Keesokan harinya, kabar tentang wasiat itu sudah menyebar ke seluruh anggota keluarga besar, meski detail sebenarnya sengaja ditahan Pak Yono agar tidak menimbulkan spekulasi liar di kalangan kerabat jauh.

Di ruang kerja pribadinya, Raka duduk menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca apa pun. Pikirannya masih dipenuhi kalimat dari wasiat kemarin, berputar-putar seperti kaset rusak.

Tidak diperkenankan menjatuhkan talak sebelum mengandung.

Ia sudah menikah setahun dengan Alea, sebuah pernikahan yang lahir bukan dari cinta, melainkan dari keputusan keluarga yang tidak pernah benar-benar ia pahami alasannya. Kakeknya dulu memaksa, mengatakan bahwa perempuan itu "layak dilindungi", tanpa penjelasan lebih jauh. Raka menurut, karena menolak sama saja dengan mempertaruhkan posisinya di perusahaan yang sepenuhnya dikuasai keluarga.

Pintu diketuk. Fajar, sahabat sekaligus tangan kanannya di kantor, masuk tanpa menunggu jawaban.

"Lo kelihatan kayak abis liat hantu, Rak," ucapnya, duduk santai di kursi seberang meja.

"Lebih parah dari hantu," jawab Raka datar. "Wasiat kakek."

Ia menceritakan isi pasal itu, dan Fajar mendengarkan dengan alis semakin naik setiap kalimat.

"Jadi lo kejebak nikah sama orang yang lo sendiri nggak pernah tanya kabar hatinya, dan sekarang lo nggak bisa cerai sampai dia hamil? Itu ironis banget, Rak."

"Gue tahu."

"Terus rencana lo apa?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap jendela, kota Surabaya yang sibuk di bawah sana, orang-orang berlalu-lalang tanpa tahu betapa rumitnya kehidupan di balik gedung kaca yang mereka lewati setiap hari.

"Gue belum tahu," jawabnya akhirnya, meski jauh di dalam kepalanya, benih sebuah ide sudah mulai tumbuh sejak semalam—ide yang bahkan tidak berani ia ucapkan pada sahabatnya sendiri.

*

Sementara itu, di rumah utama keluarga Wibisono, Alea duduk di kamar yang selama setahun ini ia tempati sendirian, karena Raka lebih sering memilih kamar tamu daripada tidur bersamanya. Ia menatap cincin di jarinya, benda yang seharusnya menjadi simbol ikatan, tapi justru terasa seperti rantai yang mengikatnya pada seseorang yang tidak pernah benar-benar menganggapnya ada.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Nia, sahabatnya sejak kecil di panti asuhan.

Za, gimana kabar di rumah besar itu? Masih baik-baik aja?

Alea menatap layar lama sebelum mengetik balasan singkat: Baik-baik aja, Ni. Seperti biasa.

Kebohongan kecil yang sudah menjadi kebiasaan. Karena "seperti biasa" baginya berarti makan malam sendirian sambil menunggu suami yang tidak pernah pulang tepat waktu, berarti tidur di kasur dingin sambil berharap suatu hari seseorang di rumah itu benar-benar melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar syarat administratif dalam sebuah wasiat.

Ia meletakkan ponsel, berjalan ke jendela, menatap halaman rumah yang luas namun terasa kosong. Setahun ia menikah, dan yang paling ia ingat justru bukan momen bahagia, melainkan setiap kali Raka pulang larut dengan aroma parfum lain menempel di kemejanya, atau setiap kali ia menyapa dan hanya dibalas gumaman tanpa tatapan.

Ia tidak pernah menuntut lebih, karena sejak kecil di panti ia belajar satu hal—menuntut hanya akan membuatmu terlihat serakah di mata orang yang sudah cukup baik hati mau menampungmu. Dan bagi keluarga ini, itulah posisinya: perempuan yang ditampung, bukan yang dicintai.

Malam itu, saat Raka pulang lebih larut dari biasanya, Alea masih terjaga di ruang makan, menyiapkan makan malam yang sudah pasti akan dingin sebelum sempat disentuh. Ia mendengar suara pintu terbuka, langkah kaki yang berat, lalu melihat suaminya berjalan lurus ke kamar tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.

"Mas," panggilnya pelan.

Raka berhenti, menoleh setengah hati. "Apa?"

"Sudah makan belum? Aku masak—"

"Nggak usah," potongnya cepat. "Aku udah makan di luar."

Ia melanjutkan langkah, meninggalkan Alea berdiri sendirian di ruang makan yang remang, dengan dua piring yang tidak akan pernah disentuh malam itu.

Alea menutup mata sejenak, menahan sesuatu yang sudah lama ia latih untuk tidak keluar sebagai air mata. Ia duduk sendirian, menatap uap yang perlahan menghilang dari masakannya, dan bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan ia harus bertahan menjadi bayangan di rumah yang seharusnya menjadi rumahnya sendiri.

Ia meraih ponselnya lagi, membuka galeri foto yang jarang ia lihat—foto-foto masa kecilnya di panti asuhan, wajah-wajah anak lain yang dulu menjadi keluarganya sebelum kehidupan memisahkan mereka satu per satu ke berbagai arah. Di antara foto-foto itu, ada satu gambar yang selalu membuat dadanya hangat: dirinya bersama Nia, berdua tersenyum lebar di depan panti yang sederhana, jauh dari kemewahan rumah besar yang kini ia tinggali namun tidak pernah benar-benar terasa seperti rumah.

Ia teringat kata-kata Bu Ningsih, pemilik panti, yang selalu ia pegang sejak kecil: "Kebahagiaan itu bukan soal seberapa besar rumahnya, Nak, tapi seberapa hangat orang-orang di dalamnya."

Rumah ini besar, mewah, dilengkapi segala fasilitas yang bisa dibeli uang. Tapi hangat? Alea menggeleng pelan pada dirinya sendiri, mematikan layar ponsel, membiarkan kegelapan kamar menelan pikirannya yang penuh pertanyaan tanpa jawaban.

Di kamar sebelah, tanpa Alea ketahui, Raka juga terjaga, menatap langit-langit sambil memikirkan kalimat wasiat yang terus berputar di kepalanya. Ia tidak menyadari bahwa jarak fisik yang hanya beberapa meter itu menyimpan jarak emosional yang jauh lebih luas—dua orang yang tidur di bawah atap yang sama, namun hidup di dunia yang sama sekali berbeda.