Makan malam biasanya ramai.
Kira yang cerewet selalu punya cerita dari sekolah — tentang Siti yang bawa bekal aneh hari ini, tentang Pak Guru yang ketawa sampai terbatuk waktu baca puisi, tentang kucing di kantin yang diusir satpam sampai ngumpet di kolong meja guru. Selalu ada cerita. Selalu ada tawa yang terlalu keras untuk ruang makan sekecil ini. Selalu ada Raina yang menegur "Kira, kunyah dulu baru cerita" dan Kira yang pura-pura mengikuti lalu langsung cerita lagi sebelum selesai mengunyah.
Malam ini, Kira duduk dan makan dengan diam.
Sendok masuk ke mulut. Dikunyah. Ditelan. Sendok masuk lagi. Ritme yang terlalu teratur. Seperti mesin. Seperti seseorang yang makan bukan karena lapar atau menikmati makanan, tapi karena tahu bahwa ini adalah urutan yang harus dilakukan.
Raina mencoba memulai percakapan. "Hari ini di sekolah gimana?"
"Biasa."
"Ada yang lucu?"
"Tidak ada."
Raina dan Bagas bertukar pandang di atas meja. Bagas mengangkat bahu kecil — ekspresi yang Raina kenal, ekspresi yang artinya: anak-anak kadang begini, jangan lebay.
Raina meletakkan sendoknya.
"Kira, kamu baik-baik saja?"
Kira berhenti mengunyah. Dia menaruh sendoknya juga. Lalu menatap Raina — benar-benar menatap, dengan cara yang tidak biasa untuk anak delapan tahun. Terlalu lama. Terlalu serius. Seperti orang dewasa yang sedang menilai seseorang.
"Mama baik-baik saja?" balik Kira.
"Mama yang nanya kamu."
Kira tersenyum. Senyum kecil, di sudut bibir — senyum yang bukan senyum Kira yang selalu terbuka dan menunjukkan gigi. "Mama punya rahasia yang berat, ya?"
Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sepi.
Raina mendengar suara kipas angin di dapur. Suara sendok Bagas yang berhenti bergerak. Suara nadinya sendiri di telinganya, terlalu keras, terlalu cepat.
"Apa maksudnya, Kira?" Suara Raina terdengar aneh di telinganya sendiri.
"Tidak ada." Kira mengambil sendoknya lagi. Makan seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa. "Mama pasti capek. Cepat selesai makan, terus istirahat."
Bagas mencoba tertawa kecil. "Kira sudah besar ya, sekarang perhatian sama Mama."
Kira tidak tertawa bersama Bagas.
Dia hanya makan.
Setelah makan malam, Raina mencuci piring sendirian di dapur. Tangannya bekerja otomatis — sabun, bilas, tumpuk — tapi pikirannya tidak bisa diam dari kata-kata itu.
Rahasia yang berat.
Kira tidak mungkin tahu. Tidak ada yang tahu. Bahkan Bagas tidak tahu. Itu sesuatu yang Raina kubur dua belas tahun lalu dan tidak pernah digali lagi, yang dia simpan di bagian yang paling dalam dari dirinya dan tutup rapat-rapat dengan lapisan demi lapisan kehidupan yang kemudian dia jalani.
Jadi bagaimana Kira bisa—
"Mama."
Raina hampir menjatuhkan piring.
Kira berdiri di pintu dapur. Sudah ganti baju tidur — piyama biru dengan gambar bintang yang Raina beli bulan lalu di mall, yang Kira pilih sendiri karena "bintangnya lucu, Ma."
"Kamu mengagetkan Mama," kata Raina, menempelkan tangan ke dada. "Mau apa?"
"Minta air minum."
Raina mengambilkan segelas air. Memberikannya ke Kira. Kira menerima dengan dua tangan — seperti yang Raina ajarkan, seperti yang selalu Kira lakukan.
Tapi sebelum pergi, Kira berhenti.
Menatap Raina lagi dengan cara yang sama seperti di meja makan tadi.
"Mama, kalau orang punya rahasia yang berat," kata Kira pelan, "lebih baik diceritakan. Supaya tidak jadi beban terus."
"Kira dapat pelajaran itu dari mana?"
"Dari dalam," jawab Kira.
Raina mengerutkan dahi. "Dari dalam?"
"Dari dalam kepala Kira." Kira tersenyum lagi. Kali ini lebih lebar. Tapi senyum itu — Raina perhatikan lagi dengan seksama — tidak sampai ke matanya. Matanya tidak ikut tersenyum. "Selamat malam, Mama."
Kira pergi ke kamarnya. Langkah kakinya di lantai terdengar terlalu teratur untuk kaki anak kecil.
Raina berdiri di dapur sampai lama, air sabun mengering di tangannya.
Dua belas tahun lalu.
Raina berusia dua puluh tahun. Mahasiswi semester empat. Pacar yang belum siap. Kehamilan yang tidak direncanakan. Klinik kecil di pinggiran kota. Tanda tangan di selembar kertas.
Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang pernah akan tahu.
Tidak mungkin ada yang tahu.
Tapi kenapa Kira—
Dari kamar atas, Raina mendengar suara. Samar, tapi cukup jelas di keheningan malam.
Kira sedang menyanyi.
Lagu yang tidak Raina kenal.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar