Keesokan harinya, saat Mara membereskan kamar—memindahkan baju dari ransel ke lemari, menyusun buku di meja—dia menemukan buku sketsa.
Tersembunyi di balik panel kayu lemari.
Bukan di rak. Bukan tergeletak di bawah. Tapi di balik panel samping lemari, ada celah sempit yang tidak terlihat kecuali kalau memang membongkar isi lemari dengan teliti.
Di celah itu, terselip buku tulis tipis dengan sampul coklat.
Nama di depannya: Sita Rahmadhani.
Mara membawa buku itu ke kasur. Duduk. Membukanya.
Halaman pertama: catatan belanja. Sabun cuci, detergen, mie instan, tisu. Tulisan rapi dengan pena biru.
Halaman kedua: jadwal kuliah semester tujuh. Nama mata kuliah, nama dosen, jam kelas.
Halaman ketiga: catatan biasa, sepertinya tentang materi tugas.
Mara hampir menutup buku itu.
Lalu membalik satu halaman lagi.
Tulisannya berubah.
Lebih besar. Lebih menekan kertas. Seperti seseorang yang menulis sambil tangannya tidak sepenuhnya stabil.
*Malam ketiga. Ada yang mengetuk lagi. Tepat jam tiga.*
Mara membaca kalimat itu dua kali.
Membalik halaman.
*Malam keempat. Tidak membuka pintu. Tapi pagi ini ada bekas air di bawah pintu—merembes dari luar. Padahal lantai lorong kering sempurna saat saya periksa.*
Halaman berikutnya.
*Saya mendengar suara napas. Bukan dari lorong. Dari dalam lemari.*
Mara menutup buku dengan keras.
Berdiri.
Menatap lemari di depannya.
Lemari yang baru saja dia buka dan isi dengan bajunya sendiri.
Hening.
Tidak ada apa-apa dari dalam.
Dia duduk lagi. Membuka buku ke halaman terakhir yang ada tulisannya.
Tinta lebih tebal di sini. Lebih berat. Seperti seseorang yang menekan pena terlalu keras karena tangan yang memegang pena tidak bisa berhenti bergetar.
*Jangan buka pintu jam tiga. Apapun yang terjadi. Apapun yang kamu dengar. Apapun suara yang keluar dari balik pintu itu—jangan buka.*
*Dia bisa memakai suara orang yang paling kamu sayangi.*
*Suara itu bukan mereka.*
Di bawah tulisan Sita, ada satu baris lagi. Tinta berbeda. Tanggal yang berbeda—ditulis belakangan. Dan yang paling mengganggu: bentuk hurufnya berbeda. Bukan tulisan Sita.
Tulisan yang lebih kecil. Lebih rapi. Seperti tulisan anak-anak yang sedang berusaha terlihat dewasa.
*Dia sudah baca namaku. Sekarang aku bisa masuk.*
Mara menjatuhkan buku itu.
Dia berdiri. Berjalan ke lorong. Mencari Arini—penghuni kamar tengah yang pindah bersamaan dengannya dua hari lalu—yang sedang keluar dari kamar mandi dengan handuk di bahu.
"Kamu pernah dengar cerita soal penghuni sebelumnya? Sita?"
Arini mengerutkan dahi. "Yang katanya pulang kampung itu?"
"Ada cerita lain yang pernah kamu dengar?"
"Waktu saya tanya ke Ibu Nining, dia bilang Sita pergi mendadak. Keluarga sakit." Arini mengangkat bahu. "Tapi ada penghuni lama—aku ketemu di warung depan kemarin—dia bilang Sita itu aneh di akhir. Suka bicara sendiri. Sering berdiri lama di depan cermin."
Mara mengangguk pelan.
Bicara sendiri.
Berdiri di depan cermin.
Tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami sesuatu yang membuat batas antara yang nyata dan yang tidak mulai kabur.
Mara kembali ke kamarnya.
Mengetuk kamar Dion.
Dion membuka pintu. Matanya membaca ekspresi Mara.
"Kamu menemukan buku catatannya."
Bukan pertanyaan.
Mara mengangguk.
Dion menoleh ke arah bawah tangga—arah kamar Ibu Nining.
"Bukan di sini," katanya, seperti kemarin. "Warung di ujung gang. Besok pagi. Jam tujuh."
Dia hampir menutup pintu, lalu berhenti.
Menatap Mara.
"Dan malam ini—jangan kunci pintunya."
"Kenapa?"
Dion mengambil napas kecil.
"Karena kalau kamu kunci dan dia tidak bisa masuk dari luar—dia akan mencari cara masuk dari dalam."
Mara menatap laki-laki itu.
"Dari dalam lemari?"
Dion tidak menjawab itu.
Hanya menutup pintunya.
Mara berdiri di lorong sendirian selama beberapa detik, mencerna kalimat itu.
Malam itu, jam sebelas kurang lima, Mara berdiri di depan pintunya. Memandang kunci yang sudah masuk ke lubang kuncinya. Mengingat suara langkah ringan tadi malam. Mengingat tulisan di buku Sita.
Dia menarik kuncinya.
Membuka pintu sedikit—tidak lebar, hanya selebar jari, cukup untuk udara masuk.
Berbaring di kasur.
Mata terbuka.
Jam dua belas berlalu.
Jam satu.
Jam dua.
Aman.
Mungkin memang tidak ada apa-apa malam ini. Mungkin kemarin hanya angin. Mungkin—
Pintu terbuka.
Sendiri.
Sangat perlahan, sangat pelan, seperti seseorang yang tidak ingin menimbulkan suara.
Mara tidak bergerak.
Suhu di kamar itu turun tiba-tiba. Bukan dingin yang berangsur—dingin yang datang sekaligus, dalam hitungan detik.
Seperti sesuatu masuk.
Mara menatap sudut kamar.
Dan di sana—di sudut gelap itu—ada sesuatu yang berdiri.
Kecil.
Seukuran anak-anak.
Tidak bergerak.
Hanya berdiri.
Dan menatap Mara.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar