Rumah Bunda sudah ramai sejak pagi.

Ada kue lapis legit di meja makan, dari toko Samiun di ujung jalan yang selalu buka lebih awal dari toko lain. Devano yang pesan kemarin lusa — Rara tahu karena ia yang angkat telepon waktu kurir konfirmasi.

Rara duduk di kursi ujung meja.

Dekat pintu AC yang menyala full sejak tadi.

Kepalanya masih sedikit berdenyut. Demam semalam turun, tapi belum benar-benar selesai. Ia tidak bilang ke Devano — toh sudah bilang kemarin, hasilnya cuma "udah minum obat?" Jadi hari ini ia diam saja.

"Dev, sini. Duduk di sini."

Bunda memanggil dari ujung meja, menunjuk kursi di sebelahnya — dekat jendela, cahaya masuk dari sisi kanan, tidak langsung kena angin.

Itu kursi favorit Bunda. Rara tahu. Devano juga tahu.

Tapi Devano tidak duduk di sana. Ia menarik kursi di sebelah Bunda, lalu menggeser posisi kursi Bunda sedikit — menjauh dari arah kipas angin kecil di sudut yang menyala.

"Kipasnya masih meniup ke meja ya, Bun?"

"Iya, Bunda pindahin kemarin tapi tetap." Bunda duduk, puas. "Kamu ingat Bunda nggak suka angin langsung."

"Ingat dong."

Rara memandang kursinya sendiri.

Empat tahun. Sudah empat tahun ia bilang ke Devano — tidak terus-terusan, tapi pernah, lebih dari sekali — bahwa kepalanya cepat pusing kalau duduk terlalu lama dekat AC.

Di restoran, Devano selalu booking meja di tengah ruangan, persis di bawah AC.

Di bioskop, selalu pilih baris yang paling dekat blower.

Di mobil, AC full dari sisi penumpang.

Rara tidak pernah protes. Hanya selalu bawa jaket sendiri ke mana-mana.

"Rara, kamu pucat."

Bunda menoleh ke arahnya.

"Tadi agak nggak enak badan, Bun. Sudah baikan."

"Loh, kenapa nggak bilang?" Bunda setengah bangkit. "Mau minum apa? Ada jahe di dapur—"

"Nggak usah, Bun. Makasih."

Bunda duduk kembali, menatap Rara sebentar dengan ekspresi yang sulit Rara baca — antara kasihan dan sesuatu yang lebih berat dari kasihan biasa.

Devano tidak menoleh.

Ia sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya ke om Hadi — foto toko kue yang baru buka, katanya bagus untuk kado. Suaranya hangat, animasi, tertawa sekali karena om Hadi salah baca nama toko.

Rara mengambil sendok.

Meja penuh makanan. Semua kesukaan Bunda — sayur lodeh tidak terlalu kental, ikan bakar tidak terlalu gosong, sambal mangga yang harus ada di setiap makan siang. Devano hafal semua itu. Rara hafal Devano hafal.

Ia memandang meja itu pelan.

Ia mencintai pria yang hafal jenis sambal favorit ibunya. Yang ingat kipas angin mana yang membuat Bunda tidak nyaman. Yang menggeser kursi lima senti supaya Bunda duduk dengan tepat.

Pria yang sama yang tidak ingat istrinya tidak bisa duduk lama dekat AC.

Apakah itu salahnya karena tidak cukup keras bilangnya?
Apakah itu salahnya karena selalu bawa jaket sendiri sampai Devano tidak perlu tahu?
Apakah ini memang bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan?

"Dev."

Bunda menyentuh lengan Devano. Devano menoleh.

"Makasih ya. Sudah repot-repot ingat semua yang Bunda suka."

Devano tersenyum.

Rara sudah melihat senyum itu ratusan kali — ditujukan ke Bunda, ke teman-teman, ke klien kantor. Mudah, hangat, ringan.

Berbeda dari senyum yang ia berikan ke Rara.

Bukan berarti Devano tidak pernah tersenyum ke Rara. Tersenyum. Tapi berbeda seperti perbedaan antara seseorang yang tersenyum karena senang melihatmu dan seseorang yang tersenyum karena itu memang yang dilakukan orang ketika berhadapan dengan orang lain.

"Rara yang bantu juga," kata Devano ke Bunda, menoleh sebentar ke arah Rara.

Rara mengangkat sudut bibirnya. Jawaban yang tepat untuk momen yang tepat.

Bunda mengangguk. Lanjut cerita tentang adik Devano yang tidak bisa datang karena ada proyek.

Rara menyendok lodeh.

Duduk dekat AC yang menyala full.

Kepala masih sedikit berdenyut.

. . .

Bersambung.