Di mobil, Rara melihat ke luar jendela.
Sudah begitu dari Pondok Indah sampai hampir masuk tol. Devano menunggu sebentar — mungkin Rara sedang menikmati sore, atau memikirkan sesuatu soal kerjaan.
Tapi jalanan sudah hampir kompleks. Masih diam.
"Kenapa diam?"
Rara menoleh sebentar. "Nggak."
Devano mengangguk. Rara memang orangnya tidak banyak bicara. Itu yang ia sukai dari awal — tidak ribet, tidak perlu ditebak-tebak.
Di rumah, Rara langsung masuk kamar. Mau istirahat, katanya, demamnya belum seratus persen.
Devano mengisi air minum, duduk di sofa, membuka ponsel.
Bimo WA pukul delapan malam.
Gimana ulang tahun Bunda?
Lancar. Rara ikut juga.
Baik-baik aja kan mereka?
Devano mengernyit pada pertanyaan itu.
Ya baik. Kenapa emangnya?
Nggak. Cuma tanya.
Emang ada apa.
Dev, kapan terakhir kamu perhatiin Rara?
Devano meletakkan ponsel di lutut.
Ini pertanyaan macam apa.
Ia baru saja mengajak Rara ke acara keluarga. Rara ada di sana, duduk di meja, makan bersama. Devano bahkan menyebut nama Rara ke Bunda — Rara yang bantu juga. Ia tidak mengabaikan Rara.
Apa lagi yang dimaksud "perhatiin"?
Ia mengetik: Lo kebanyakan dengerin podcast, Mo.
Tidak dibalas.
Devano membuka Instagram. Bukan apa-apa — hanya kebiasaan sebelum tidur. Scroll sebentar, berhenti di story teman lama, lanjut.
Lalu berhenti.
Nama itu muncul di kolom suggested — ia pernah mencari beberapa hari lalu, jadi tersimpan di riwayat. Fajar. Teman kuliah Rara yang minggu lalu mengirim pesan di lock screen HP Rara.
Akunnya terbuka. Foto-foto yang tertata. Ada foto di pantai, ada beberapa orang di sana — dan Rara di antara yang ditag, foto dari dua tahun lalu. Ada foto kafe, gedung kantor, trip singkat ke luar kota.
Devano menutup aplikasi.
Membukanya lagi.
Foto terbaru diunggah enam hari lalu. Pantai. Tag lokasi: Lombok.
Devano meletakkan ponsel.
Lombok.
Beberapa minggu lalu Rara menyebut — waktu sarapan, sambil lalu, tidak terlalu serius — bahwa ia mungkin mau pergi ke Lombok bersama teman-teman kuliah. Devano mengangguk waktu itu, lanjut makan, tidak terlalu menyimak detailnya.
Fajar juga di Lombok enam hari lalu.
Devano tidak cemburu.
Ia mengatakan ini ke dirinya sendiri dengan cukup tegas.
Tidak cemburu.
Hanya ada sesuatu yang mengganjal — rasa seperti ada hal yang berjalan tanpa sepengetahuannya. Bukan soal kepercayaan. Rara bukan tipe itu.
Tapi siapa sebenarnya orang ini? Seberapa sering mereka ketemu? Seberapa sering Fajar tahu kabar Rara padahal suaminya sendiri baru baca WA jam setengah tujuh dari yang dikirim sejak siang?
Devano membuka WA.
Bimo belum balas. Tapi pesan Rara ke dirinya masih kelihatan di daftar — enam pesan kemarin, yang ia baca di parkiran.
Di bawahnya, nama Fajar.
Terakhir chat hari ini.
Devano meletakkan ponsel menghadap bawah.
Tidak cemburu.
Pergi ke kamar, berbaring di sisinya, menatap langit-langit.
Ia memberitahu dirinya bahwa Rara orang yang mandiri, punya teman sendiri, tidak perlu dilaporkan ke mana ia pergi dan dengan siapa. Itu hal yang baik. Itu artinya Rara tidak mengganggunya.
Itu artinya pernikahan mereka sehat.
Ia memilih percaya itu.
. . .
Bersambung.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar