Jakarta menyambut Sekar dengan udara yang berbeda—panas, lengket, penuh suara klakson yang tak pernah berhenti, tapi entah kenapa terasa lebih dingin dari udara pegunungan Ketapang Wangi. Ia duduk kaku di kursi kulit ruang tunggu lantai empat puluh dua gedung Wardhana Tower, tangannya masih menggenggam amplop putih yang diberikan notaris tiga hari lalu, seolah itu satu-satunya bukti bahwa ia berhak berada di tempat semewah ini.
Sepatunya—satu-satunya sepatu pantofel yang ia miliki, dibeli dari pasar Minggu tiga tahun lalu, kulitnya sudah agak retak di bagian ujung—terasa asing menapak lantai marmer yang berkilau seperti cermin. Ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di lantai itu, wajah yang terlihat lelah setelah perjalanan sembilan jam naik bus dari Ciamis ke Jakarta, dilanjutkan taksi yang tarifnya nyaris menghabiskan seluruh uang sakunya.
"Ibu Sekar Ayuning?" Seorang sekretaris muda menyapanya dengan senyum profesional yang entah kenapa terasa menilai dari ujung kepala sampai ujung kaki, matanya sempat berhenti sejenak di tas kain lusuh yang Sekar bawa. "Pak Bhaskara sudah menunggu."
Pintu ruang kerja itu terbuka, dan Sekar melangkah masuk ke ruangan yang lebih luas dari seluruh rumah neneknya di kampung, mungkin bahkan lebih luas dari tiga rumah digabung jadi satu. Dinding kaca dari lantai sampai langit-langit memperlihatkan pemandangan Jakarta yang membentang seperti lautan gedung, jauh berbeda dari sawah hijau yang biasa Sekar pandangi setiap pagi.
Di balik meja kaca besar, seorang pria berjas hitam duduk membaca berkas tanpa mengangkat wajah. Rahangnya tegas, alisnya bertaut, dan ada aura dingin yang membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat, meski pendingin ruangan sudah cukup dingin sejak awal.
"Duduk," katanya, tanpa menyapa, tanpa mengangkat wajah dari berkas di tangannya.
Sekar duduk di kursi seberang meja, punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan—kebiasaan lama, cara bertahan saat merasa terancam, sesuatu yang ia pelajari sejak kecil setiap kali harus menghadapi tatapan menghakimi orang dewasa.
Bhaskara akhirnya mengangkat wajah, menatap Sekar dengan tatapan yang menelisik, seolah sedang menghitung berapa lama gadis di depannya ini bisa bertahan sebelum menyerah dan mengaku sebagai penipu. Matanya berpindah dari wajah Sekar, ke tangannya yang kasar karena bertahun-tahun menjahit, lalu ke sepatunya yang lusuh.
"Kamu tahu berapa banyak orang yang mengaku sebagai anak hilang Pak Raditya sejak berita kematiannya tersebar?" tanyanya datar, meletakkan berkas di tangannya ke meja dengan gerakan yang terlalu terkontrol untuk terlihat santai. "Tujuh belas orang. Semuanya palsu. Ada yang bawa foto editan, ada yang bawa surat lahir palsu, bahkan ada yang berani datang dengan pengacara sewaan."
"Aku nggak pernah mengaku apa-apa," jawab Sekar, suaranya lebih tenang dari yang ia kira sanggup, meski jantungnya berdebar kencang. "Notaris yang datang ke desaku, bukan aku yang datang ke sini mencari-cari."
"Hasil tes DNA awal memang cocok." Bhaskara menyandarkan punggung ke kursi, jari-jarinya menopang dagu, matanya masih tidak lepas dari Sekar. "Tapi cocok secara data bukan berarti kamu pantas mewarisi apa pun. Kamu tumbuh di kampung, jualan keset dari kain bekas. Kamu bahkan nggak tahu cara pakai garpu yang benar mungkin, apalagi menghadiri rapat pemegang saham atau memimpin divisi dengan ratusan karyawan."
