Rara duduk di balkon setelah Devano tidur.
Angin malam tidak kencang. Lampu jalan dari bawah menerangi separuh tembok kompleks, sisanya gelap. Jakarta hampir tidak pernah punya bintang kelihatan dari sini.
Demamnya sudah benar-benar selesai sekarang.
Ia memikirkan tadi siang. Kursi dekat AC. Devano yang menggeser posisi Bunda supaya tidak kena angin.
Lalu ia memikirkan tahun pertama.
Anniversary pertama mereka.
Rara pulang setengah hari lebih cepat dari kantor — bukan sesuatu yang biasa ia lakukan. Masak dua jam: pasta karena Devano suka, ayam panggang supaya ada yang lebih berat, salad.
Ia juga menyalakan dua lilin kecil di tengah meja.
Devano pulang jam delapan.
Meletakkan tas, melepas sepatu, masuk ke ruang makan. Memandang meja sebentar.
"Oh, kamu masak? Biasanya kita beli."
Bukan jahat. Bukan tidak berterima kasih.
Hanya tidak melihat usaha di baliknya.
Devano duduk, makan, bilang enak. Meniup lilin karena apinya mengganggu mata. Mengajak nonton setelah makan — ia yang pilih film. Rara ikut.
Malam itu Rara tidak mengatakan apa-apa.
Bukan karena tidak ada yang perlu dikatakan.
Ada pertanyaan yang sudah siap di mulutnya dan ia telan kembali: kamu ingat hari ini hari apa? Kalau ditanya, Devano pasti ingat, lalu minta maaf, dan itu akan jadi pertengkaran kecil di hari yang seharusnya jadi momen.
Jadi Rara tidak bertanya.
Lilin mati.
Pasta habis.
Film selesai jam sebelas.
Kembali ke balkon, malam ini.
Rara menghitung.
Berapa kali ia menelan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan yang sudah di ujung lidah tapi ia putuskan tidak cukup penting untuk diucapkan, atau terlalu melelahkan untuk dijelaskan dari awal, atau terlalu riskan untuk dijawab dengan cara yang salah.
Kamu ingat aku bilang tidak suka daun bawang?
Kamu tahu bulan depan ulang tahun sahabatku yang paling dekat?
Kamu pernah, sekali saja, bangun lebih pagi dari aku bukan karena ada meeting?
Kamu tahu aku tidak bisa lama-lama duduk dekat AC?
Terlalu banyak untuk dihitung.
Dan itu yang paling aneh — bukan bahwa Rara tidak pernah mencoba. Ia pernah. Pernah bilang, pernah minta, pernah menyebut dalam percakapan yang lewat begitu saja. Tapi lama-lama ia belajar kapan perlu diulangi dan kapan tidak.
Devano tidak jahat. Itu yang membingungkan.
Pria yang jahat lebih mudah. Ada yang bisa disalahkan, ada alasan yang bisa dijelaskan ke orang lain.
Devano baik. Hanya tidak hadir.
Dan mencintai orang yang baik tapi tidak hadir itu aneh — karena kamu tidak bisa marah dengan cara yang terasa sah. Orang akan bilang: tapi dia nggak jahat kan? Tapi dia pulang tiap hari kan? Tapi dia nggak pukul kamu kan?
Iya.
Semua itu iya.
Tapi rasa lapar tidak hilang hanya karena alasan untuk lapar terasa tidak cukup besar.
HP Rara bergetar di tangannya.
Mas Fajar: Ra, minggu ini ada waktu ngopi? Mau cerita sesuatu. Nggak lama.
Rara memandang pesan itu sebentar.
Mengetik: Bisa. Rabu?
Meletakkan HP.
Memandang kembali ke langit Jakarta yang tidak pernah punya bintang kelihatan.
. . .
Bersambung.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar