Bagas pulang jam tujuh malam membawa kantong plastik berisi ayam goreng dan senyum lelah orang yang baru selesai rapat tiga jam lebih.

"Beli di jalan, daripada Mama masak," katanya sambil meletakkan kantong di meja makan. Lalu memandang Raina yang tidak bergerak dari tempatnya di sofa. "Kenapa?"

Raina meletakkan buku sketsa di meja.

Bagas membukanya sambil berdiri, melihat halaman per halaman. Mengerutkan dahi.

"Ini gambar Kira?"

"Iya."

"Gambarnya bagus juga untuk anak seumurnya." Bagas membalik halaman. "Tapi memangnya kenapa? Ini tidak ada yang aneh."

"Bagas." Raina menekan suaranya, mengontrol nadanya. "Anak kita takut kucing sejak kecil, tapi sore kemarin mengelus kucing liar di depan pagar. Anak kita yang tidak bisa diam waktu makan, tiba-tiba diam total dua malam berturut-turut. Anak kita yang gambarnya selalu rumah dan kupu-kupu, tiba-tiba gambar perempuan dewasa dengan detail yang tidak mungkin dia bisa gambar. Dan dia bilang hal-hal yang—"

Raina berhenti.

"Hal-hal apa?"

Raina tidak bisa menjawab itu. Untuk menjelaskan apa yang Kira katakan, Raina harus menjelaskan rahasianya. Dan itu tidak bisa.

"Hal-hal yang tidak sesuai umurnya. Yang terdengar seperti orang dewasa."

Bagas menutup buku sketsa. Menghela napas dengan cara yang sudah Raina hafal — napas panjang yang menyiapkan argumen. "Anak-anak tumbuh cepat, Rai. Kira mungkin mendengar dari sekolah, dari teman, dari TV. Kamu terlalu protektif."

"Bagas—"

"Dan soal kucing, itu hal yang bagus. Dia mengatasi ketakutannya." Dia membuka kantong plastik. "Mana Kira, suruh turun makan."

Raina tidak bergerak. "Dia juga masuk ke rumah tua di ujung gang."

Bagas berhenti.

"Rumah tua yang mana?"

"Yang sudah kosong itu. Yang catnya mengelupas. Yang tidak pernah ada yang masuk."

"Kenapa kamu biarkan?"

"Aku tidak lihat dia masuk. Aku baru sadar waktu pintu rumah itu sudah terbuka dan Kira tidak ada di depan rumah." Raina mengepalkan tangan. "Bagas, ada yang tidak beres sama Kira sejak kemarin sore. Bukan aku yang paranoid. Ini nyata."

Bagas menutup wajahnya dengan satu tangan sebentar. Mengembuskan napas. Duduk di kursi makan.

"Oke. Apa yang kamu mau?"

"Kita perhatikan dia lebih dekat. Kalau masih berlanjut—"

"Kita bawa ke dokter anak," potong Bagas. Bukan kasar, tapi tegas. "Kalau ada yang tidak beres, dokter yang bisa nilai. Bukan kita yang menebak-nebak."

Raina ingin bilang: ini bukan urusan dokter. Ini sesuatu yang dokter tidak bisa lihat di termometer atau stetoskop. Tapi dia tidak punya argumen yang bisa Bagas terima.

"Oke," katanya.

Makan malam berlangsung diam. Kira makan dengan ritme yang sama — teratur, mekanis, tidak ada cerita, tidak ada tawa. Bagas mencoba tiga kali mengajak ngobrol, mendapat jawaban satu suku kata masing-masing.

Setelah makan, Kira minta izin ke kamar.

"Sudah ngantuk," katanya.

"Jam segini sudah ngantuk?" Bagas tertawa kecil. "Biasanya kamu minta nonton TV dulu."

"Hari ini capek." Kira naik tangga tanpa menoleh.

Raina mendengar pintu kamar menutup.

Dua jam kemudian, ketika rumah sudah sepi dan Bagas sudah di kamar mandi bersiap tidur, Raina berdiri di dapur mengunci pintu belakang.

Dan mendengar sesuatu.

Dari tangga. Dari atas.

Lagu itu lagi.

Nada yang sama. Kata-kata yang tidak dikenal. Tapi kali ini lebih jelas, karena rumah lebih sepi. Dan Raina bisa mendengar sesuatu yang kemarin tidak dia tangkap.

Ini bukan bahasa Indonesia.

Bukan bahasa Inggris. Bukan bahasa yang Raina kenal sama sekali.

Raina berdiri di bawah tangga dengan tangan di pegangan, mendengarkan.

Bagas keluar dari kamar mandi. "Itu Kira?"

Raina mengangguk.

Bagas mendengarkan sebentar. Wajahnya berubah — ekspresi yang tidak nyaman, yang langsung kembali ke ekspresi rasionalnya. "Mungkin lagu dari game di HP-nya."

"Kita sudah ambil HP-nya jam delapan."

"Mungkin dia hafalkan tadi sebelum HP diambil."

"Bagas—"

"Raina." Nada Bagas berubah menjadi nada yang ingin menghentikan percakapan ini. "Aku tidak mau kamu malam ini begadang lagi karena kepikiran hal yang mungkin punya penjelasan biasa. Besok kita telepon dokter anak."

Raina menatap suaminya.

Nyanyian itu terus mengalun dari atas. Panjang. Tidak berhenti. Tidak berubah.

"Oke," kata Raina.

Tapi dia tidak tidur sampai nyanyian itu berhenti jam tiga pagi.