Dokumen setebal lima puluh halaman itu diletakkan di atas meja kaca ruang kerja Bhaskara, dengan pengacara keluarga duduk di ujung meja, membacakan pasal demi pasal dengan nada monoton yang membuat kepala Sekar berdenyut, sementara secangkir kopi yang disediakan untuknya sudah mendingin tanpa sempat disentuh.
"Pasal dua belas," kata pengacara itu, jarinya menelusuri baris demi baris di kertas, "pihak kedua—dalam hal ini Ibu Sekar Ayuning—tidak berhak mengajukan gugatan cerai dalam jangka waktu kontrak. Pasal tiga belas, pihak kedua wajib tinggal di kediaman keluarga Wardhana dan hadir dalam seluruh acara resmi keluarga tanpa terkecuali. Pasal empat belas—"
"Berapa lama saya harus baca ini semua?" Sekar memotong, kepalanya sudah terlalu penuh dengan istilah hukum yang tidak pernah ia dengar seumur hidup, matanya mulai berkunang membaca kalimat-kalimat panjang yang saling bertumpuk.
Bhaskara, yang duduk di seberangnya, tidak mengangkat wajah dari layar laptopnya, jarinya masih mengetik sesuatu dengan cepat. "Baca sampai selesai. Ini kontrak yang akan menentukan hidupmu satu tahun ke depan, jadi jangan sampai ada satu pasal pun yang terlewat."
"Kamu bahkan nggak menatapku saat bicara," gumam Sekar, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Bhaskara, meski nada suaranya cukup jelas untuk didengar.
Tapi Bhaskara mendengarnya. Ia mengangkat wajah sejenak, tatapannya datar, jarinya berhenti di atas keyboard. "Ini kontrak bisnis, Sekar. Bukan pernikahan sungguhan seperti yang kamu bilang kemarin. Nggak perlu ada tatap-tatapan romantis, cukup fokus pada apa yang tertulis di kertas ini."
Kata-kata itu menusuk, meski Sekar tidak sepenuhnya mengerti kenapa ia merasa tertusuk oleh kalimat yang seharusnya justru melegakan—kalimat yang menegaskan bahwa hubungan ini murni transaksi, tanpa embel-embel perasaan apa pun.
Pengacara melanjutkan pembacaan pasal demi pasal, suaranya nyaris tanpa jeda, hingga sampai pada bagian yang membuat Sekar menegang.
"Pasal dua puluh: apabila pihak kedua terbukti melakukan tindakan yang mencoreng nama baik keluarga Wardhana, kontrak dapat dibatalkan sepihak tanpa kompensasi apa pun, termasuk hak waris yang sudah dijanjikan sebelumnya."
"Siapa yang menentukan 'mencoreng nama baik'?" tanya Sekar, suaranya sedikit tajam.
"Dewan keluarga," jawab pengacara singkat, tidak mengangkat wajah dari berkasnya. "Dalam hal ini, Ibu Wardhani sebagai kepala keluarga, dengan suara penentu."
Sekar menatap dokumen itu lama, jari-jarinya mengetuk pelan tepi meja kaca. Ia tahu persis apa artinya—satu kata salah, satu langkah keliru, dan semuanya bisa direnggut kembali kapan saja oleh wanita yang sudah menatapnya dengan kebencian sejak detik pertama mereka bertemu, wanita yang bahkan tidak berusaha menyembunyikan rasa jijiknya terhadap latar belakang Sekar.
"Kalau aku menandatangani ini," kata Sekar pelan, menatap Bhaskara langsung, "aku menyerahkan seluruh hidupku ke tangan orang-orang yang bahkan nggak percaya aku ini anaknya Raditya. Kamu paham itu, kan?"
Bhaskara akhirnya menutup laptopnya dengan gerakan pelan, menatap Sekar penuh untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai. "Kamu bisa menolak. Sekarang juga. Nggak ada yang memaksamu, dan aku nggak akan menahanmu kalau kamu memutuskan pergi."
"Kalau aku menolak," Sekar balas menatapnya, suaranya mulai bergetar menahan emosi yang sudah lama ia tahan, "Nenekmu menang. Dan aku pulang ke desa sebagai gadis yang katanya sempat jadi 'calon pewaris konglomerat' tapi lari ketakutan begitu diuji. Kamu pikir itu lebih baik daripada aku menandatangani kontrak ini?"
Bhaskara tidak menjawab, tapi ada sesuatu di rahangnya yang mengeras—sedikit rasa hormat yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan, matanya menatap Sekar dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, seolah baru menyadari ada keberanian yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan latar belakang kampung.
Sekar mengambil pena yang disodorkan pengacara, tangannya sedikit gemetar saat menandatangani halaman demi halaman, hingga akhirnya sampai di halaman terakhir. Ia menahan napas sejenak, menatap tanda tangannya sendiri yang terlihat kecil dan rapuh di antara cap resmi dan meterai yang berjajar formal.
"Selamat," kata pengacara itu datar, mengumpulkan dokumen dengan gerakan cepat dan tertata. "Anda berdua resmi menjadi pasangan tunangan, dengan pernikahan dijadwalkan dua minggu dari sekarang, sesuai ketentuan wasiat."
Setelah pengacara keluar ruangan, membawa map tebal berisi kontrak yang baru saja mengikat hidup mereka berdua, hening menggantung di antara mereka berdua cukup lama. Sekar menatap tangannya sendiri, masih terasa asing dengan apa yang baru saja ia tanda tangani, seolah tinta itu masih terasa basah membekas di kulitnya.
"Kamu nggak menyesal?" tanya Bhaskara tiba-tiba, suaranya lebih pelan dari biasanya, berdiri dari kursinya untuk menuangkan segelas air putih meski sebenarnya bukan itu tujuannya—lebih seperti alasan untuk tidak duduk diam menatap Sekar.
"Aku menyesal banyak hal," jawab Sekar jujur, matanya menatap ke luar jendela yang menghadap taman rumah keluarga Wardhana. "Tapi bukan ini. Ayahku mencariku bertahun-tahun, sampai akhir hidupnya. Setidaknya aku harus tahu kenapa dia pergi, dan kenapa dia nggak pernah kembali sampai aku dewasa."
Bhaskara mengangguk pelan, sesuatu yang mirip pengertian muncul sekilas di matanya sebelum kembali tersembunyi di balik topeng dinginnya yang biasa.
"Satu hal lagi," katanya sambil berdiri di dekat jendela, tidak lagi menatap Sekar secara langsung. "Jangan pernah percaya semua yang dikatakan orang di rumah ini tentangmu. Termasuk Nenek. Termasuk Aurelia. Semua orang di sini punya kepentingan masing-masing, dan kamu perlu tahu itu sejak awal."
"Termasuk kamu?" tanya Sekar, setengah bercanda, setengah serius, mencoba mencairkan suasana yang terasa berat sejak awal pertemuan.
Bhaskara menoleh, dan untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang hampir seperti senyum di sudut bibirnya—senyum yang cepat hilang sebelum benar-benar terbentuk sempurna.
"Terutama aku," jawabnya, lalu keluar ruangan tanpa penjelasan lebih lanjut, meninggalkan Sekar dengan pertanyaan yang jauh lebih banyak daripada jawaban, dan secangkir kopi yang sudah benar-benar dingin di atas meja kaca.
Bersambung ke Bab 5...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar