Ketapang Wangi menyambut Sekar dengan pemandangan yang sama seperti dua minggu lalu—sawah hijau membentang di kaki Sumbing, kabut tipis masih menggantung di puncak bukit, rumah-rumah bambu berjejer rapi, dan udara sejuk yang tidak pernah bisa ditemukan di Jakarta seberapa pun mahal pendingin ruangannya. Tapi kali ini, ia turun dari mobil hitam berlogo Wardhana Group, supirnya membukakan pintu dengan sopan, bukan angkot butut berkarat yang biasa ia naiki dan harus menunggu penuh sebelum berangkat.

Seluruh desa seperti berhenti sejenak untuk menatapnya. Anak-anak yang sedang bermain kelereng di pinggir jalan berhenti, ibu-ibu yang sedang menjemur pakaian di halaman menoleh dengan mata terbelalak.

"Sekar pulang," bisik seseorang, dan kabar itu menyebar lebih cepat dari angin, dari satu rumah ke rumah lain, dari satu mulut ke mulut lainnya.

Ia berjalan menuju rumah kecil peninggalan neneknya, tempat ia dibesarkan sejak umur lima tahun, dengan atap seng yang sudah berkarat di beberapa bagian, ketika Bu Marlina keluar dari rumahnya dengan wajah yang sudah jauh berbeda dari saat terakhir mereka bertemu di halaman masjid.

"Sekar," panggilnya, suaranya dibuat semanis mungkin, tangannya sudah terangkat seolah hendak memeluk. "Kok nggak bilang-bilang kalau mau pulang? Ibu bisa siapin makan siang yang layak, ada opor ayam kesukaan kamu dulu."

Sekar tersenyum tipis, mengenali dengan jelas perubahan sikap yang tiba-tiba itu, sesuatu yang membuatnya merasa lebih geli daripada tersinggung. "Nggak usah repot-repot, Bu. Saya cuma mau ambil beberapa barang dan pamit."

"Pamit?" Bu Marlina mendekat, matanya berkilat penasaran, sesekali melirik ke arah mobil hitam yang terparkir di depan rumah. "Katanya kamu mau nikah sama pengusaha besar dari Jakarta? Bener itu, Nak? Wah, hebat sekali kamu ya, dari dulu Ibu udah bilang kamu ini anak baik, rajin, sopan—"

"Bu," potong Sekar, suaranya tetap tenang tapi tegas, matanya menatap langsung ke wajah wanita di hadapannya, "dua minggu lalu, Ibu bilang di depan seluruh warga bahwa saya pencuri yang pantas dilaporkan ke polisi. Ibu ingat itu, kan?"

Bu Marlina terdiam, senyumnya memudar seketika, tangannya yang tadi terangkat kini turun perlahan.

"Saya nggak dendam," lanjut Sekar, "tapi saya juga nggak lupa, Bu. Permisi."

Ia melangkah masuk ke rumahnya sendiri, meninggalkan Bu Marlina yang berdiri kaku di halaman dengan wajah campuran antara malu dan kesal yang tidak bisa ia sembunyikan.

Di dalam rumah, debu tipis sudah menutupi sebagian perabotan yang jarang disentuh selama dua minggu ia pergi. Sekar mengumpulkan barang-barang seadanya—beberapa potong baju sederhana, foto lama neneknya yang sudah menguning di sudut-sudutnya, dan sebuah kotak kayu kecil berisi peralatan jahit yang sudah ia gunakan bertahun-tahun. Tangannya berhenti di atas mesin jahit tua peninggalan neneknya, jarinya menyentuh roda putarnya yang sudah agak berkarat.

"Kamu mau bawa itu juga?" Sebuah suara dari pintu membuatnya menoleh cepat.

Mas Darto berdiri di ambang pintu, wajahnya kikuk, jauh berbeda dari sikap menuduhnya minggu lalu, tangannya menggenggam topi lusuh yang ia putar-putar gelisah.

"Aku cuma mau bilang," katanya, matanya tidak berani menatap langsung, lebih memilih menatap lantai tanah yang sudah dipadatkan, "maaf soal kemarin. Aku emang butuh uang buat bayar utang judi, dan aku pikir kalau nuduh kamu, semua orang bakal langsung percaya karena kamu... yah, kamu tahu sendiri gimana orang mikirin kamu selama ini."

Sekar menghentikan tangannya sejenak, menatap sepupunya itu lama. "Uang arisan itu kamu yang ambil?"

Mas Darto tidak menjawab, tapi diamnya sudah menjadi jawaban paling jelas, tangannya semakin erat meremas topi di genggamannya.

"Aku nggak akan lapor kamu," kata Sekar akhirnya, suaranya melunak sedikit, "tapi kamu harus kembalikan uangnya ke kas RT, sepenuhnya, sebelum akhir bulan. Dan jangan pernah lagi pakai nama aku buat nutupin kesalahan kamu, Mas."

Mas Darto mengangguk cepat, matanya sedikit berkaca-kaca, lalu buru-buru pergi seolah takut Sekar berubah pikiran.

Sekar melanjutkan mengemas barangnya, hingga langkahnya terhenti di depan cermin retak yang tergantung di dinding kamar—cermin yang selama bertahun-tahun memantulkan wajah gadis yang selalu dianggap tidak cukup: tidak cukup cantik, tidak cukup kaya, tidak cukup pantas untuk apa pun yang lebih besar dari desa kecil ini.

Ia menatap pantulannya sendiri, retakan cermin membelah wajahnya menjadi dua bagian, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda—bukan anak pungut, bukan penjahit keset yang dihina, tapi seseorang yang baru saja menandatangani kontrak yang akan membawanya ke dunia yang jauh lebih besar dari desa ini, dengan segala risiko dan ketidakpastian yang menyertainya.

Ia mengambil kotak kayu peralatan jahitnya, memasukkannya ke dalam tas dengan hati-hati, seolah itu adalah harta paling berharga yang ia miliki—dan memang begitu adanya, jauh lebih berharga daripada gedung-gedung kaca Jakarta yang baru saja ia lihat.

Sebelum meninggalkan rumah, ia berhenti sejenak di depan makam neneknya yang terletak tidak jauh dari rumah, di antara pohon-pohon jambu yang biasa mereka petik bersama.

"Aku bakal buktiin, Nek," bisiknya pelan, menyentuh nisan sederhana itu. "Bahwa kebaikan yang Nenek ajarin nggak pernah sia-sia, meskipun jalannya jauh lebih rumit dari yang kita bayangin."

Apa pun yang terjadi di Jakarta—kebencian Nenek Wardhani, sindiran Aurelia, kedinginan Bhaskara—ia tidak akan pernah melupakan dari mana ia berasal, dan siapa yang telah membentuknya menjadi perempuan yang berani berdiri tegak meski dihina berkali-kali.

Di luar, mobil hitam sudah menunggu, supirnya berdiri sabar di samping pintu yang terbuka. Sekar menutup pintu rumah kecilnya untuk terakhir kalinya sebagai gadis kampung yang tidak dianggap, dan melangkah keluar sebagai calon istri kontrak seorang konglomerat.

Ia tidak tahu bahwa langkah itu baru permulaan dari pertarungan yang jauh lebih besar—bukan lagi melawan fitnah arisan RT, tapi melawan seluruh sistem keluarga yang dibangun untuk menyingkirkan siapa pun yang dianggap tidak pantas duduk di kursi kekuasaan.

Bersambung ke Bab 6...