Raina tidak tidur.
Jam 02.30, dia masih di dapur dengan segelas teh yang sudah lama dingin, mencoba mengingat apakah pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Nada yang meliuk-liuk, panjang dan berulang, kata-kata yang tidak jelas terdengar dari balik pintu kamar Kira yang tertutup. Bukan lagu anak-anak. Bukan lagu yang ada di playlist YouTube yang biasa Kira minta diputarkan. Bukan lagu yang pernah Raina dengar di TV atau radio atau supermarket.
Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang terasa tua. Sesuatu yang terasa berasal dari tempat atau waktu yang sangat jauh.
Jam 03.00, nyanyian itu berhenti.
Raina menunggu sepuluh menit. Dua puluh. Akhirnya dia naik ke lantai dua, berjalan pelan di lorong yang gelap, mendekat ke pintu kamar Kira, menempelkan telinga ke kayu pintu.
Hening.
Dia buka pintu sedikit, hati-hati. Mengintip.
Kira tidur.
Posisinya yang membuat Raina berhenti sejenak. Telentang sempurna di tengah kasur, tangan lurus di samping tubuh, kaki rapat tidak menyamping. Tidak ada yang tidur seperti itu. Anak-anak tidur meringkuk atau telungkup atau miring dengan lutut tertekuk. Orang dewasa tidur dengan satu kaki keluar dari selimut atau tangan di bawah bantal.
Kira berbaring rapi seperti orang yang dibaringkan oleh tangan orang lain.
Raina menutup pintu. Kembali ke kamarnya. Membaringkan diri di samping Bagas yang mendengkur pelan, menatap langit-langit dengan mata yang tidak mau terpejam.
Pagi harinya, setelah Bagas berangkat kerja dan Kira sarapan dengan diam yang sama seperti makan malam semalam, Raina membereskan kamar Kira. Mengambil baju kotor yang berserakan, merapikan boneka yang jatuh dari rak, mengelap debu dari meja belajar.
Lalu buku sketsa itu jatuh dari bawah kasur.
Buku bergambar sampul kelinci yang Raina belikan sebulan lalu — buku tempat Kira biasa menggambar rumah-rumahan dengan asap keluar dari cerobong, kupu-kupu dengan sayap simetris yang tidak pernah benar-benar simetris, keluarga kecil dengan dua orang tua yang lebih tinggi dari anaknya dan semuanya tersenyum lebar.
Raina duduk di tepi kasur dan membukanya.
Halaman pertama: rumah besar dengan bunga mawar di taman. Gaya Kira yang khas — tidak proporsional tapi penuh semangat. Pintu yang terlalu besar, jendela yang terlalu banyak, langit dengan matahari tersenyum di pojok kanan atas.
Halaman kedua: keluarga. Bagas yang paling tinggi dengan rambut zigzag yang entah kenapa selalu Kira gambar begitu, Raina di tengah dengan gaun kuning, Kira kecil di samping dengan tas sekolah. Tangan-tangan yang digenggam. Senyum yang sama di setiap wajah.
Halaman ketiga—
Raina berhenti.
Halaman ketiga bukan gambar Kira.
Bukan dalam gaya yang Raina kenal. Garis-garisnya masih tangan anak-anak — tidak sempurna, sedikit gemetar di beberapa bagian — tapi ada detail yang seharusnya tidak ada dalam gambar anak delapan tahun. Detail yang membutuhkan pengamatan, membutuhkan pemahaman tentang proporsi, membutuhkan sesuatu yang Kira belum pernah tunjukkan sebelumnya.
Seorang perempuan.
Berdiri tegak. Rambut panjang yang digambar dengan garis-garis tipis yang menjatuh ke bahu dan dada. Baju yang longgar, mungkin baju rumah atau baju tidur. Tangan terangkat di satu sisi — apakah menolak sesuatu atau meminta pertolongan, tidak bisa dipastikan. Ekspresi di wajahnya tidak bisa dibaca dengan tepat, tapi ada sesuatu di garis-garis itu yang menyakitkan untuk dilihat.
Di bawah gambar itu, dengan huruf balok yang lebih besar dan lebih tegas dari tulisan Kira biasanya:
LASTRI.
Raina tidak kenal nama itu.
Membalik halaman.
Halaman keempat: sebuah sumur. Dinding bata yang digambar dengan teliti, detail per bata. Mulut sumur yang bulat dan hitam seperti lubang. Dan dari dalam mulut hitam itu — tangan. Satu tangan yang memanjang ke atas, jari-jari terbuka, meraih sesuatu yang tidak ada.
Halaman kelima: seorang anak kecil duduk di sudut yang gelap. Lutut dipeluk ke dada, kepala tertunduk sehingga wajahnya tidak kelihatan. Di sekitar anak itu, garis-garis yang melingkupi seperti dinding yang semakin sempit. Di pojok kanan bawah gambar, detail kecil yang hampir Raina lewatkan.
Rambut anak itu dikucir dua.
Persis seperti cara Raina menguncir rambut Kira setiap pagi. Dua kucir di sisi yang sama ketinggiannya, diikat dengan karet warna-warni.
Raina menutup buku itu.
Duduk di tepi kasur dengan napas yang tidak mau teratur.
Siapa Lastri? Dari mana Kira tahu nama itu? Bagaimana Kira bisa menggambar dengan detail seperti itu? Dan kenapa gambar anak yang terkurung itu rambutnya dikucir persis seperti cara Raina menguncir rambut Kira?
Siang itu, ketika Kira pulang dari sekolah dan sedang ganti baju di kamarnya, Raina menunggu.
"Kira, Mama mau nanya sesuatu."
"Iya, Mama?" Kira menarik kaos dari lemari, membalikkan badan.
"Buku sketsa kamu. Mama lihat gambar-gambar baru." Raina meletakkan buku di tempat tidur, membukanya ke halaman ketiga. "Yang perempuan, yang sumur, yang anak kecil."
Ekspresi di wajah Kira — kosong sebentar. Hanya sebentar, mungkin dua detik, mungkin kurang. Lalu kembali normal, kembali ke ekspresi anak yang ditanya sesuatu.
"Siapa yang mengajari kamu menggambar seperti itu?"
"Gambar yang mana?"
"Yang perempuan bernama Lastri."
"Kira tidak ingat menggambar itu."
"Kamu tidak ingat?"
"Tidak ingat, Mama." Suaranya datar. Bukan suara anak yang berbohong dan gugup karena ketahuan. Bukan suara anak yang berusaha menutupi sesuatu. Hanya datar, seperti menjawab pertanyaan yang faktual. "Mungkin Kira menggambar waktu mengantuk."
Raina menatap anaknya. "Siapa Lastri, Kira?"
Sepersekian detik — mata Kira bergerak. Ke kiri, ke kanan, kembali ke Raina. Gerakan yang sangat cepat dan sangat kecil, gerakan yang orang biasa mungkin tidak tangkap.
"Tidak tahu," jawab Kira.
Tapi Raina sudah memutuskan: ini bukan tentang menggambar waktu mengantuk.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar