Tiga hari.
Tiga hari aku berada di dunia ini dan aku sudah punya cukup data untuk membuat satu kesimpulan yang pasti: ini adalah situasi terburuk yang pernah aku hadapi dalam hidupku — hidup lama maupun baru.
Lebih buruk dari saat tesaku ditolak pertama kali di jurnal internasional.
Lebih buruk dari saat aku presentasi di depan petinggi NASA dan slidenya error di tengah jalan.
Lebih buruk dari turbulensi pesawat yang membunuhku.
Karena setidaknya dalam semua situasi buruk itu, aku masih punya kendali atas tubuhku sendiri.
Sekarang? Tidak.
---
Aku terbaring di boks bayi — entah bahannya apa, tapi terasa lembut di punggung — dan mencoba, untuk kesekian kalinya, menggerakkan tangan kananku ke arah yang aku inginkan.
Yang terjadi: tangan kananku bergerak. Tapi tidak ke arah yang aku inginkan. Jari-jari kecil itu menekuk sendiri, menggenggam udara kosong, lalu terulur lagi tanpa arah.
*Sistem motorik bayi belum berkembang,* otakku menjelaskan dengan sangat tidak membantu. *Kontrol gerakan volunter pada bayi baru lahir sangat terbatas. Myelinasi saraf belum sempurna. Refleks primitif mendominasi.*
Ya. Aku tahu. Aku yang menulis makalah tentang perkembangan kognitif manusia sebagai referensi sampingan untuk penelitian kecerdasan buatan.
Tapi mengetahui teorinya dan *mengalaminya* adalah dua hal yang sangat berbeda.
Aku mencoba lagi. Kali ini aku fokus — benar-benar fokus, seperti ketika aku mendebug kode yang rumit — pada satu gerakan sederhana: mengangkat tangan kananku setinggi mungkin dan menahannya di sana.
Hasilnya: tanganku terangkat sekitar lima sentimeter, gemetar seperti orang tua yang kelelahan, lalu jatuh kembali.
Kemajuan.
Kecil. Sangat kecil. Tapi itu kemajuan.
*Baik,* kataku pada diri sendiri — dalam pikiranku, tentu saja, karena yang bisa keluar dari mulut ini hanya ocehan dan tangisan. *Anggap ini eksperimen. Anggap tubuh ini adalah alat baru yang harus kamu pelajari cara menggunakannya. Kamu pernah belajar menggunakan peralatan lab yang lebih rumit dari ini.*
Belum pernah. Tapi berbohong pada diri sendiri kadang-kadang perlu untuk bertahan.
---
Yang paling frustasi bukan ketidakmampuan fisiknya.
Yang paling frustasi adalah saat orang-orang di sekitarku berbicara — tentang hal-hal yang sangat ingin aku respons — dan yang bisa aku lakukan hanyalah menatap mereka dengan tatapan yang mungkin terlihat seperti tatapan bayi polos.
Padahal di dalam kepalaku, aku sedang mengevaluasi setiap kata yang mereka ucapkan.
Seperti saat ini. Wanita itu — ibuku dalam kehidupan ini, yang belum aku ketahui namanya karena mereka memanggilnya dengan berbagai sebutan berbeda — sedang menggendongku dan berbicara kepada seseorang di telepon.
"Dia baik-baik saja," katanya dalam bahasa yang kini mulai bisa aku kenali sebagai campuran Inggris dengan logat Nordik yang kental. "Ya. Lahir normal. Sehat... Tidak, belum. Aku belum bilang padanya... Aku tahu. Aku tahu itu risikonya. Tapi aku tidak bisa—"
Jeda panjang. Suara napas yang tertahan.
"Aku akan melindunginya. Biar bagaimanapun, dia anakku sekarang."
*Anakku sekarang.*
Bukan *anakku*. Tapi *anakku sekarang*. Pilihan kata yang sangat spesifik. Pilihan kata yang memberi kesan bahwa sebelumnya, aku bukan anaknya. Dan proses menjadi anaknya adalah sesuatu yang... disengaja? Dipilih?
Otakku mulai menyusun pohon kemungkinan.
Kemungkinan pertama: ini adalah adopsi yang sangat tidak biasa. Aku diadopsi sejak dalam kandungan — yang tentu saja tidak masuk akal secara biologis karena wanita ini jelas melahirkanku.
Kemungkinan kedua: wanita ini mengetahui sesuatu tentang kondisiku — bahwa aku bukan sekadar bayi baru lahir biasa — dan kalimat "anakku sekarang" merujuk pada keputusan untuk menerimaku meski mengetahui hal tersebut.
Kemungkinan ketiga: aku terlalu overthinking dan ini adalah percakapan normal yang aku interpretasikan secara berlebihan karena situasiku sendiri yang tidak normal.
Aku condong ke kemungkinan kedua.
---
Pria itu — ayah dalam kehidupan ini — jarang masuk ke kamar ini. Tapi saat dia masuk, ada sesuatu yang berbeda dari cara dia memandangku dibanding cara wanita itu memandangku.
Wanita itu memandangku dengan hangat. Dengan protektif.
Pria itu memandangku dengan... kalkulatif.
Bukan kejam. Bukan menakutkan dalam arti yang biasa. Tapi seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang sesuatu. Sedang menghitung sesuatu.
Dan setiap kali dia masuk dan menatapku seperti itu, aku secara refleks ingin berteriak: *Apa yang kamu tahu? Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Will?*
Yang terjadi: aku mengeluarkan suara "oeh" yang sangat tidak mengancam.
Pria itu selalu pergi setelah beberapa menit tanpa mengucapkan apa-apa kepadaku.
---
Hari ketiga, ada yang mencoba berbicara padaku secara serius untuk pertama kalinya.
Bukan pria itu. Bukan wanita itu.
Seorang perempuan tua — nenek? bibi? aku belum bisa mengidentifikasi hubungannya — duduk di kursi di samping boks bayiku dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku kategorikan.
Kemudian dia berbicara. Bukan kepada wanita atau pria itu. Langsung kepadaku.
Dalam bahasa yang berbeda dari yang biasa mereka gunakan. Bahasa yang lebih tua. Lebih berat. Tapi entah kenapa, ada beberapa kata yang seperti memiliki padanan dalam bahasa yang aku kenal—
"Anak," katanya pelan, "kamu dengar aku?"
Aku menatapnya.
"Jika kamu mendengar aku, jangan menangis."
Aku tidak menangis.
Perempuan tua itu menghela napas panjang. Ekspresinya berubah — sesuatu yang terasa seperti campuran antara lega dan sedih.
"Jadi benar," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri daripada padaku. "Dia benar-benar datang."
Lalu dia mengambil tanganku yang mungil — menggenggamnya dengan hati-hati di antara kedua telapak tangannya yang keriput — dan berbisik sesuatu yang langsung tertanam di otakku meski aku tidak sepenuhnya mengerti konteksnya:
"Namamu di sini adalah Lyra. Tapi kami tahu siapa kamu sebenarnya. Dan kami akan menjagamu sampai kamu siap."
Aku menatap mata perempuan tua itu.
*Mereka tahu.*
*Mereka tahu ada seseorang di dalam bayi ini.*
Pertanyaannya sekarang bukan lagi *di mana aku* atau *bagaimana aku bisa kembali.*
Pertanyaannya adalah: *siapa "mereka", dan apa yang mereka inginkan dariku?*
--- *Bersambung ke Bab 4...*
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar