Ada satu kebiasaan kecil yang tidak pernah disadari Raka: setiap pagi, sebelum ia bangun, Alea sudah menyiapkan pakaian kerjanya, menyetrika dasi yang akan ia pakai, bahkan menghafal jadwal rapatnya dari kalender yang tergantung di dapur agar tahu kapan harus menyiapkan sarapan lebih pagi.

Raka tidak pernah bertanya bagaimana Alea tahu semua itu. Ia hanya menerimanya sebagai sesuatu yang seharusnya memang terjadi, seperti matahari yang terbit tanpa perlu diminta.

Pagi itu, seperti biasa, Alea berdiri di dapur ketika Bi Marni—asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak sebelum pernikahan mereka—masuk membawa belanjaan.

"Non Alea belum sarapan?" tanya Bi Marni, meletakkan kantong belanjaan di meja.

"Nanti aja, Bi. Tunggu Mas Raka turun dulu."

"Non ini terlalu baik," gumam Bi Marni, menggeleng pelan. "Kadang saya suka nggak tega lihat Non nunggu terus, tapi jarang ditemani."

Alea hanya tersenyum tipis, tidak membantah, karena membantah berarti mengakui bahwa ia juga merasakan hal yang sama.

Ketika Raka akhirnya turun, wangi parfum mahalnya lebih dulu tercium daripada suaranya. Ia duduk di meja makan tanpa banyak bicara, menyantap sarapan yang disiapkan istrinya sambil sesekali membuka ponsel, membalas pesan yang membuat sudut bibirnya melengkung tipis—senyum yang tidak pernah Alea lihat ditujukan padanya.

"Mas," Alea memberanikan diri bicara. "Nanti malam, ada acara keluarga di rumah Om Broto. Ikut, kan?"

Raka mendongak sebentar, seolah baru menyadari keberadaan istrinya di ruangan itu. "Kayaknya nggak bisa. Ada urusan kantor."

"Tapi ini acara penting, Mas. Semua keluarga besar—"

"Aku bilang nggak bisa," potongnya, nadanya sedikit meninggi. "Kamu wakilin aku aja."

Ia berdiri, meninggalkan meja tanpa menghabiskan sarapannya, meninggalkan Alea sendirian dengan piring setengah penuh yang akan ia habiskan tanpa selera nanti.

*

Sore harinya, di acara keluarga itu, Alea duduk di antara para kerabat yang sibuk membicarakan bisnis dan gosip seputar keluarga Wibisono. Beberapa dari mereka melirik sinis ke arahnya, berbisik-bisik yang sengaja dibuat cukup keras agar terdengar.

"Katanya dulu dia cuma anak panti."

"Pantas aja Raka nggak pernah bawa dia ke acara-acara penting sebelumnya."

Alea tetap duduk tegak, tersenyum sopan setiap kali ada yang menyapanya basa-basi, meski dadanya terasa sesak mendengar bisikan-bisikan itu. Ia sudah terbiasa. Sejak menikah, ia belajar bahwa senyum adalah perisai paling murah yang bisa ia gunakan tanpa perlu penjelasan panjang.

Sepupu jauh Raka, seorang perempuan bernama Sinta, mendekat dengan senyum yang terlalu manis untuk terlihat tulus.

"Alea, ya? Katanya kamu sama Kak Raka jarang kelihatan mesra. Ada masalah?"

"Nggak ada masalah," jawab Alea tenang. "Cuma Mas Raka sibuk kerja."

"Oh, gitu," Sinta tersenyum lebih lebar, matanya menyapu penampilan Alea dari atas ke bawah. "Untung ya kamu, biar gimana pun tetap jadi bagian keluarga besar ini."

Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi Alea cukup pintar untuk menangkap sindiran di baliknya. Untung. Seolah keberadaannya di keluarga ini hanyalah keberuntungan semata, bukan hak yang seharusnya ia miliki sebagai seorang istri.

Ia pulang malam itu sendirian, menaiki taksi karena sopir keluarga sudah pulang lebih dulu mengantar kerabat lain. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, memikirkan berapa lama lagi ia sanggup bertahan dalam pernikahan yang membuatnya merasa seperti tamu di rumahnya sendiri.

Ponselnya bergetar. Bukan dari Raka—yang sejak sore tidak memberi kabar sama sekali—melainkan dari Nia.

Za, kalau capek, kamu selalu bisa pulang ke sini. Jangan lupa itu.

Alea tersenyum kecil membaca pesan itu, satu-satunya kehangatan yang ia rasakan sepanjang hari itu. Namun ia tahu, kembali ke panti bukan pilihan semudah itu—bukan hanya karena status pernikahannya, tapi karena entah kenapa, jauh di lubuk hatinya, masih ada secercah harapan bahwa suatu hari, Raka akan benar-benar melihatnya.

Harapan yang, tanpa ia sadari, akan segera diuji oleh sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar diabaikan.

Beberapa hari setelah acara keluarga itu, Alea mulai memperhatikan perubahan kecil dalam kebiasaan suaminya—ponsel yang selalu dijaga jaraknya darinya, panggilan telepon yang selalu ia terima di ruangan terpisah, dan aroma parfum asing yang semakin sering menempel di jasnya. Ia tidak pernah bertanya secara langsung, karena bertanya berarti harus siap mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih ia pegang.

Suatu malam, saat membereskan cucian, ia menemukan secarik struk restoran mewah di saku jas Raka, tanggalnya bertepatan dengan hari ia sendiri merayakan ulang tahun pernikahan mereka sendirian di rumah, menunggu suami yang tidak pernah pulang sampai tengah malam.

Ia menatap struk itu lama, lalu melipatnya kembali, mengembalikannya ke tempat semula tanpa berkata apa-apa pada siapa pun. Bukan karena ia tidak peduli, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk berharap sesuatu akan berubah hanya dengan sebuah konfrontasi.

Malam itu, ia menulis di buku catatan kecil yang selalu ia simpan di bawah bantal—kebiasaan yang ia bawa sejak kecil di panti, tempat ia menuliskan perasaan yang tidak bisa ia ucapkan pada siapa pun.

Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku memang ditakdirkan untuk selalu jadi orang yang menunggu, tapi tidak pernah ditunggu. Menyayangi, tapi tidak pernah disayangi kembali dengan cara yang sama. Tapi aku juga tahu, aku tidak bisa terus begini selamanya.

Ia menutup buku itu, mematikan lampu, dan tidur dengan hati yang penuh pertanyaan tanpa jawaban—tidak menyadari bahwa jawaban itu, dalam bentuk yang paling tidak terduga, sudah semakin dekat.