Kira takut kucing.
Bukan takut yang biasa — bukan takut yang bisa dihibur dengan kata-kata "tidak apa-apa, dia tidak menggigit." Kira takut dengan cara yang dalam, yang sulit dijelaskan, yang sudah ada sejak sebelum dia bisa berjalan dengan benar. Sejak usia satu tahun, setiap kali kucing tetangga mendekat, Kira langsung menjerit dan meringkuk ke balik kaki Raina. Bahkan kucing mainan dari boneka, bahkan gambar kucing di buku bacaan — Kira menunduk dan tidak mau melihat.
Raina hafal itu seperti hafal nama anaknya sendiri.
Makanya sore itu, ketika Raina membuka pintu depan dan mendapati Kira jongkok di depan pagar — mengelus kucing liar belang abu yang biasanya berkeliaran di ujung gang — Raina diam.
Bukan diam karena senang.
Diam karena ada sesuatu yang tidak beres.
"Kira?"
Kira tidak menoleh.
Kucing itu mendengkur pelan, matanya terpejam menikmati elusan. Kira menggerakkan tangannya dengan gerakan yang teratur — elusan yang bukan gerakan anak delapan tahun yang canggung dan sembarangan, tapi gerakan yang punya ritme tertentu, dari kepala ke punggung, kepala ke punggung.
"Kira. Nak."
Kira menoleh. Senyum biasa. Senyum yang Raina kenal — gigi depan yang satu masih bolong bekas copot, pipi yang sedikit tembem, mata yang biasanya berbinar.
Mata yang biasanya berbinar.
"Iya, Mama?"
"Kamu tidak takut sama kucing itu?"
Kira melirik kucing di tangannya, lalu melirik Raina. "Dia tidak berbahaya, kok."
Raina menelan ludah. Masuk ke dapur, mulai menyiapkan makan malam, tapi pikirannya tidak mau diam. Mungkin dia sudah dewasa, Raina membujuk dirinya sendiri. Mungkin ini perkembangan yang normal. Anak-anak bisa mengatasi ketakutan, kan? Bisa tumbuh dan berubah pikiran.
Tapi satu jam kemudian, saat Raina keluar untuk memanggil Kira masuk, Kira tidak ada di depan rumah.
Kucing itu juga tidak ada.
Raina melongok ke kanan. Gang biasa. Ibu-ibu depan rumah sebelah sedang menjemur handuk sambil ngobrol. Anak-anak bermain di ujung gang, suara mereka ramai.
Raina melongok ke kiri.
Di ujung gang, pintu rumah tua itu terbuka.
Pintu kayu tua yang selalu tertutup, selalu terkunci, yang sejak mereka pindah ke gang ini tiga bulan lalu tidak pernah sekalipun Raina lihat ada yang masuk atau keluar. Rumah yang catnya mengelupas dalam lembaran-lembaran besar, yang pagarnya berkarat sampai merah-jingga, yang halamannya penuh rumput liar seperti tidak pernah dirawat puluhan tahun.
Dan pintu itu terbuka.
Raina berlari.
Dia mendorong pintu lebih lebar. Bau langsung menyerangnya — tanah lembab dan sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dia namai dengan tepat. Seperti bau bunga, tapi bukan bunga yang hidup. Bunga yang sudah layu sangat lama, yang bunganya sudah luruh tapi sisa aromanya masih menempel di udara.
"Kira!"
Tidak ada jawaban.
Raina masuk ke halaman. Rumput liar setinggi lutut menyentuh celana panjangnya. Pohon jambu di sudut kiri yang sudah mati, ranting-rantingnya kering dan hitam dan mengarah ke semua penjuru seperti jari-jari yang menunjuk. Dan di tengah halaman, di depan sesuatu yang tertutup papan kayu lapuk berlumut—
Kira berdiri di sana.
Punggung ke Raina. Kepala sedikit menunduk, memandang ke bawah ke papan kayu di kakinya.
"Kira, apa-apaan kamu? Mama sudah panggil dari tadi!" Raina menarik tangan Kira dengan keras, membawanya keluar dari halaman itu, menutup pintu dari luar. Tangan yang dia pegang — dingin. Terlalu dingin untuk sore yang panas seperti ini.
Kira tidak protes. Tidak menangis. Tidak marah.
Hanya diam.
Di perjalanan kembali ke rumah yang pendek itu — tiga puluh meter, mungkin empat puluh — Raina melirik wajah Kira dari samping. Anak itu menatap lurus ke depan, ekspresinya tenang. Terlalu tenang untuk anak yang baru saja ditarik kasar dari tempat yang bukan haknya, yang baru saja dimarahi.
"Kamu ngapain di sana?" tanya Raina.
"Lihat-lihat," jawab Kira pelan.
"Lihat apa?"
Kira menoleh ke Raina. Matanya — hitam dan besar, bulu mata panjang yang Raina selalu kagumi — menatap ibunya.
Tidak ada yang salah dengan mata itu. Tidak ada yang berbeda.
Tapi Raina merasa ada yang hilang dari sana. Sesuatu yang kecil. Sesuatu yang biasanya ada dan sekarang tidak ada.
Cahaya.
Cahaya yang selalu ada di mata Kira ketika dia menatap Raina. Yang terlihat sejak Kira masih bayi, yang tumbuh seiring Kira tumbuh, yang membuat Raina selalu merasa bahwa apapun yang terjadi, Kira melihatnya sebagai tempat yang aman.
Cahaya itu tidak ada sekarang.
"Tidak ada apa-apa, Mama," kata Kira. "Hanya lihat-lihat."
Malam itu, saat Raina menidurkan Kira dan berdiri di samping kasur memandang wajah anaknya yang sudah terpejam, dia memperhatikan detail-detail yang selalu membuatnya lega. Hidung mancung warisan Bagas. Pipi tembem yang mulai mengurus. Bulu mata panjang yang Raina selalu iri.
Wajah yang sama.
Tapi Raina tidak bisa tidur sampai subuh.
Karena ada satu hal yang tidak bisa dia jelaskan. Satu detail kecil yang terus mengganggunya.
Tangan Kira dingin.
Padahal sore itu panas.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar