Mara tidak berteriak.
Tidak menutup mata. Tidak melompat dari kasur.
Hanya berbaring dengan seluruh otot tubuhnya yang mengeras sekaligus, menatap sosok kecil di sudut kamar.
Sosok itu tidak bergerak.
Tidak mendekat.
Tidak mengeluarkan suara.
Hanya berdiri di sana—di sudut yang paling gelap, di luar jangkauan cahaya lampu yang redup itu—dan menatap.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Sosok itu masih tidak bergerak.
Mara memaksa dirinya sendiri untuk berpikir secara logis. Bisa jadi bayangan dari luar jendela. Bisa jadi tumpukan baju yang ditaruh salah. Bisa jadi matanya sendiri yang lelah dan menciptakan bentuk dari kegelapan.
Tapi kemudian dari dalam dinding—
Tok.
Satu ketukan.
Mara menoleh ke dinding refleks. Satu detik. Dua.
Ketika menoleh balik ke sudut kamar, sosok itu tidak ada lagi.
Sudut kamar kosong.
Hening.
Mara duduk tegak di kasur.
Menatap sudut itu. Lantai itu.
Tidak ada bekas. Tidak ada apapun yang menjelaskan sosok tadi.
Mara meraih HP dari bawah bantal. Melihat jam.
03.00.
Tepat jam tiga.
Dia membuka kamera HP. Menyorot ke sudut kamar.
Kosong.
Ke lemari.
Kosong.
Ke bawah kasur.
Kosong.
Dia menghela napas.
Bangkit. Berjalan ke pintu yang tadi terbuka sendiri. Mengintip ke lorong.
Redup. Lampu berkedip-kedip pelan. Tidak ada orang.
Tapi di lantai—tepat di depan pintunya—ada jejak basah.
Beberapa jejak.
Kecil-kecil.
Mara jongkok.
Tapak kaki. Ukurannya sama dengan bekas di dalam kamar tadi. Menghadap ke pintunya dari arah ujung lorong—seolah sesuatu berjalan dari ujung sana ke sini.
Dan berhenti di depan pintunya.
Mara menyorotkan kamera HP ke jejak itu.
Mengambil foto.
Lalu menyorot ke ujung lorong yang gelap.
Kosong.
Dia kembali ke dalam. Menutup pintu.
Melihat foto yang baru diambil di layar HP.
Jejak kaki itu terlihat jelas di foto.
Tapi ada sesuatu yang tidak Mara lihat langsung barusan.
Di sebelah jejak-jejak kaki kecil itu—bayangan. Bukan bayangan kaki. Bayangan tubuh. Berdiri tegak. Lebih tinggi dari bayangan yang seharusnya dibuat oleh anak seukuran jejak kaki itu.
Seperti ada dua sosok di lorong tadi.
Yang satu: kecil, meninggalkan jejak basah.
Yang satu lagi: lebih besar, tidak meninggalkan jejak apapun.
Mara meletakkan HP.
Berbaring lagi.
Dan tidak tidur sampai adzan subuh berkumandang dari masjid di ujung gang—adzan yang terdengar seperti izin untuk akhirnya menutup mata.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar