Dion sudah duduk di warung itu sebelum Mara datang.

Dua gelas teh sudah di meja. Warung kecil di ujung Gang Kemuning yang bukanya sejak subuh, mejanya kayu dengan permukaan yang lengket dari lemak dan sisa minuman bertahun-tahun. Suara pasar di kejauhan mulai hidup.

Mara duduk. Langsung meletakkan foto yang sudah dia print di tukang cetak foto dekat minimarket tadi pagi.

Dion melihat foto itu.

Wajahnya tidak berubah.

"Kamu sudah pernah lihat foto seperti ini sebelumnya," kata Mara.

Dion menyentuh tepi foto itu dengan ujung jarinya.

"Sita kirim foto yang hampir sama ke aku. Sebulan sebelum dia hilang."

"Hilang." Mara mengulang kata itu. "Bukan pulang kampung."

"Bukan pulang kampung."

Mara melingkari gelasnya dengan kedua tangan. Di luar warung, penjual sayur mulai mendorong gerobaknya. Motor-motor pertama mulai lewat. Dunia pagi yang normal.

"Ceritakan dari awal."

Dion mengambil napas.

"Sita pindah ke kos itu enam bulan lalu. Sama seperti kamu—mendadak, tidak ada pilihan lain, dapat info dari sumber yang kebetulan. Minggu pertama dan kedua normal. Minggu ketiga, dia mulai cerita soal suara ketukan tepat jam tiga malam."

"Setiap malam?"

"Setiap malam, tepat jam tiga." Dion menarik nafas. "Bedanya Sita lebih penasaran dari takut. Dia mulai investigasi—mencari data lama soal kos ini, soal Gang Kemuning, soal siapa yang pernah tinggal atau meninggal di sana."

"Dan?"

"Dia menemukan nama."

Angin pagi melewati gang. Mara menunggu.

"Rindi. Sembilan tahun. Ditemukan meninggal di kamar kos itu tahun dua ribu tiga. Kematian tidak wajar tapi kasus ditutup." Dion menatap mejanya. "Di kamar ujung, lantai dua."

Kamar Mara sekarang.

Sesuatu merayap di punggung Mara.

"Lalu Sita menghilang?"

"Enam minggu setelah menemukan nama itu. Pagi hari dia masih ada—aku ketemu di dapur, ngobrol biasa. Siang itu kamarnya kosong." Dion mengerutkan dahi. "Tasnya masih ada. HP-nya masih di meja. Kunci kamarnya masih tergantung di pintu dari dalam."

"Dari dalam?"

"Pintu tidak dikunci, tapi kuncinya masih di lubang kunci dari sisi dalam. Seperti dia bermaksud kembali sebentar lagi."

"Polisi?"

"Ibu Nining yang lapor. Bilang Sita pamit pergi mendadak, keluarga ada yang sakit. Tidak ada tanda kekerasan. Kamera CCTV gang rusak sudah lama. Polisi tutup kasus dalam seminggu."

Mara mengepalkan tangan di bawah meja.

"Dan kamu tidak bilang ada yang tidak beres?"

"Aku bilang." Dion menatap Mara. "Polisi bilang tidak ada bukti."

Mara memandang map tipis yang sudah Dion siapkan di meja. Map yang Mara lihat tadi tapi belum dibuka.

Dion mendorongnya ke arah Mara.

"Ini yang aku ambil dari kamarnya sebelum Ibu Nining beresin semua. Fotokopi artikel, laporan kematian Rindi, catatan investigasi Sita."

Di dalam map: fotokopi artikel koran lama, foto buram tapi cukup jelas. Kamar yang sama. Kasur yang sama. Laporan kepolisian dengan nama Rindi tertulis di atasnya.

Mara menutup map.

Malam itu, Mara meletakkan recorder kecil di bawah pintu sebelum tidur.

Jam 02.58, dua menit sebelum jam tiga, dia pura-pura tertidur sambil telinga tetap terbuka.

03.00 tepat.

Ketukan.

Satu ketukan.

Jeda panjang.

Satu ketukan lagi.

Mara tidak bergerak.

Lalu dari balik pintu, suara.

Sangat pelan. Hampir tidak ada. Tapi dalam keheningan malam itu, cukup jelas.

Menyebut nama.

Bukan nama Mara.

Nama yang tidak pernah Mara sebut ke siapapun sejak pindah ke kos ini. Nama yang tidak ada di KTP, tidak di kontak HP, tidak di apapun yang mungkin ditemukan seseorang di kamar ini.

Nama adiknya.

Reza.