Lyra.
Namaku di sini adalah Lyra.
Aku mengulang nama itu di dalam kepala berkali-kali selama beberapa hari berikutnya, mencoba membiasakan diri. Bukan karena aku ingin menerimanya — tapi karena seorang ilmuwan yang baik harus menerima data apa adanya sebelum bisa menganalisisnya.
Data: Namaku Lyra sekarang. Bukan Nathali. Bukan Nat.
Data: Ada orang di sini yang tahu aku bukan bayi biasa.
Data: Pria yang memandangku dengan cara kalkulatif itu tampaknya bagian dari kelompok yang sama dengan perempuan tua tersebut.
Data: Wanita yang melahirkanku tampak lebih emosional dan kurang kalkulatif, tapi frasa "anakku sekarang" menunjukkan bahwa dia juga mengetahui sesuatu.
Data: Will. Nama itu masih berputar di kepalaku. Pria dengan senyum tenang di kursi 4A. Pria yang tidak panik saat pesawat jatuh. Pria yang berbisik "Sampai" tepat sebelum segalanya berakhir.
*Sampai ke mana, Will?*
---
Aku mulai sistematis dalam mengamati lingkunganku.
Seorang ilmuwan yang terjebak dalam tubuh bayi tetaplah seorang ilmuwan. Dan alat terbaik yang aku miliki saat ini hanyalah pengamatan pasif — karena pengamatan aktif membutuhkan kemampuan fisik yang belum aku miliki.
Ruangan di mana aku diletakkan setelah pulang dari rumah sakit: sedang, hangat, dengan jendela di sisi utara yang memperlihatkan langit berwarna abu-abu. Langit Skandinavia. Semakin meyakinkanku bahwa aku ada di wilayah Nordik.
Benda-benda di ruangan: boks bayi putih, lemari kecil, kursi goyang, dan di dinding — inilah yang paling menarik — tidak ada foto bayi atau dekorasi lucu yang biasanya menghiasi kamar bayi. Yang ada di dinding hanya satu benda: sebuah lukisan kecil bergambar simbol geometris yang tidak langsung aku kenali, tapi terasa... penting.
Suara-suara: wanita itu — yang aku putuskan untuk menyebutnya Ibu demi kemudahan analisis — sering bersenandung pelan saat menggendongku. Pria itu — Ayah dalam konteks ini — berbicara dalam nada rendah yang jarang naik. Mereka berdua berbicara dalam dua bahasa secara bergantian: bahasa Nordik yang belum sepenuhnya aku identifikasi, dan bahasa Inggris.
Tamu-tamu: ada beberapa. Perempuan tua itu datang lagi dua kali. Setiap kali dia datang, Ayah dan dia berbicara di ruangan lain dengan suara pelan yang tidak sampai ke telingaku yang masih berkembang. Ibu biasanya terlihat cemas saat perempuan tua itu datang.
Kesimpulan sementara: ada dinamika kekuasaan di sini. Perempuan tua itu adalah otoritas. Ayah tunduk padanya tapi tidak sepenuhnya nyaman. Ibu... Ibu tampak seperti orang yang mencintaiku sungguhan, tapi juga tahu bahwa situasi ini lebih besar dari sekadar keluarga.
---
Hari ketujuh belas.
Aku tahu itu karena aku menghitung setiap kali matahari terbit dan tenggelam — meski dari sudut kamar ini aku hanya bisa melihat perubahan cahaya dari jendela.
Hari ketujuh belas adalah hari aku pertama kali berhasil mengidentifikasi bahasa yang mereka gunakan.
Norwegia.
Mereka berbicara dalam bahasa Norwegia.
*Oslo*, pikirku lagi. *Kami seharusnya ke Oslo.*
Apakah ini kebetulan? Atau apakah ada hubungannya?
Pesawat itu seharusnya membawaku ke Oslo untuk konferensi tahunan. Tapi pesawat jatuh. Dan aku terbangun — di Oslo? Di Norwegia? — sebagai bayi baru lahir.
Will disebutkan akan bertemu keluarganya di Oslo.
*Keluarga Will.*
Aku menatap Ayah yang sedang membaca di kursi dekat jendela, tidak menyadari bayinya sedang menganalisisnya dengan serius.
*Apakah kamu keluarga Will?*
Seolah merasakan tatapanku, Ayah melihat ke arahku. Ekspresi kalkulatifnya muncul lagi. Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda — sesuatu yang hampir terlihat seperti pertanyaan.
Dia bangkit dari kursinya, mendekat, dan berdiri di tepi boks bayiku. Menatap wajahku yang kecil.
Aku menatap balik.
Pria ini tinggi. Rambut kecoklatan yang mulai memutih di pelipisnya. Mata abu-abu yang tajam. Usia sekitar empat puluhan. Rahang yang tegas dan ekspresi yang terlatih untuk tidak menampilkan emosi.
Tapi di bawah semua itu — di bawah lapisan kendali diri yang jelas sekali sudah diasah bertahun-tahun — aku mendeteksi sesuatu.
Rasa bersalah.
Pria ini merasa bersalah tentang sesuatu.
"Lyra," panggilnya pelan. Bukan dengan nada lembut seperti Ibu. Tapi juga bukan dingin. Lebih seperti... percobaan. Seperti dia sedang mencoba nama itu di lidahnya untuk pertama kali.
Aku tidak bereaksi. Belum terbiasa.
Ayah menghela napas.
"Maafkan aku," bisiknya — sangat pelan, hampir tidak terdengar. "Ini bukan pilihan terbaik. Tapi ini satu-satunya yang tersedia."
Dia pergi sebelum aku bisa — katakanlah, seandainya aku bisa berbicara — bertanya: *pilihan apa? pilihan terbaik untuk siapa? dan siapa yang membuat pilihan itu?*
Tapi kalimat itu sudah cukup untuk menambahkan satu data baru ke dalam analisisku.
*Ini disengaja.* Keberadaanku di sini bukan kecelakaan alam semesta. Seseorang — atau beberapa orang — membuat keputusan untuk menempatkan jiwaku di tubuh ini. Di keluarga ini.
Dan Ayah tahu tentang itu.
---
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku ada di sini, aku tidak tidur karena lelah.
Aku berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang remang-remang, dan membiarkan pikiranku berlari.
*Hipotesis 1: Ini adalah program pemerintah atau organisasi rahasia yang bisa melakukan transfer kesadaran antar tubuh. Bukan hal yang sepenuhnya mustahil — aku sendiri pernah membaca beberapa makalah teoritis tentang topik ini, meski semuanya dianggap pseudosains.*
*Hipotesis 2: Ini adalah fenomena supranatural yang tidak bisa dijelaskan sains konvensional. Reinkarnasi — tapi bukan yang acak, melainkan yang terencana.*
*Hipotesis 3: Aku mati, dan ini semua adalah konstruksi mental otak yang sekarat. Simulasi. Tapi hipotesis ini tidak produktif karena jika ini simulasi, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi abaikan.*
*Hipotesis 2 semakin kuat.*
Dan di pusat hipotesis 2 itu ada satu nama yang terus-menerus muncul:
Will.
--- *Bersambung ke Bab 5...*
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar