Rumah keluarga Wardhana bukan sekadar rumah—itu adalah istana bergaya kolonial dengan pilar-pilar marmer putih dan taman seluas satu hektare yang dipenuhi bunga anggrek langka, dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter yang dijaga dua satpam bersenjata. Sekar berdiri di depan pintu utama, jantungnya berdebar lebih keras daripada saat ia menghadapi seluruh warga desa yang menuduhnya mencuri, tangannya berkeringat dingin meski udara pagi itu tidak terlalu panas.

Pintu terbuka, dan seorang wanita tua dengan rambut disanggul rapi serta kebaya beludru hitam berdiri di ambang pintu, menatap Sekar dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan yang membuat Sekar merasa seperti barang dagangan yang sedang dinilai kualitasnya sebelum dibeli—atau ditolak.

"Jadi ini," kata wanita itu, suaranya tajam meski pelan, kalungi mutiara di lehernya berkilau tertimpa cahaya pagi, "anak yang katanya darah Raditya."

"Nenek Wardhani," Bhaskara memperkenalkan, nada suaranya berubah lebih formal, lebih waspada, tubuhnya sedikit tegang berdiri di samping Sekar. "Ini Sekar."

Nenek Wardhani tidak mengulurkan tangan. Ia hanya berbalik dan melangkah masuk dengan langkah anggun yang terlatih bertahun-tahun, tongkat kayu berukir di tangannya diketuk pelan ke lantai marmer, meninggalkan pintu terbuka sebagai satu-satunya isyarat bahwa Sekar boleh mengikuti.

Ruang tamu itu penuh foto keluarga dalam bingkai emas—wajah-wajah yang tampak begitu berkelas, begitu jauh dari dunia Sekar, tersenyum formal dalam balutan gaun dan jas mahal. Di salah satu sudut, seorang wanita muda berdiri dengan gaun sutra berwarna krem, rambutnya disasak sempurna, tersenyum tipis saat melihat Sekar masuk.

"Jadi kamu yang bikin geger seluruh keluarga selama seminggu ini," katanya, suaranya manis tapi matanya menilai dengan dingin, langkahnya mendekat dengan gaya berjalan yang seolah dilatih sejak kecil. "Aurelia. Aku... teman dekat Bhaskara."

Ada penekanan halus di kata "teman dekat" yang membuat Sekar mengerti maksudnya tanpa perlu penjelasan lebih lanjut—penekanan yang seolah ingin menandai wilayah sebelum pertempuran dimulai.

Nenek Wardhani duduk di kursi utama yang lebih tinggi dari kursi-kursi lain di ruangan itu, tangannya bersedekap di pangkuan. "Aku sudah dengar cerita tentang tempat asalmu. Desa kecil, ya? Jualan keset dari kain perca?"

"Betul, Nek," jawab Sekar, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya sesak.

"Menarik," Nenek Wardhani tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. "Raditya, anakku, membangun perusahaan tekstil terbesar di Jawa Tengah dari nol, bahkan sempat tidur di gudang pabrik selama bertahun-tahun demi membesarkan usaha ini. Dan sekarang, katanya, darahnya mengalir di tubuh seorang penjahit keset kampung yang bahkan nggak pernah menginjak bangku SMA."

Sekar merasakan sengatan di dadanya, tapi ia menahan diri. "Aku nggak malu jadi penjahit keset, Nek. Itu yang bikin aku bisa makan selama ini, dan itu juga yang bikin aku bisa nyumbang sepuluh ekor kambing tanpa minta bantuan siapa pun."

"Oh, aku yakin itu," sela Aurelia, ikut duduk di sofa dengan gaya anggun yang dilatih bertahun-tahun, tangannya merapikan lipatan gaunnya. "Tapi perusahaan sebesar Wardhana Group butuh lebih dari sekadar darah yang cocok di tes DNA. Butuh kelas. Butuh pendidikan. Butuh—maaf kalau ini terdengar kasar—orang yang tahu cara bicara di depan pemegang saham tanpa logat kampung yang medok."

Tawa kecil Aurelia terdengar seperti sembilu, dan beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan menunduk cepat, berpura-pura sibuk agar tidak terlibat.

Sekar menatap kedua wanita di depannya, merasakan familiar déjà vu—ruangan berbeda, kata-kata berbeda, tapi rasa yang sama persis dengan yang ia rasakan di halaman masjid Ketapang Wangi minggu lalu. Ia menggenggam ujung roknya erat-erat, menahan diri agar tidak gemetar terlihat.

"Wasiat ayahku bilang aku berhak," kata Sekar akhirnya, suaranya lebih tegas dari sebelumnya, menatap langsung ke mata Nenek Wardhani. "Bukan kalian yang berhak menentukan aku pantas atau tidak. Kalau memang aku nggak berhak, biar hukum yang bicara, bukan cemoohan."

Nenek Wardhani mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian yang tiba-tiba muncul di suara gadis di depannya, sesuatu yang jarang ia temui di antara orang-orang yang biasa mengunjungi rumahnya.

"Wasiat itu," katanya lambat-lambat, jarinya mengetuk pelan lengan kursi, "punya syarat yang belum kamu tahu."

Ia menoleh ke arah Bhaskara, tatapannya tajam menuntut.

"Jelaskan padanya."

Bhaskara berdiri diam sejenak, rahangnya mengeras, matanya sempat melirik Sekar sebelum akhirnya bicara dengan nada yang jelas-jelas dipaksakan agar tetap tenang.

"Untuk sah mewarisi lima puluh satu persen saham Wardhana Group," katanya, matanya menghindar dari tatapan Sekar, "ayahku menuliskan syarat bahwa kamu harus menikah dengan salah satu anggota keluarga inti dalam waktu satu bulan sejak wasiat dibacakan. Dan tinggal di rumah ini selama satu tahun penuh sebelum warisan itu sepenuhnya sah atas namamu."

Ruangan itu hening, hanya suara detak jam antik di sudut ruangan yang terdengar jelas.

"Menikah?" Sekar mengulang kata itu seolah tidak percaya pada telinganya sendiri, tangannya mendadak terasa dingin. "Menikah sama siapa?"

Nenek Wardhani tersenyum tipis, kali ini dengan kepuasan yang tidak disembunyikan, seolah sudah menunggu pertanyaan itu sejak awal.

"Satu-satunya anggota keluarga inti yang belum menikah," katanya, menatap cucunya dengan tatapan yang penuh perhitungan, "adalah Bhaskara."

Aurelia berdiri seketika, wajahnya memucat, gaun sutranya berkibar oleh gerakan tiba-tiba itu. "Nek, itu tidak—kita sudah bicarakan ini sebelumnya, bukan begini caranya—"

"Itu keputusan Raditya," potong Nenek Wardhani tegas, matanya menatap Aurelia sekilas dengan isyarat agar diam, "bukan keputusanku. Kalau kalian berdua menolak, seluruh warisan jatuh ke yayasan amal yang bahkan tidak pernah didengar namanya, dan Wardhana Group kehilangan lima puluh satu persen sahamnya begitu saja ke tangan orang asing."

Sekar menatap Bhaskara, dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah pria itu—kebingungan yang sama besarnya dengan miliknya sendiri, matanya sedikit melebar seolah baru pertama kali mendengar detail syarat itu secara gamblang.

"Aku nggak akan memaksamu," kata Bhaskara pelan, suaranya nyaris seperti bisikan hanya untuk Sekar, mengabaikan Aurelia yang masih berdiri kaku di sampingnya. "Tapi kalau kamu menolak, semua yang jadi hakmu akan hilang begitu saja, dan kamu akan pulang ke desa dengan status yang bahkan lebih buruk dari sebelumnya."

Sekar menunduk, menatap tangannya sendiri—tangan yang selama bertahun-tahun menjahit keset demi bertahan hidup, tangan yang mengumpulkan recehan demi recehan untuk sepuluh ekor kambing yang disumbangkan diam-diam, tangan yang sekarang gemetar menghadapi keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

"Aku setuju," katanya akhirnya, suaranya bergetar tapi mantap, mengangkat wajahnya menatap Nenek Wardhani langsung. "Tapi ini kontrak. Bukan pernikahan sungguhan."

Nenek Wardhani tersenyum penuh kemenangan, sementara Aurelia berbalik meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun, langkahnya cepat dan keras menghentak lantai marmer, meninggalkan aroma parfum mahal yang menggantung di udara sebagai satu-satunya jejak kemarahannya.

Bersambung ke Bab 4...