Bertahun-tahun aku menghitung.
Berapa kali namaku disebut dengan rindu.
Berapa kali matanya mencari-cari aku di keramaian.
Berapa kali dia memilihku bukan karena tidak ada pilihan lain.
Hasilnya selalu nol.
Tapi aku tetap ada di sini.
"Ini bunga buat Bunda, taruh di kulkas dulu ya."
Devano meletakkan seikat peoni putih di meja dapur, melepas dasinya, lalu berjalan langsung ke kamar mandi. Tanpa melihat ke arahku. Tanpa menyadari bahwa aku duduk di lantai ruang tengah sejak pukul sebelas siang, menyandar di sofa dengan handuk basah di kepala dan dua tablet parasetamol yang sudah layu di tepi gelas.
Aku menatap bunga itu.
Peoni putih. Bunga kesukaan Bunda — aku tahu karena Devano pernah cerita waktu pertama kali kami pacaran. Satu-satunya kali dia bercerita tentang apa yang disukai orang yang ia cintai.
Aku memandang layar ponselku.
Enam pesan yang kukirim sejak tadi siang. Semua sudah tercentang dua biru — baru saja, ketika Devano sampai di parkiran.
Mas, aku demam.
Mas, obat habis.
Bisa pulang lebih cepat?
Mas.
Mas?
Nggak papa, aku beli sendiri.
Pintu kamar mandi menutup. Suara shower menyala.
Di luar, langit sudah gelap.
Aku berdiri perlahan, kepala masih berat, berjalan ke dapur. Kuambil bunga itu dan kusimpan di dalam kulkas seperti yang dimintanya. Tangan menyentuh rak, dan mataku jatuh ke sebuah sticky note menempel di sisi dalam pintu kulkas — tulisan tangan Devano, rapi dengan huruf kapital besar yang jadi kebiasaannya sejak kuliah.
BESOK:
– PEONI (SUDAH ✓)
– KUE LAPIS LEGIT → PESAN TOKO SAMIUN PK 07.00
– KALUNG YANG KEMARIN → AMBIL DI TOKO (SUDAH DP)
– BOOKING MEJA REST. SARI KURING PK 12.00 (BUNDA SUKA TEMPAT DUDUK DEKAT JENDELA)
Aku membaca empat baris itu dua kali.
Empat item. Semuanya sudah direncanakan. Devano bahkan ingat bahwa Bunda suka duduk di dekat jendela.
Ulang tahunku tiga minggu lalu.
Aku tidak ingat Devano menyebutnya sama sekali — sampai ibuku menelepon dan berbicara cukup keras sehingga suaranya terdengar dari seberang ruangan, dan Devano baru mendongak dari laptopnya dan berkata, "Oh iya, selamat ulang tahun ya."
Satu item.
Empat kata.
Tanpa tanda centang.
Shower berhenti. Pintu terbuka. Devano keluar dengan kaos dan celana pendek, rambut masih basah, dan akhirnya melihatku berdiri di dapur dengan pintu kulkas setengah terbuka.
"Kamu kenapa pucat?"
"Demam," jawabku.
Alisnya naik sedikit. "Dari kapan?"
"Siang."
"Kenapa nggak bilang?"
Aku memandangnya sebentar. Tidak menjawab.
Mungkin karena sudah bilang — enam kali — dan baru dibaca setelah ia mampir ke toko bunga yang searah kantor, searah jalan pulang, searah semua hal yang ada dalam daftar untuk Bunda.
"Udah minum obat?" tanyanya lagi.
"Udah."
"Sendiri?"
"Iya."
Ia mengangguk. Ekspresi itu — sedikit bersalah, tapi lega karena perkaranya sudah selesai tanpa ia harus ikut campur — sudah sangat kukenal. Empat tahun cukup untuk menghafal semua ekspresi seseorang, bahkan ekspresi yang tidak pernah mereka sadari mereka punya.
Devano mengambil ponsel dari meja, mulai mengetik.
"Besok aku ke rumah Bunda pagi-pagi. Ikut?"
Aku menutup pintu kulkas.
Pelan.
"Ikut."
Wajahnya setengah senyum — ringan, mudah, seperti angin yang baru saja menemukan celah jendela. Aku hafal senyum itu juga. Senyum yang muncul ketika sesuatu berjalan sesuai rencana. Ketika Bunda membalas pesan. Ketika proyek kantornya disetujui. Ketika tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
Senyum itu tidak pernah muncul karena aku.
Aku berdiri di dapur itu lebih lama dari yang seharusnya.
Bukan karena pusing — walaupun kepalaku masih berdenyut.
Tapi karena ada sesuatu yang baru saja bergeser di dalam dadaku. Sesuatu yang selama empat tahun kutahan dengan dua tangan, dan baru malam ini terlepas satu jemarinya.
Selama ini aku pikir masalahnya ada padaku.
Bahwa aku yang terlalu banyak berharap. Terlalu sensitif. Terlalu mencintai pria yang belum siap mencintai dengan cara yang sama.
Tapi sticky note itu — empat item, satu tanda centang, satu catatan Bunda suka tempat duduk dekat jendela — membuktikan sesuatu yang tidak ingin kuakui.
Devano tahu cara mencintai.
Dia hanya tidak mencintaiku.
. . .
Bersambung.
Kalau suka ceritanya, jangan lupa komen ya. Cerita ini butuh kalian buat terus jalan. ❤️
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar