Devano duduk di tepi ranjang, menyisir rambut basahnya dengan jari.

Rara sudah tidur. Berbaring dengan punggung menghadap ke arahnya, selimut ditarik sampai bahu. Tadi bilang demamnya sudah turun setelah minum obat. Jadi semuanya baik-baik saja.

Ia mengambil ponsel, membuka WA. Bimo mengirim pesan di jam delapan.

Dev, gimana kabar rumah tanggamu?

Devano mengetik sambil setengah tersenyum.

Baik. Sempurna malah. Rara nggak pernah ribet.

Sempurna?

Ya. Nggak pernah protes, nggak pernah drama. Istri ideal.

Jeda panjang sebelum Bimo membalas.

Bro. Perempuan yang nggak pernah protes bukan perempuan yang bahagia.

Devano mendengus pelan.

Lo kebanyakan dengerin podcast perempuan, Mo.

Lo nggak pernah nanya Rara hari ini gimana?

Setiap hari nanya.

Nanya "udah makan" itu nanya logistik, Dev. Bukan nanya gimana.

Devano meletakkan ponsel di kasur.

Ia tidak mau berdebat soal ini. Bukan karena tidak punya jawaban — tapi karena pertanyaannya terasa tidak relevan. Rara baik-baik saja. Rara tidak pernah bilang tidak baik-baik saja.

Sama artinya, bukan?

Ia memandang punggung Rara yang naik turun pelan.

Empat tahun menikah. Devano tidak pernah selingkuh — tidak pernah ada niat pun. Tidak pernah membentak. Pulang setiap malam walau telat. Memberi nafkah lebih dari cukup — Rara tidak perlu khawatir soal apa pun secara finansial.

Apa lagi yang kurang?

Beberapa teman kantornya selingkuh. Dua sudah cerai. Devano tidak pernah. Itu bukan hal kecil. Itu sesuatu.

Ia bukan suami sempurna. Tapi ia suami yang baik. Yang bertanggung jawab. Yang ada.

Charger-nya ketinggalan di kantor tadi. Ia mengambil ponsel Rara dari meja — pakai charger Rara sebentar saja, sebelum tidur. Baterai ponselnya tinggal tiga persen.

Layar Rara menyala ketika diambil.

Notif di lock screen.

Mas Fajar: Ra, gimana keadaannya? Denger dari Dina kamu kurang sehat. Hati-hati ya.

Devano menatap notif itu lebih lama dari yang perlu.

Mas Fajar.

Ia colokkan ponsel Rara ke charger, lalu pergi ke sisinya sendiri. Berbaring. Menatap langit-langit.

Siapa Fajar?

Teman kuliah, kalau tidak salah. Rara pernah menyebut nama itu satu dua kali — kapan, Devano tidak ingat persis. Ada nama itu, tidak ingat konteksnya.

Yang ia tidak mengerti: dari mana Fajar tahu Rara sakit?

Rara sakit sejak siang tadi. Devano tahu dari WA Rara di parkiran — enam pesan, baru sempat ia baca. Ia langsung pulang setelah mampir toko bunga Bunda.

Tapi Fajar sudah tahu sebelum ia sampai rumah.

Artinya Rara cerita ke Fajar.

Bukan ke suaminya.

Ke Fajar.

Devano memejamkan mata.

Ia tidak cemburu. Tidak. Kata itu berlebihan.

Hanya saja — sedikit tidak nyaman. Wajar, kan? Normal kalau suami sedikit tidak nyaman ketika istrinya lebih dulu bercerita ke laki-laki lain dibanding ke suaminya sendiri.

Padahal suaminya ada. Pulang tiap malam. Ada di sini.

Harusnya Rara cerita ke dia dulu.

Matanya mulai berat.

Satu pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan sebelum tidur:

Kenapa Fajar tahu Rara sakit, sementara ia sendiri baru tahu dari enam WA yang tidak sempat ia baca sejak siang?

Jawabannya ada.

Devano hanya belum siap menerimanya.

. . .

Bersambung.


Cerita ini bakal panjang, tapi aku janji worth it. Komen next buat semangat update ya! ❤️