Keesokan harinya, saat Kira di sekolah, Raina duduk di depan laptop dengan earphone di telinga.

Dia mencoba mengingat melodi lagu itu seakurat mungkin — mendengungkannya pelan ke aplikasi pengenal musik. Ikon berputar. Berputar. Lama. Lalu: *Tidak ditemukan. Coba rekam suara aslinya.*

Raina tidak punya rekaman. Dia tidak berpikir untuk merekamnya tadi malam.

Dia coba humming ke aplikasi lain. Hasil yang sama — tidak ditemukan, atau mengusulkan lagu-lagu yang jelas salah. Dia ketikkan deskripsi di Google: *lagu tradisional nada melengkung tidak dikenal bahasa asing.* Hasilnya puluhan, tapi tidak ada yang cocok ketika dia putar preview.

Jam sebelas siang, Raina keluar untuk membuang sampah.

Bu Sari ada di depan rumahnya — menyapu teras seperti setiap hari. Perempuan enam puluhan dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang, baju daster batik yang selalu bersih dan disetrika. Tetangga yang sudah tiga bulan ini Raina kenal tapi tidak benar-benar kenal — hanya sebatas sapaan pagi dan sesekali ngobrol soal harga sayur.

"Bu Sari," panggil Raina.

Bu Sari menoleh dari sapuannya.

"Mau tanya sesuatu, boleh?"

"Boleh, Mbak Raina. Ada apa?"

Raina mendekati pagar Bu Sari dan mulai menggumamkan melodi itu — pelan, tidak yakin, takut salah. Hanya beberapa nada pertama.

Bu Sari mendengarkan.

Tiga detik kemudian, Bu Sari menutup kedua telinganya dengan kedua tangan.

Cepat. Keras. Seperti refleks, seperti orang yang tidak punya pilihan selain menghentikan sesuatu yang menyakitkan.

"Berhenti," kata Bu Sari. Suaranya berubah — bukan lagi suara tetangga yang ramah. Sesuatu yang lebih dalam, lebih berat. "Jangan dinyanyikan lagi."

Raina berhenti seketika. "Bu Sari kenal lagunya?"

Bu Sari menurunkan tangannya perlahan. Menatap Raina dengan mata yang tidak bisa dibaca.

"Dari mana Mbak mendengar lagu itu?"

"Dari Kira. Putri saya. Dia menyanyi sendiri di kamar. Dua malam berturut-turut."

Sesuatu bergerak di wajah Bu Sari. Sesuatu yang Raina tidak punya nama untuk itu — bukan ketakutan, bukan terkejut, lebih seperti konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama ditakuti tapi sudah lama juga diharapkan tidak terjadi.

"Anak Mbak masuk ke rumah tua di ujung gang kemarin sore?" tanya Bu Sari. Bukan tanya biasa. Lebih seperti memastikan.

Raina menahan napas. "Bagaimana Bu Sari tahu?"

"Saya lihat dari jendela."

Hening sebentar. Di ujung gang, suara motor lewat.

"Bu Sari," kata Raina pelan. "Lagu itu lagu apa?"

Bu Sari menatap ke arah ujung gang — ke arah rumah tua itu — lama, sebelum menjawab.

"Lagu yang biasa dinyanyikan orang yang menunggu," kata Bu Sari akhirnya. "Yang menunggu lama sekali. Yang sudah tidak sabar menunggu dan mengisi waktu menunggunya dengan bernyanyi." Bu Sari menoleh ke Raina. "Lagu yang seharusnya tidak didengar orang hidup."

Kulit Raina merinding.

"Bu Sari, apa yang ada di rumah tua itu?"

Bu Sari memandang Raina lama. Mata yang sudah banyak menyaksikan sesuatu. Mata yang menyimpan sesuatu.

"Saya tidak bisa cerita sekarang," kata Bu Sari. "Tapi Mbak Raina harus hati-hati. Anak Mbak—" Bu Sari berhenti. Menelan ludah. "Perhatikan anak Mbak malam ini."

"Perhatikan bagaimana?"

"Malam ini," kata Bu Sari, dan dia sudah memutar badan menuju rumahnya, "jangan masuk kamar anak Mbak setelah jam dua belas. Apapun yang terjadi. Apapun yang Mbak dengar atau Mbak pikir dengar."

"Bu Sari, kenapa—"

Pintu rumah Bu Sari tertutup.

Raina berdiri di trotoar depan pagar Bu Sari. Angin siang meniup rambutnya yang tidak dikucir. Matahari terik tapi kulitnya tidak terasa panas.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin sore, dia tidak lagi bisa membujuk dirinya sendiri dengan kata-kata seperti *mungkin ini normal* atau *mungkin ada penjelasannya.*

Ada yang tidak beres.

Dan sekarang ada tetangga tua yang menutup telinganya saat mendengar lagu anak delapannya dan menyuruhnya tidak masuk kamar anaknya setelah tengah malam.

Raina berjalan pulang.

Dan mulai menghitung jam sampai malam.