Angin malam di atas Jembatan Suramadu terasa lebih tajam dari biasanya, menampar wajah Alea yang berdiri di tepi pagar besi, kedua tangannya dicengkeram oleh seorang pria yang lebih tua darinya bertahun-tahun.

"Kalau kamu masih mau hidup," desis pria itu, "diam dan ikut aku."

Di seberang, sebuah mobil berhenti kasar, pintunya terbuka sebelum mesin benar-benar mati. Seorang lelaki berlari menembus kabut tipis yang menggantung di atas aspal, suaranya pecah memanggil satu nama.

"Alea!"

Tak ada yang tahu, malam itu, siapa yang sebenarnya akan jatuh lebih dulu—tubuh, atau kepercayaan yang selama berbulan-bulan dibangun susah payah di antara dua orang yang dulu bahkan tidak saling mengenal.

Untuk memahami bagaimana malam itu bisa terjadi, kita harus mundur enam bulan ke belakang. Ke sebuah rumah besar di kawasan elite Surabaya, tempat sebuah keluarga sedang berkumpul mendengarkan bacaan terakhir dari seorang lelaki yang sudah tidak lagi bisa membela keputusannya sendiri.

*

Ruang keluarga itu dingin meski AC tidak dinyalakan terlalu kencang. Enam bulan sebelum malam di jembatan, Pak Yono—pengacara keluarga Wibisono selama tiga generasi—duduk di kursi tunggal menghadap seluruh anggota keluarga, sebuah map hitam tergeletak rapi di pangkuannya.

"Almarhum meninggalkan pesan khusus," ucapnya, membuka map itu perlahan, "yang harus saya sampaikan persis seperti tertulis, tanpa dikurangi atau ditambahi."

Raka Wibisono duduk paling depan, jasnya masih rapi karena baru pulang dari kantor cabang di luar kota begitu mendengar kabar kepergian kakeknya. Ia tidak menangis. Bukan karena tidak sedih, tapi karena sejak kecil ia dididik untuk tidak menunjukkan kelemahan di depan siapa pun, termasuk di depan keluarga sendiri.

Pak Yono membacakan pasal demi pasal soal pembagian saham, soal properti, soal siapa yang akan memegang posisi tertentu di perusahaan. Semua terdengar wajar sampai pada satu kalimat yang membuat seisi ruangan terdiam.

"Pasal terakhir: Saudara Raka Wibisono tidak diperkenankan menjatuhkan talak kepada istrinya, Alea Kirana, sebelum yang bersangkutan mengandung anak dari pernikahan ini. Ketentuan ini berlaku mengikat dan tidak dapat dibatalkan tanpa persetujuan pihak istri sendiri."

Raka berdiri begitu cepat hingga kursi di belakangnya nyaris terjungkal.

"Ini tidak masuk akal," suaranya menggema di ruangan yang tadinya sunyi. "Kakek membuat aturan seolah pernikahan ini penjara!"

"Ini keputusan almarhum, Raka," jawab Pak Yono tenang, tidak sedikit pun terpancing oleh nada tinggi itu. "Dan seperti pasal-pasal sebelumnya, ini mengikat secara hukum."

Marlina, ibunya, yang duduk di sofa dekat jendela, ikut angkat suara. "Kenapa harus soal anak? Kenapa bukan soal waktu saja, atau soal kesepakatan biasa?"

"Saya hanya menyampaikan, Bu," Pak Yono menjawab hati-hati. "Alasan di baliknya tidak dijelaskan dalam dokumen ini."

Raka mengepalkan tangan, memandang ke arah pintu di mana istrinya, Alea, berdiri diam sejak tadi, tidak ikut duduk bersama keluarga meskipun statusnya adalah menantu sah rumah ini. Perempuan itu tidak menunjukkan reaksi apa pun—tidak kaget, tidak lega, hanya diam seperti biasanya.

"Kamu tahu soal ini?" tanya Raka tajam, menghampirinya.

Alea menggeleng pelan. "Aku baru dengar barusan, Mas. Sama seperti yang lain."

"Kenapa Kakek pilih kamu? Kenapa bukan urusan biasa, tapi sampai bikin pasal seaneh ini?"

"Aku tidak tahu," jawabnya lirih, dan entah kenapa jawaban sesederhana itu terdengar jujur, membuat amarah Raka justru semakin membara karena tidak menemukan sasaran yang jelas untuk dilampiaskan.

Pak Broto, ayahnya, akhirnya bicara dari ujung ruangan, suaranya berat menahan sesuatu yang tampaknya sudah lama ia ketahui namun tidak pernah ia ungkap.

"Sudahlah, Raka. Terima saja. Kalau kamu memang tidak ingin terikat lama-lama, cari cara lain untuk menyelesaikannya. Tapi jangan langgar wasiat kakekmu."

Kalimat itu terdengar seperti nasihat, tapi bagi Raka, terdengar seperti pintu yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit—cukup lebar untuk ia selipkan niat buruk yang belum terbentuk sempurna, namun sudah mulai tumbuh di sudut kepalanya begitu ia kembali ke kamarnya malam itu.

Ia menatap cermin lama, mengingat wajah istrinya yang tenang menerima segala keputusan tanpa perlawanan. Kalau menunggu terlalu lama bukan pilihan, dan bercerai tanpa syarat itu mustahil, maka syarat itu sendiri yang harus dipenuhi—entah dengan cara yang benar, atau cara yang nantinya akan ia sesali seumur hidup.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya lama, jari-jarinya sesekali membuka aplikasi perbankan, mengecek saldo yang selama ini tidak pernah ia pikirkan jumlahnya karena kemewahan sudah menjadi udara yang ia hirup sejak lahir. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, angka-angka itu terasa tidak berarti dibandingkan satu masalah yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan uang.

Ia teringat percakapan singkat dengan ayahnya beberapa jam sebelumnya, di ruang kerja pribadi Pak Broto yang penuh foto-foto keluarga dari berbagai generasi.

"Kakek pasti punya alasan, Pa," ucap Raka waktu itu, mencoba menahan emosi. "Tapi Papa nggak mau kasih tahu apa alasannya?"

Pak Broto menghela napas panjang, menatap foto pernikahannya sendiri yang tergantung di dinding—foto dengan Larasati, bukan dengan Marlina, sebuah detail kecil yang jarang diperhatikan siapa pun kecuali dirinya sendiri.

"Ada beberapa hal yang lebih baik kamu cari tahu sendiri, Raka," jawabnya, suaranya berat menahan sesuatu yang sudah lama ia simpan. "Kakekmu orang yang bijaksana. Kalau dia buat aturan seperti itu, pasti ada alasan kuat di baliknya."

"Tapi kenapa harus Alea? Kenapa bukan aturan biasa soal waktu tunggu, atau kesepakatan bersama?"

"Itu yang harus kamu cari tahu sendiri," ulang Pak Broto, menolak memberi penjelasan lebih jauh, meninggalkan Raka dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Kini, duduk sendirian di kamarnya, Raka merasa terjebak dalam labirin yang sengaja dibangun orang-orang di sekitarnya—kakeknya yang sudah tiada, ayahnya yang menyimpan rahasia, bahkan istrinya sendiri yang entah kenapa terasa seperti menyembunyikan sesuatu di balik ketenangannya yang tidak pernah goyah.

Ia tidak tahu, malam itu adalah awal dari serangkaian keputusan yang akan membawanya, enam bulan kemudian, berdiri di tepi jembatan yang sama yang ia lihat di awal kisah ini, memanggil nama yang sama dengan suara yang penuh penyesalan.