Di sebuah apartemen mewah di pusat kota, jauh dari hiruk-pikuk rumah besar keluarga Wibisono, Nadira duduk di depan cermin riasnya, menyisir rambut panjangnya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar kabar buruk.
"Jadi," ucapnya pelan pada ponsel yang tersambung dengan mode pengeras suara, "wasiat kakeknya bilang dia nggak bisa cerai sebelum istrinya hamil?"
"Begitu katanya, Nad," jawab suara di seberang—seorang kenalan lama yang bekerja sebagai staf administrasi di kantor pengacara keluarga Wibisono, orang yang selama ini diam-diam Nadira bayar untuk membocorkan informasi. "Ini bakal jadi masalah besar buat rencana kamu."
Nadira meletakkan sisir itu perlahan, matanya menyipit menatap bayangannya sendiri di cermin.
Ia sudah menunggu bertahun-tahun. Sejak Raka masih kuliah, sejak sebelum keluarga itu memutuskan menjodohkannya dengan perempuan panti yang sama sekali tidak sepadan dengannya. Ia sudah memberikan segalanya—waktu, perhatian, bahkan kebohongan tentang menjadi pendonor hati yang menyelamatkan nyawa Raka, sebuah kebohongan yang sengaja ia rancang bersama seorang oknum di rumah sakit demi mengambil alih posisi yang seharusnya menjadi miliknya.
Dan sekarang, wasiat konyol itu mengancam menggagalkan semuanya.
"Kalau begitu," gumamnya pada diri sendiri setelah menutup telepon, "harus dipercepat prosesnya."
Ia membuka laptop, mencari nomor kontak lama—seseorang dari masa lalunya yang biasa menyelesaikan pekerjaan kotor tanpa banyak bertanya. Jarinya mengetik pesan dengan tenang, seolah sedang memesan katering untuk acara biasa.
Saya butuh tiga orang. Target: perempuan, istri sah, tinggal di kawasan elite. Bikin dia hilang kepercayaan diri sepenuhnya, buat dia sendiri yang akan lari dari pernikahan itu. Bayaran dua kali lipat dari biasanya.
Pesan itu terkirim, dan senyum tipis terbit di wajah Nadira. Rencananya sederhana: ia tidak perlu menyakiti Alea secara langsung. Cukup buat perempuan itu merasa begitu tidak aman, begitu terancam, sehingga ia sendiri yang memilih pergi—dan dengan begitu, syarat dalam wasiat itu gugur dengan sendirinya, tanpa perlu menunggu kehamilan yang mustahil terjadi mengingat betapa dinginnya hubungan Raka dan istrinya selama ini.
*
Dua hari kemudian, Nadira sengaja mengatur pertemuan dengan Raka di sebuah kafe tenang, jauh dari mata orang-orang yang mengenal mereka berdua.
"Kamu kelihatan capek," ucapnya lembut, menyentuh tangan Raka yang tergeletak di atas meja.
"Wasiat itu bikin kepala aku pusing," jawab Raka, mengusap wajahnya kasar. "Aku nggak tahu harus gimana. Aku nggak bisa terus-terusan hidup kayak gini."
"Kenapa nggak dipercepat aja?" Nadira bertanya hati-hati, seolah baru terlintas begitu saja di kepalanya. "Maksudku, kalau syaratnya cuma soal kehamilan, kenapa nggak dicari cara lain? Toh yang penting kan syarat itu terpenuhi, atau..." ia menggantungkan kalimatnya, membiarkan Raka sendiri yang menyelesaikannya dalam pikirannya.
"Atau apa?"
"Atau dia sendiri yang memilih pergi," lanjut Nadira pelan, menatap mata Raka dalam-dalam. "Kadang orang butuh dorongan kecil untuk sadar bahwa mereka nggak dibutuhkan di suatu tempat."
Raka tidak menjawab, tapi matanya menerawang, seolah kalimat itu menemukan celah di antara keputusasaan yang sudah lama ia pendam. Nadira tersenyum dalam hati, tahu benar bahwa benih yang ia tanam malam itu akan tumbuh menjadi keputusan yang jauh lebih kelam daripada yang pernah ia bayangkan sendiri—keputusan yang nantinya akan ia manfaatkan sepenuhnya untuk kepentingannya, tanpa peduli seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkannya.
"Aku cuma pengen kamu bahagia, Mas," ucapnya lembut, menggenggam tangan Raka lebih erat. "Dan aku tahu, kamu nggak akan pernah bahagia selama masih terikat sama orang yang salah."
Raka mengangguk pelan, tenggelam dalam kata-kata manis itu, tidak menyadari bahwa perempuan di hadapannya sudah menyiapkan jaring yang jauh lebih rumit dari yang bisa ia bayangkan—jaring yang akan menyeret bukan hanya pernikahannya, tapi juga nyawa orang-orang yang sama sekali tidak bersalah.
Sepulang dari kafe itu, Nadira segera menghubungi kembali kontaknya. Kali ini suaranya lebih tegas, lebih terperinci dalam memberi instruksi.
"Jangan sampai ketahuan siapa yang menyuruh," ucapnya dingin. "Buat seolah-olah ini kejahatan acak. Yang penting perempuan itu cukup takut untuk pergi sendiri, secepat mungkin."
"Kalau dia lapor polisi gimana, Nad?"
"Dia nggak akan lapor," jawab Nadira yakin. "Orang kayak dia terlalu takut bikin masalah, terlalu terbiasa diam. Aku kenal tipenya."
Ia menutup telepon dengan senyum puas, menuangkan segelas anggur untuk merayakan rencana yang sudah mulai bergerak. Dalam pikirannya, semua sudah tersusun rapi—Alea akan pergi karena ketakutan, Raka akan bebas secara teknis dari syarat wasiat begitu perceraian resmi diajukan oleh pihak istri sendiri, dan dialah yang akan mengisi kekosongan itu, seperti yang seharusnya terjadi sejak bertahun-tahun lalu.
Yang tidak pernah ia perhitungkan adalah kemungkinan seseorang lain—seseorang yang sama sekali tidak terkait dengan rencananya—akan muncul di malam yang sama, mengacaukan seluruh perhitungan yang sudah ia susun dengan begitu rapi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar