Lyra Anvik.
Begitu nama lengkapku dalam kehidupan ini.
Aku mengetahuinya pada hari ketiga puluh dua — ketika seorang wanita dari semacam kantor pemerintahan datang dengan dokumen-dokumen yang ditandatangani Ayah dan Ibu. Aku tidak bisa membaca isinya dari jarak dan sudut pandangku, tapi aku mendengar nama itu disebut berkali-kali.
*Lyra Anvik.* Lahir di Oslo, Norwegia. Putri dari Erik Anvik dan Maren Anvik née Holst.
Erik. Maren.
Aku memberikan nama pada mereka akhirnya. Tidak lagi sekadar "Ayah" dan "Ibu" dalam analisisku. Ini lebih baik. Lebih konkret.
Erik Anvik dan Maren Holst-Anvik.
Aku mengulangi nama-nama itu dalam kepala, menyimpannya di folder mental yang sudah aku buat khusus untuk mengorganisir semua informasi tentang kehidupan baruku.
---
Masalah terbesarku saat ini bukan identitas atau misteri tentang bagaimana aku bisa ada di sini.
Masalah terbesarku adalah komunikasi.
Atau lebih tepatnya: ketidakmampuan berkomunikasi.
Aku punya semua pikiran ini — pertanyaan, analisis, hipotesis — dan tidak ada cara untuk menyampaikannya. Mulutku bisa menghasilkan suara, tapi suara yang tersedia hanyalah: tangisan, ocehan, dan sesekali suara "agoo" yang tidak bermakna apa-apa.
Otakku bisa berpikir dalam bahasa Inggris, dalam terminologi ilmiah, dalam kalimat-kalimat kompleks dengan subordinate clause dan technical jargon. Tapi apparatus vokal bayi ini belum mampu mengeksekusi satu pun dari itu.
*Frustrasi* adalah kata yang sangat tidak cukup untuk mendeskripsikan kondisi ini.
Ini seperti... seperti punya superkomputer yang harus dioperasikan dengan keyboard yang hanya punya tombol huruf A, B, dan C.
---
Tapi ada satu hal positif dari kondisi ini.
Karena aku tidak bisa bicara, aku tidak sengaja membocorkan bahwa ada kesadaran dewasa di balik mata bayi ini.
Dan ini memberi keuntungan pengamatan yang luar biasa.
Orang-orang tidak berhati-hati saat bicara di depan bayi. Mereka pikir bayi tidak mengerti. Dan mereka benar — bayi normal tidak mengerti. Tapi aku bukan bayi normal.
Dari semua percakapan yang sudah aku dengar dalam empat puluh hari terakhir, aku berhasil mengumpulkan beberapa informasi penting:
Satu — Erik Anvik bekerja untuk sebuah institusi yang namanya belum pernah disebut secara lengkap. Mereka selalu menyebutnya dengan singkatan atau kode. "Kantor" atau "Proyek" atau kadang-kadang hanya "Mereka."
Dua — Ada seseorang yang mereka tunggu kabarnya. Seseorang yang penting. Nama orang itu belum pernah disebut, tapi setiap kali topik itu muncul, baik Erik maupun Maren tampak tegang.
Tiga — Maren pernah kehilangan seorang anak sebelumku. Aku menangkap ini dari percakapannya dengan perempuan tua yang sekarang aku tahu dipanggil "Bestemor" — nenek dalam bahasa Norwegia. Tapi aku tidak yakin apakah Bestemor ini benar-benar nenek kandung atau semacam gelar kehormatan.
Empat — Ada jadwal. Ada sesuatu yang harus terjadi, dan waktu adalah faktor penting di dalamnya. Erik sering memeriksa jam dan kalender dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa tenggat waktu tertentu mendekati.
---
Aku mulai berlatih.
Bukan hanya koordinasi motorik — meski itu tetap jadi latihan harian yang melelahkan. Tapi juga vokal.
Caranya: aku memperhatikan bagaimana Maren membentuk kata-kata. Posisi bibir, gerakan lidah, hembusan napas. Aku menganalisis mekanismenya secara ilmiah. Kemudian aku mencoba mereplikasi — dengan pemahaman penuh bahwa tubuh bayi memiliki keterbatasan fisik yang tidak bisa dipaksa.
Tapi setidaknya aku bisa mulai membiasakan apparatus vokal ini dengan pola-pola tertentu.
Hari keempat puluh tujuh, untuk pertama kalinya, aku berhasil mengeluarkan bunyi yang — jika aku memaksakan interpretasi paling optimis — menyerupai kata.
"Maa."
Bukan "Mama" yang sempurna. Bukan kata yang bermakna dalam konteks ilmiah mana pun. Tapi ini adalah bunyi yang dihasilkan dengan *sengaja*, bukan sekadar refleks.
Maren yang mendengarnya langsung berbalik dari apa yang sedang dia lakukan dan menatapku dengan mata yang langsung berkaca-kaca.
"Erik!" panggilnya. "Erik, cepat kemari!"
Erik masuk dengan ekspresi waspada yang langsung berubah ketika Maren menunjuk ke arahku.
"Dia baru saja bilang 'ma'," kata Maren. Suaranya bergetar antara suka dan haru.
Erik menatapku. Ekspresi kalkulatifnya kembali — tapi kali ini ada sesuatu lain di sana. Sesuatu yang aku butuh beberapa detik untuk mengidentifikasinya.
Kelegaan.
Dia lega.
*Kenapa keberhasilanku mengeluarkan satu suku kata membuatnya lega?*
Itu pertanyaan yang akan aku simpan untuk nanti.
Karena sekarang, Maren sudah menggendongku dan berbisik "pintar sekali, sayang, pintar sekali" berulang-ulang ke telingaku, dan tubuh kecil ini entah kenapa bereaksi terhadap kehangatan itu dengan cara yang otakku tidak memerintahkan.
Nyaman.
Aku merasa nyaman.
Dan itu — di tengah semua analisis dan pertanyaan dan misteri — adalah perasaan yang paling menggangguku sejauh ini.
Karena nyaman berarti aku mulai menerima ini.
Dan menerima ini berarti aku mulai berhenti mencari jalan pulang.
--- *Bersambung ke Bab 6...*
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar