Sementara Nadira menyusun rencananya di balik senyum manis, seseorang lain sudah lebih dulu mengamati rumah besar keluarga Wibisono selama beberapa hari terakhir—bukan karena Alea, melainkan karena alasan yang sama sekali berbeda.

Bregas Alvaro duduk di dalam mobil sederhana yang diparkir di seberang jalan, teropong kecil di tangannya mengarah ke sebuah rumah tetangga keluarga Wibisono—kediaman seorang pengusaha bernama Pak Hardi, yang selama berbulan-bulan menjadi target investigasi timnya soal aliran dana mencurigakan ke sebuah yayasan fiktif.

"Ada pergerakan?" suara Yudha terdengar dari radio kecil di dashboard.

"Belum," jawab Bregas singkat, matanya tetap awas. "Tapi ada yang aneh di rumah sebelah."

Ia memang tidak sengaja memperhatikan rumah Wibisono. Namun selama tiga malam berturut-turut, ia melihat pola yang tidak biasa: sebuah mobil hitam yang selalu melintas pelan di depan rumah itu, berhenti sejenak, lalu pergi lagi—seolah sedang mempelajari waktu-waktu tertentu, kebiasaan penghuni rumah, celah keamanan yang bisa dimanfaatkan.

Naluri yang sudah delapan tahun ia asah sebagai agen lapangan mengatakan sesuatu akan terjadi.

Malam itu, seperti biasa, Alea keluar rumah untuk sekadar membeli sesuatu di minimarket dekat kompleks—kebiasaan kecil yang ia lakukan untuk mengurangi rasa sepi, berjalan kaki sendirian menikmati udara malam yang setidaknya memberinya sedikit kebebasan dari rumah yang terasa seperti sangkar.

Ia tidak menyadari mobil hitam itu mulai bergerak mengikutinya dari kejauhan begitu ia melewati gang sepi menuju rumah.

Bregas, yang kebetulan sedang berpindah posisi pengintaian untuk sudut pandang yang lebih baik ke rumah Pak Hardi, melihat mobil itu berhenti mendadak di ujung gang, tiga pria keluar dengan gerakan yang terlatih—terlalu terlatih untuk sekadar preman jalanan biasa.

"Ini bukan urusan gue," gumamnya pada diri sendiri, mencoba fokus pada misi utamanya.

Namun ketika ia melihat salah satu pria itu membekap mulut seorang perempuan, menyeretnya paksa ke arah mobil, insting yang jauh lebih kuat dari sekadar protokol kerja langsung mengambil alih.

"Gue butuh backup, sekarang," ucapnya cepat ke radio, sudah keluar dari mobil sebelum Yudha sempat menjawab.

Ia berlari menembus gang gelap, mendekat tanpa suara seperti yang sudah ia latih bertahun-tahun. Ketiga pria itu belum sempat memasukkan Alea sepenuhnya ke dalam mobil ketika Bregas sudah berada tepat di belakang mereka.

"Lepasin," ucapnya dingin.

Salah satu dari mereka menoleh, tertawa remeh melihat sosok sendirian di hadapan mereka. "Lo siapa, sok jagoan?"

Tidak ada jawaban selain satu pukulan cepat yang membuat pria itu terhuyung ke aspal. Dua lainnya langsung menyerang bersamaan, namun gerakan Bregas jauh lebih terlatih—satu tendangan menghantam rusuk, satu pukulan lagi membuat lawan kedua ambruk sambil mendekap wajahnya sendiri.

Pria ketiga, yang tadi memegangi Alea, melepaskan cengkeramannya untuk melarikan diri, tapi terlambat—Bregas sudah lebih dulu menjegalnya, membuatnya jatuh telungkup di aspal.

"Siapa yang nyuruh kalian?" desis Bregas, menahan tangan pria itu di belakang punggungnya.

"Kami cuma disuruh, Bang! Nggak tahu siapa yang bayar, semua lewat perantara!"

Bregas menatap sekeliling, memastikan tidak ada ancaman lain, sebelum akhirnya melepaskan pria itu—yang langsung lari terbirit bersama dua rekannya yang masih meringis kesakitan.

Ia berbalik ke arah Alea, yang masih terduduk di aspal, tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal menahan tangis yang belum sepenuhnya pecah.

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, berjongkok di hadapannya, menjaga jarak yang sopan meski jelas khawatir.

Alea mendongak, matanya basah, tapi ada sesuatu di sana yang bukan sekadar ketakutan—ada keheranan, seolah tidak percaya seseorang benar-benar datang menolongnya tanpa diminta.

"Terima kasih," bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

Bregas mengangguk singkat, matanya masih menyapu sekeliling gang, waspada terhadap kemungkinan pria-pria itu kembali dengan bala bantuan. Radio di sakunya berbunyi pelan—Yudha bertanya situasi—dan ia menjawab singkat sebelum kembali menatap perempuan di hadapannya.

"Rumah kamu di mana? Aku antar."

Alea menunjuk arah rumah besar keluarga Wibisono yang tidak terlalu jauh dari gang itu, dan Bregas mengangguk, membantu perempuan itu berdiri dengan hati-hati.

Sepanjang perjalanan singkat itu, tidak ada yang tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang jauh lebih rumit dari sekadar penyelamatan sesaat—karena rumah yang mereka tuju adalah rumah yang sama yang sedang diselidiki timnya secara diam-diam, meski dari sudut yang sama sekali berbeda.

Setibanya kembali di mobilnya, Bregas segera menghubungi Yudha melalui radio, suaranya masih menyimpan sedikit ketegangan dari kejadian barusan.

"Lo ke mana aja? Gue udah standby di sini nungguin lo balik," suara Yudha terdengar sedikit kesal.

"Ada insiden," jawab Bregas singkat, menghidupkan mesin mobilnya kembali. "Percobaan penculikan. Korbannya perempuan, kebetulan rumahnya persis di sebelah target kita."

"Serius? Ini bisa berbahaya buat operasi kita kalau sampai ada laporan polisi masuk ke area itu."

"Gue tahu," Bregas mengusap wajahnya, memikirkan langkah selanjutnya. "Tapi gue nggak bisa diam aja lihat orang mau diculik di depan mata gue."

"Lo tetap harus laporan ke Komandan soal ini," ucap Yudha. "Kalau sampai ini terkait sama jaringan yang lebih besar, kita nggak bisa anggap remeh."

Bregas mengangguk sendiri di dalam mobil, meski Yudha tidak bisa melihatnya. Pikirannya melayang pada wajah perempuan yang baru saja ia tolong—matanya yang penuh ketakutan namun tetap berusaha tenang, keheranannya yang tulus saat menerima pertolongan tanpa pamrih. Ada sesuatu dalam diri perempuan itu yang membuatnya penasaran, meski ia tahu betul, dalam pekerjaannya, rasa penasaran semacam itu bisa jadi berbahaya jika dibiarkan tumbuh terlalu jauh.

Ia tidak tahu bahwa firasat itu benar adanya—bahwa pertemuan singkat malam itu baru permulaan dari keterlibatan yang jauh lebih dalam, yang akan menyeretnya ke tengah-tengah keluarga Wibisono dengan cara yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.