Suara pengeras masjid mendengung di atas kepala Sekar Ayuning, memantul di antara rumah-rumah bambu Ketapang Wangi yang berjejer rapi di kaki Gunung Sumbing. Udara pagi masih dingin, menyisakan embun di ujung daun pisang di pekarangan masjid, tapi Sekar sudah berkeringat dingin sejak setengah jam yang lalu. Hari itu, hari raya kurban, seharusnya menjadi hari paling tenang dalam setahun—hari ketika seluruh desa berkumpul, berbagi daging, berbagi syukur. Tapi tenang bukan kata yang cocok untuk apa yang baru saja terjadi di halaman masjid, di depan hampir seluruh warga desa.
"Kamu pikir kami bodoh, Sekar?" Mas Darto berdiri di depan meja panitia, wajahnya merah padam, menudingkan telunjuknya tepat ke wajah Sekar. Di tangannya tergenggam sebuah buku kas arisan yang sudah lecek di ujung-ujungnya, halamannya penuh coretan tinta biru yang mulai pudar. "Uang arisan RT hilang dua juta tujuh ratus ribu, dan kebetulan sekali kamu yang pegang kas bulan ini."
Sekar merasa darah di wajahnya seolah surut ke telapak kaki. Jarinya mencengkeram ujung kerudungnya, meremas kainnya sampai kusut, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia merasa terpojok. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, lebih keras dari suara azan yang baru saja selesai berkumandang.
"Aku nggak pernah pegang uang itu lebih dari yang dicatat, Mas. Semua ada buktinya—buku catatan aku bawa, ada tanda tangan tiap kali serah terima—"
"Bukti apa?" potong Bu Marlina, istri ketua RT, suaranya melengking di antara puluhan pasang mata yang kini berkumpul, sebagian masih memegang kantong plastik berisi daging kurban yang baru saja mereka terima. "Kamu itu cuma penjahit keset, Sekar. Dari mana kamu punya uang buat nutup-nutupin kalau bukan dari situ? Rumahmu aja reyot, jangan pura-pura sok punya prinsip."
Gelak tawa kecil pecah di beberapa sudut halaman. Bukan tawa gembira—tawa yang menusuk, tawa orang-orang yang sejak dulu menganggap Sekar tak lebih dari anak pungut yang numpang hidup di rumah mendiang neneknya. Anak yang ibunya kabur entah ke mana, ayahnya bahkan tak pernah disebut namanya, dan seluruh masa kecilnya dihabiskan mendengar bisik-bisik tetangga setiap kali ia lewat.
Sekar menunduk. Ia bisa merasakan tatapan itu menembus kulitnya, satu per satu, seperti jarum-jarum kecil yang ditusukkan bersamaan. Ia ingin membela diri, tapi apa gunanya kata-kata melawan tuduhan yang sudah bulat di kepala orang-orang yang memang sudah lama ingin ia enyah dari desa ini? Ia teringat pesan terakhir neneknya sebelum meninggal tiga tahun lalu: *"Jangan pernah balas kejahatan dengan kejahatan, Nduk. Biar Allah yang membalas."* Kalimat itu terasa jauh lebih berat sekarang, di tengah tatapan yang begitu tajam.
"Kembalikan uangnya sebelum Ashar," ujar Pak RT akhirnya, suaranya berat dan final, tangannya bersedekap di depan dada. "Atau kami laporkan ke polisi."
Sekar mengangkat wajah. Matanya panas, tapi ia menahan air mata itu mati-matian—ia tidak akan menangis di depan mereka, tidak hari ini, tidak setelah bertahun-tahun belajar bahwa air mata hanya akan jadi bahan tertawaan baru.
"Aku nggak punya uang segitu, Pak. Kalau punya, aku sudah lama pindah dari sini, bikin rumah yang atapnya nggak bocor tiap musim hujan."
Kalimat itu meluncur lebih tajam dari yang ia niatkan, dan tatapan sekelilingnya berubah semakin dingin. Beberapa ibu-ibu mulai berbisik lebih keras, saling melirik seolah kalimat itu adalah pengakuan tersembunyi.
Di saat itulah, ketua panitia kurban, Pak Haji Slamet, berjalan ke depan dengan map cokelat di tangannya. Ia baru saja selesai memimpin pembagian daging, peluh masih membasahi kerah bajunya, wajahnya masih berkeringat, tapi ekspresinya serius saat berhenti tepat di antara Sekar dan Mas Darto. Langkahnya tenang namun tegas, membuat kerumunan yang tadi ribut perlahan mulai diam dengan sendirinya.
"Sebelum ada yang lapor polisi," katanya, suaranya tenang tapi cukup keras untuk didengar seluruh halaman, "saya mau umumkan sesuatu yang sebenarnya diminta dirahasiakan."
Sekar mengerutkan kening. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan pria tua itu, dan untuk sesaat rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya sendiri.