Ucapan itu menusuk lebih dalam dari yang Bhaskara duga. Sekar merasakan pipinya panas, tapi ia menahan diri untuk tidak menunduk, mengingat kembali bagaimana ia selalu diajari untuk berdiri tegak meski dihina.
"Aku memang nggak tahu cara pakai garpu yang benar, Pak," katanya, suaranya mulai bergetar tapi tegas. "Tapi aku tahu cara kerja keras dari umur sepuluh tahun, waktu aku mulai bantu nenek jualan keset keliling kampung. Aku tahu cara nabung recehan sampai bisa nyumbang sepuluh ekor kambing tanpa minta pujian siapa pun, bahkan sampai harus jual satu-satunya perhiasan peninggalan orang tua. Kalau itu nggak cukup buat dianggap pantas jadi apa pun, ya sudah—aku nggak butuh warisan ini."
Ia berdiri, hendak melangkah keluar, tangannya sudah menyentuh gagang pintu, dadanya masih sesak menahan amarah yang jarang ia tunjukkan, ketika suara Bhaskara menahannya.
"Duduk lagi."
Sekar berhenti, tapi tidak berbalik, punggungnya masih tegang.
"Aku belum selesai bicara," lanjut Bhaskara, nada suaranya sedikit berubah—bukan lebih lembut, tapi lebih hati-hati, seolah ia baru saja menyadari sesuatu. "Ayahku menuliskan namamu di wasiat sebelum dia meninggal, dengan tulisan tangannya sendiri, bukan diketik oleh notaris yang mengejarmu ke desa. Itu artinya dia benar-benar mencarimu, bertahun-tahun, sebelum akhirnya menyerah karena sakit yang menggerogoti tubuhnya."
Sekar berbalik perlahan. Ada sesuatu di mata Bhaskara yang tidak sepenuhnya dingin—sesuatu yang mirip luka lama yang coba disembunyikan di balik nada bicara yang keras dan terkontrol.
"Kalau begitu kenapa Bapak bicara seolah aku ini penipu?" tanya Sekar pelan, kembali melangkah mendekati kursi tapi belum duduk.
Bhaskara diam sejenak, lalu berdiri, berjalan ke jendela besar yang menghadap langsung ke lautan gedung Jakarta, punggungnya menghadap Sekar.
"Karena setiap orang yang pernah masuk ke keluarga ini dengan embel-embel 'anak yang hilang' atau 'kerabat jauh', akhirnya pergi dengan uang di tangan dan meninggalkan kekacauan di belakang," katanya, suaranya lebih rendah, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Aku nggak akan biarkan itu terjadi lagi. Bukan pada perusahaan ini yang dibangun ayahku dari nol. Bukan pada keluarga ini yang sudah cukup babak belur oleh perpecahan."
Sekar menatap punggung tegap itu, dan untuk pertama kalinya sejak amplop putih itu diserahkan padanya, ia merasa bukan hanya harus membuktikan diri bukan penipu—tapi juga harus menembus tembok yang jauh lebih tinggi dari sekadar kecurigaan seorang pria asing.
"Aku nggak minta apa-apa dari keluarga ini," ujarnya akhirnya, kembali duduk di kursinya. "Aku cuma mau tahu, kenapa ayahku pergi, kenapa dia nggak pernah datang menemuiku selama bertahun-tahun aku tumbuh besar tanpa tahu wajahnya. Sisanya, terserah Bapak mau percaya atau tidak."
Bhaskara berbalik, menatapnya lama, matanya menelusuri wajah Sekar seolah mencari sesuatu, sebelum akhirnya mengangguk sekali—singkat, kaku, tapi cukup untuk menjadi awal dari sesuatu yang belum bisa mereka berdua definisikan.
"Besok kamu akan bertemu Nenek," katanya, kembali duduk di kursinya, suaranya kembali formal. "Bersiaplah. Dia jauh lebih sulit ditembus daripada aku."
Sekar tidak tahu bahwa kalimat itu adalah peringatan paling ringan dari semua yang akan ia hadapi di rumah besar itu.
Bersambung ke Bab 3...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar