Pagi.

Mara turun dengan mata sembab dan kepala yang berat.

Dia tidak tidur. Bukan karena ketakutan yang besar—atau bukan hanya itu. Lebih karena sesuatu di kamar itu membuat tidur terasa seperti melepaskan kewaspadaan yang tidak boleh dilepaskan. Setiap kali matanya hampir terpejam, ada sesuatu yang membuatnya membuka lagi.

Bukan suara.

Bukan gerakan.

Hanya perasaan.

Perasaan bahwa ada yang mengawasi.

Ibu Nining sudah di dapur ketika Mara turun jam enam pagi. Merebus air. Punggungnya ke arah Mara.

"Itu kamar siapa sebelumnya?" tanya Mara langsung.

"Sita." Ibu Nining tidak menoleh. "Mahasiswi. Pulang kampung dua bulan lalu."

"Meninggalkan bajunya?"

Hening.

Ibu Nining terus merebus air.

"Dia lupa."

Mara menyandarkan diri ke kusen pintu dapur.

"Meninggalkan bajunya di lemari. Dan meninggalkan kopi yang masih hangat di meja. Setelah dua bulan."

Ibu Nining akhirnya menoleh.

Matanya membaca wajah Mara dengan cara yang terlalu lama untuk sebuah tatapan biasa.

"Mungkin kamu yang buat sendiri tadi malam. Orang lelah sering tidak ingat."

"Saya tidak membuat kopi."

"Orang yang sangat lelah—"

"Saya tidak membuat kopi," ulang Mara.

Keduanya diam.

Lalu seseorang muncul dari lorong samping.

Laki-laki. Sekitar dua puluh empat tahun. Rambut sedikit berantakan tapi bukan karena tidak dirawat—lebih karena baru bangun dan belum sempat. Kemeja putih dilipat ke siku. Perawakannya tenang dengan cara yang tidak terlihat dipaksakan.

Dia melihat Mara dan tersenyum. Senyum ramah, spontan, tipe senyum orang yang sudah terbiasa dengan penghuni baru.

"Penghuni baru?"

"Dion," kata Ibu Nining. Bukan memperkenalkan—lebih seperti memberikan informasi penting yang perlu diketahui Mara. "Kamar sebelah kamu."

Dion mengulurkan tangan.

"Mara," jawab Mara sambil menyalaminya.

"Kapan masuk?"

"Tadi malam."

"Kos lamanya kenapa?"

"Banjir."

Dion mengangguk seperti ini adalah informasi yang masuk akal sepenuhnya.

Mara menoleh ke Dion.

"Sita—penghuni kamar sebelumnya. Kamu kenal?"

Sesuatu bergerak di wajah Dion. Sangat cepat. Mara hampir tidak melihatnya.

"Lumayan kenal. Kenapa?"

"Dia pulang kampung?"

Dion melirik ke Ibu Nining yang sudah membalik punggungnya lagi.

"Sita tidak pulang kampung," kata Dion. Pelan. Sangat pelan, hampir bisikan. Bukan karena dia takut didengar—tapi karena kata-katanya memang untuk Mara saja.

Mara menahan napas.

"Lalu?"

Dion melirik lagi ke arah Ibu Nining.

"Nanti. Bukan di sini."

Dia tuang air panas ke gelasnya, mengangguk kecil ke Mara, dan pergi ke kamarnya. Menutup pintu dengan pelan.

Mara berdiri di dapur dengan pertanyaan yang makin berat.

Ibu Nining meletakkan gelas teh di meja.

"Sarapan dulu," kata perempuan tua itu. "Dan ini."

Dia menyerahkan selembar kertas A4 yang dilipat dua.

Daftar aturan kos.

Mara membacanya sambil berdiri. Bayar sebelum tanggal lima. Tamu tidak boleh menginap. Sampah dibuang setiap hari. Jaga kebisingan setelah jam sepuluh malam.

Standar semua.

Sampai baris terakhir.

Mara membacanya dua kali untuk memastikan dia tidak salah baca.

*Kamar ujung tidak boleh dikunci dari dalam setelah pukul 23.00.*

Dia mengangkat kepala.

"Ini maksudnya apa?"

"Supaya kalau ada apa-apa, bisa langsung dibantu dari luar."

"Tapi itu kamar saya. Saya berhak menguncinya."

"Bukan aturan yang bisa ditawar."

Mara menatap kertas itu lagi.

Semua aturan lain punya logika yang masuk akal. Pembayaran, kebisingan, tamu—semuanya wajar untuk kos bersama. Tapi larangan mengunci kamar sendiri setelah jam sebelas malam?

Siapa yang perlu masuk ke kamar seseorang jam sebelas malam untuk "membantu"?

"Kalau ada keadaan darurat," kata Mara, "saya bisa buka pintu sendiri. Saya tidak butuh dibantu dari luar."

"Aturannya sudah begitu sejak dulu."

"Sejak kapan dulu?"

Ibu Nining tidak menjawab.

Mengambil gelasnya. Minum.

Mara meletakkan kertas aturan di meja.

Malam itu, jam sebelas kurang sepuluh, Mara berdiri di dalam kamarnya dan menatap pintu.

Mengingat tulisan itu.

*Kamar ujung tidak boleh dikunci dari dalam setelah pukul 23.00.*

Mara memutar kunci.

Menguncinya.

Berbaring di kasur.

Menatap langit-langit.

Jam sebelas tiga menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Aman.

Mungkin memang tidak ada apa-apa. Mungkin Ibu Nining hanya eksentrik. Mungkin peraturan aneh itu punya alasan pragmatis yang tidak Mara mengerti tapi tidak perlu dikhawatirkan.

Jam sebelas dua puluh tiga.

Gagang pintu berputar.

Perlahan.

Dari luar.

Mara membatu di kasur.

Gagang berputar. Satu kali. Berhenti. Lalu mencoba lagi, lebih keras. Seperti seseorang yang tidak mengira pintunya terkunci dan mencoba memastikan.

Lalu berhenti.

Hening.

Mara menahan napas.

Dan dari balik pintu—suara langkah kaki yang menjauh.

Bukan langkah berat orang dewasa.

Langkah yang ringan.

Sangat ringan.

Seperti langkah anak-anak.