Pak Haji Slamet membuka map cokelat itu—dan di dalamnya, Sekar mengenali amplop yang sama persis dengan yang ia titipkan diam-diam tiga minggu lalu, ditulis dengan tangannya sendiri, amplop yang ia isi dengan tabungan lima tahun menjahit keset, upah lembur dari tiga toko kain di kecamatan, dan uang hasil menjual satu-satunya perhiasan peninggalan neneknya—sepasang anting emas kecil yang selama ini ia simpan di bawah kasur.
"Sepuluh ekor kambing yang kita sembelih hari ini," Pak Haji melanjutkan, suaranya menggema di seluruh halaman masjid, "semuanya dari satu penyumbang. Beliau minta disebut Hamba Allah saja, minta dirahasiakan betul-betul. Tapi saya pikir, hari ini, keadilan lebih penting daripada permintaan itu."
Ia menoleh ke arah Sekar, matanya berkaca-kaca.
"Penyumbangnya adalah Sekar Ayuning."
Halaman masjid hening seketika. Tawa yang tadi bersahutan lenyap seolah ditelan bumi. Bu Marlina membeku dengan mulut setengah terbuka, kantong plastik daging kurban di tangannya nyaris terjatuh. Mas Darto menurunkan tangannya perlahan, buku kas arisan itu masih tergenggam tapi kini terasa tak berarti apa-apa, jarinya mulai gemetar.
"Itu—" Mas Darto mencoba bicara, tapi tak ada kata yang keluar, wajahnya berubah pucat pasi.
Sekar sendiri berdiri mematung. Bukan karena rahasianya terbongkar—ia sudah siap dengan itu sejak awal, sejak ia memutuskan untuk tidak pernah mengungkitnya, bahkan pada dirinya sendiri. Yang membuatnya gemetar adalah tatapan orang-orang yang berubah dalam hitungan detik, dari cemooh menjadi... bingung. Malu. Beberapa dari mereka mulai menatap ke arah lain, tak sanggup menahan tatapan Sekar, seolah baru sadar betapa jahatnya kata-kata yang baru saja mereka lontarkan.
"Uang arisan yang hilang," Pak Haji melanjutkan lagi, kali ini menatap Mas Darto tajam, alisnya bertaut serius, "saya rasa sebaiknya diperiksa ulang di buku kas bulan lalu. Bukan bulan ini. Ada beberapa catatan yang kelihatannya perlu diklarifikasi ulang."
Mas Darto menelan ludah, keringat mulai membasahi keningnya meski udara pagi masih sejuk. Ia tahu betul apa yang dimaksud Pak Haji—dan dari raut wajahnya yang berubah pucat, sepertinya bukan hanya Sekar yang tahu ke mana sebenarnya uang itu mengalir selama ini.
Sekar masih berdiri di tengah keheningan itu, amplop cokelat kosong tergeletak di meja panitia, ketika sebuah mobil hitam berhenti tepat di gerbang masjid, debunya mengepul di jalan tanah yang biasanya hanya dilalui sepeda motor dan angkot butut. Seorang pria berjas abu-abu turun dari kursi belakang, melangkah tenang melewati kerumunan warga yang masih tercengang, sepatunya yang mengilat sama sekali tidak cocok dengan tanah becek halaman masjid, dan berhenti tepat di hadapan Sekar.
"Sekar Ayuning?" tanyanya, suaranya rendah dan formal, sama sekali tidak cocok dengan suasana desa yang baru saja gempar.
Sekar mengangguk pelan, masih belum pulih dari apa yang baru terjadi, jantungnya masih berdebar kencang meski karena alasan yang berbeda kini.
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku dalam jasnya, menyerahkannya dengan kedua tangan seperti kebiasaan orang kota yang sopan. "Saya dari kantor notaris Wardhana Group, Jakarta. Kami sudah mencari Anda selama tiga bulan."
Ia menyerahkan sebuah amplop lain—amplop putih, jauh lebih tebal dan lebih rapi dari yang tadi kosong di meja panitia.
"Ayah kandung Anda, Raditya Wardhana, meninggal dua bulan lalu. Dan Anda," pria itu menatap Sekar lurus-lurus, suaranya tidak berubah meski kalimat yang ia ucapkan begitu berat, "adalah satu-satunya ahli waris sah dari seluruh Wardhana Group."
Di belakangnya, warga yang tadi menghinanya kini saling berbisik semakin keras, wajah-wajah yang tadi penuh cemooh berubah menjadi campuran antara terkejut dan—entah kenapa—takut. Beberapa mulai mundur perlahan, seolah jarak fisik bisa menghapus kata-kata yang sudah terlanjur mereka ucapkan.
Sekar menatap amplop putih itu tanpa berani menyentuhnya, tangannya masih gemetar dari kejadian yang baru saja terjadi.
Seumur hidup ia dipanggil anak pungut. Dan sekarang, dalam satu tarikan napas, di halaman masjid yang sama tempat ia biasa duduk sendirian di pojok saat shalat Jumat, ia baru saja dipanggil ahli waris.
Bersambung ke Bab 2...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar