Gelap.

Gelap yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Bukan gelap seperti lampu dipadamkan, atau gelap ruang bioskop sebelum film dimulai. Ini gelap yang *hidup* — hangat, basah, bergerak. Aku bisa merasakan dinding-dinding di sekitarku. Lembut tapi nyata. Dan di mana-mana ada suara — suara gemuruh yang ritmis, konsisten, seperti mesin yang tidak pernah berhenti.

Detak jantung.

Otakku memproses informasi itu dengan cepat. *Detak jantung. Tapi bukan detak jantungku.* Ini terlalu besar. Terlalu kuat. Seperti jantung raksasa yang aku duduk di sampingnya.

Aku mencoba bergerak — dan sesuatu yang aneh terjadi.

Tubuhku bergerak. Tapi bukan seperti yang aku mau.

Seperti... seperti mencoba mengemudikan mobil dengan setir yang tidak responsif. Sinyal dikirim, tapi tubuh mengeksekusinya dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang aku inginkan. Aku ingin menggerakkan tangan — yang terjadi adalah sesuatu yang terasa seperti tendangan kaki bayi yang tidak terkoordinasi.

*Tunggu.*

*Tunggu, tunggu, tunggu.*

Seorang ilmuwan sejati tidak panik. Seorang ilmuwan mengamati, mengumpulkan data, lalu menarik kesimpulan.

Aku — Nathali Wood, PhD, ilmuwan NASA, peraih Nobel termuda — mencoba tidak panik.

Gagal total.

Di dalam kegelapan itu, dalam keterbatasan tubuh yang tidak aku kenali, kepanikanku meledak seperti supernova. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan. Tubuh ini tidak merespons kepanikanku. Yang terjadi malah sebaliknya — tubuh ini bergerak sendiri, menggeliat, menendang-nendang, dan—

Cahaya.

Cahaya menyilaukan yang tiba-tiba memenuhi segalanya.

---

Aku tidak tahu berapa detik atau menit itu berlangsung. Yang aku tahu, ada tekanan luar biasa di seluruh tubuhku — tekanan yang mendorong dari segala arah sekaligus, memeras, mendorong, dan kemudian—

Udara.

Udara dingin yang menghantam kulitku seperti serangan.

Dan suara.

Suara yang keluar dari mulutku sendiri — tangisan yang melengking, keras, tidak terkendali — membuat aku terkejut dua kali lipat. Pertama karena suara itu ada. Kedua karena suara itu bukan suaraku.

Ini suara bayi.

Seseorang mengangkatku. Tangan-tangan yang hangat dan terampil membalikkan tubuhku, menepuk-nepuk punggungku dengan lembut. Aku bisa melihat — tapi penglihatan ini berbeda. Buram di pinggir, seperti kamera yang fokusnya belum sempurna. Cahaya terasa terlalu terang. Warna-warna terasa terlalu tajam.

*Aku baru dilahirkan.*

Pikiran itu datang dengan ketenangan yang ironisnya sangat tidak sesuai dengan situasi. *Aku baru dilahirkan. Aku adalah bayi. Ini bukan mimpi, ini bukan simulasi, ini—*

"It's a girl!"

Suara itu — suara wanita, dalam aksen yang tidak langsung aku kenali — menembus kepanikanku. Dan kemudian ada suara lain. Suara tangisan lega. Suara seorang wanita yang menangis sambil tertawa.

"Tunjukkan padaku. Tunjukkan padaku—"

Aku diletakkan di atas sesuatu yang hangat. Dada seseorang. Wanita itu memelukku — dengan cara yang sangat berhati-hati, seolah aku adalah benda paling rapuh di dunia ini. Dan mungkin, saat ini, memang begitu.

Aku mencoba fokus. Mencoba menggunakan penglihatan bayi yang belum sempurna ini untuk melihat wajah wanita yang memegangku.

Yang aku lihat: rambut gelap yang awut-awutan, wajah pucat dengan bekas air mata yang belum sempat dihapus, dan mata — mata yang sangat lelah tapi memancarkan sesuatu yang aku tidak punya kata ilmiah untuk mendeskripsikannya.

Cinta yang tidak bersyarat.

Cinta yang tidak mengenal siapa aku sebenarnya. Cinta yang bahkan belum tahu namaku — nama lamaku. Cinta yang diberikan begitu saja, penuh, tanpa hitungan, kepada makhluk kecil merah yang baru saja keluar dari tubuhnya.

Tanpa aku sadari, tangisku berhenti.

Wanita itu — ibuku, rupanya, dalam kehidupan ini — menatap wajahku dengan ekspresi terkejut.

"Lihat," bisiknya kepada seseorang di luar jangkauan penglihatanku yang buram. "Dia berhenti menangis. Dia menatapku."

"Bayi baru lahir belum bisa fokus melihat," kata suara lain — tenang, profesional. Mungkin dokter atau bidan. "Refleks saja."

Tapi wanita itu menggeleng. Aku tahu dia menggeleng meski penglihatanku masih buruk — aku bisa merasakan gerakan dadanya.

"Tidak," katanya pelan. "Dia melihatku. Sungguhan."

Aku memang melihatnya.

Dan untuk pertama kali sejak pesawat itu jatuh, sejak kegelapan menelanku, sejak suara *BRAK* itu menutup semua kesadaranku — aku merasakan sesuatu selain panik.

Aku merasakan kebingungan yang tenang.

*Di mana aku? Siapa wanita ini? Ini negara apa?*

Satu per satu pertanyaan muncul di benak ilmuwanku yang tidak pernah bisa berhenti bekerja, bahkan dalam situasi sepaling absurd ini.

Aku mulai mengumpulkan data.

Bahasa yang mereka gunakan — campuran. Ada yang terdengar seperti Bahasa Inggris, tapi ada dialek yang tidak familiar di telingaku. Ruangan ini — dari suara dan sensasi suhu udara — sepertinya ruangan rumah sakit. Bau antiseptik yang khas. Peralatan medis yang berbunyi pelan di latar.

Wajah wanita yang memegangku — Eropa, mungkin Skandinavia, berdasarkan struktur tulang wajah dan warna kulitnya yang pucat kemerahan.

Musim — dingin. Udara di luar jendela (aku bisa merasakan hembusan udara dari arah sana) terasa sangat dingin.

*Oslo*, pikirku tiba-tiba.

*Kami seharusnya menuju Oslo.*

Tapi sebelum pikiranku bisa melanjutkan analisis itu, seseorang lain masuk ke ruangan. Langkah kaki yang berat, tegas. Seorang pria. Dan ketika ia mendekat, ketika wajahnya masuk ke dalam jangkauan penglihatan bayiku yang terbatas—

Aku tidak mengenalnya.

Tentu saja tidak. Ini bukan siapa pun yang aku kenal.

Pria itu menatapku dengan ekspresi yang sulit aku baca. Bukan ekspresi ayah baru yang bahagia. Bukan ekspresi campuran antara takut dan bangga yang biasa aku lihat di foto-foto kelahiran.

Ekspresinya seperti seseorang yang sedang... *menilai*.

Seperti seseorang yang sudah menunggu kedatanganku.

Dan itu — di tengah semua keanehan yang sudah aku alami hari ini — adalah hal paling menggangguku.

Aku memejamkan mata. Bukan karena mengantuk — meski tubuh ini jelas sekali sangat lelah — tapi karena aku butuh waktu untuk berpikir.

*Baik. Oke. Kamu adalah Nathali Wood. Kamu ilmuwan. Kamu tidak percaya hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. Tapi kamu baru saja dilahirkan sebagai bayi dari seorang wanita yang bukan ibumu dan seorang pria yang menatapmu seperti kamu adalah eksperimen.*

*Jadi mungkin saatnya mulai percaya hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.*

Tubuh kecil ini akhirnya menyerah pada kelelahan.

Dan saat aku tertidur — untuk pertama kalinya sebagai makhluk baru di dunia ini — yang terakhir aku dengar adalah suara pria itu berbisik kepada wanita yang memegangku.

"Apa dia... normal?"

Dan jawaban wanita itu, lirih dan penuh keyakinan:

"Dia lebih dari normal. Aku bisa merasakannya."

--- *Bersambung ke Bab 3...*

---