggu sesuatu di matanya. Kerutan kecil di kening, jeda satu detik yang kelamaan, apa pun yang bilang *gue inget kamu, gue inget malam itu, gue inget semuanya.*


Nggak ada.


Cuma tangan terulur dan tatapan ramah yang lo kasih ke orang asing. Kayak gue ini vendor catering. Kayak gue ini nomor antrian.


"Kayla," gue bilang akhirnya, dan gue benci betapa pelan suara gue keluar. Gue jabat tangannya. Hangat. Sialnya masih hangat. "Salam kenal."


"Salam kenal." Dia narik tangannya, udah balik mikirin whiteboard lagi. "Eh sori ya, gue lagi di tengah sesuatu. Nanti kita sync, oke?"


Lalu dia balik badan. Selesai. *Done.* Kayak nggak ada apa-apa, karena buat dia memang nggak ada apa-apa.



Gue mau cerita soal malam itu, tapi sebentar. Biar gue stabil dulu.


Dua tahun lalu, di sebuah acara networking yang harusnya gue benci, gue ketemu cowok yang nyender di pojok bar sambil ngeliatin kerumunan kayak antropolog yang lagi neliti spesies asing. Gue samperin karena bosen. Kita ngobrol soal kenapa acara networking itu pada dasarnya teater. Lalu obrolan itu pindah ke hal lain. Lalu hal lain lagi.


Empat jam. Kita ngobrol empat jam tanpa berhenti. Soal mimpi, soal ketakutan, soal kenapa gue takut banget sama hal-hal yang nggak bisa gue kontrol. Dia cerita soal startup-nya yang baru gagal. Gue cerita soal hal yang nggak pernah gue ceritain ke siapa-siapa. Kita tuker playlist. Dia bilang, *"Lagu-lagu lo bilang banyak soal lo, lebih dari yang lo mau orang tau."*


Gue inget mikir: *oh. Jadi gini rasanya dimengerti.*


Paginya, gue kirim satu pesan. Centang dua. Dibaca. Nggak dibales.


Hari kedua, gue telpon. Nggak diangkat.


Hari ketiga, gue berhenti. Karena gue Kayla Hardiman, dan Kayla Hardiman nggak ngejar orang yang udah milih pergi.


Gue arsipin chat-nya. Gue hapus playlist-nya. Gue bilang ke diri sendiri ini cuma data yang nyasar, dan data yang nyasar itu lo buang, bukan lo simpen.


Gue pikir gue berhasil.



"Kay? Lo oke?"


Bram lagi natap gue, dahi sedikit berkerut.


"Iya, fine." Gue tarik napas, masang ulang senyum profesional gue. "Kantornya... ramai ya."


"Ramai itu eufemisme." Dia ketawa, ngajak gue jalan. "Lo bakal punya kerjaan banyak di sini. Tapi itu sebabnya gue rekrut lo, kan? Lo yang paling rapi yang pernah gue temuin."


*Yang paling rapi.* Gue senyum, karena itu memang gue. Itu yang gue jual. Sistem, proses, eksekusi yang bersih. Gue orang yang bikin chaos jadi spreadsheet.


Sambil dengerin Bram ngejelasin gambaran besar startup — fintech, misi inklusi keuangan, Seri A tiga bulan lagi yang bakal nentuin idup-mati — separuh otak gue masih nyangkut di lima meter ke belakang. Di tangan yang masih kerasa hangat. Di senyum sopan yang lebih nyakitin daripada kalau dia teriak ngusir gue.


Karena lo tau apa yang lebih buruk dari ditinggalin?


Dilupain.



Pas Bram ninggalin gue buat ngurus meeting, gue izin ke toilet. Bukan karena butuh. Tapi karena gue butuh tembok di antara gue dan ruangan itu, walau cuma sebentar.


Gue kunci pintu. Gue sender ke wastafel. Dan gue ngaca.


Wajah gue masih wajah gue. Blazer masih rapi. Lipstik masih di tempatnya. Dari luar, Kayla Hardiman keliatan 100% baik-baik aja, siap nakhodain startup chaos menuju pendanaan jutaan dolar.


"Oke," gue bilang ke bayangan gue, pelan, kayak lagi nge-brief tim. "We're not doing this."


*This.* Perasaan ini. Kenangan ini. Cowok ini.


"Lo ke sini buat kerja. Lo ke sini buat bangun karir lo, bukan buat — " gue nelen ludah, " — bukan buat ngeladenin cowok yang bahkan nggak inget muka lo."


Logis. Bersih. Persis kayak yang akan gue tulis di action items.


Cuma satu masalah.


Gue ngangkat tangan gue dari pinggiran wastafel, dan tangan itu — tangan yang barusan dia jabat — masih gemetar.


Halus. Tapi gemetar.


Gue genggam erat-erat, kayak kalau gue cukup keras nahannya, dia bakal nurut. Kayak semuanya bakal nurut, kalau gue cukup keras nahannya.


Dari luar pintu, gue denger suara Raga ketawa soal sesuatu, jauh dan samar, dan jantung gue ngelakuin hal yang udah dua tahun gue larang dia lakuin.


*Great,* gue mikir. *Hari pertama, worst day. Welcome to the chaos, Kay.*