Puskesmas Kecamatan Muara Tiga tidak ada di dalam Google Maps sampai Bima sendiri yang melaporkan koordinatnya dua tahun lalu.

Bangunannya tidak besar — dua ruang periksa, satu ruang tunggu yang kursinya selalu penuh di hari Senin, satu gudang obat yang selalu kekurangan stok tertentu, dan satu ruang dokter yang sebenarnya juga berfungsi sebagai tempat makan siang karena tidak ada kafetaria.

Bima sudah di sini tiga tahun. Kontrak pertama dua tahun, diperpanjang satu tahun karena ia memang tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk pergi.

Bukan karena tidak ada tawaran lain. Ada klinik di Surabaya yang dua kali menghubunginya. Ada teman kuliah yang mengajak membuka praktik bersama di Jakarta. Ada Ibu yang setiap tiga bulan menelepon dan bertanya *kapan pulang ke Jawa*.

Tapi di sini ada Pak Darman yang datang setiap bulan dengan tekanan darahnya yang fluktuatif dan cerita panjang tentang sawahnya. Ada Ibu Rahmah dengan tiga anaknya yang selalu setia mengikuti jadwal imunisasi. Ada Bu Siti yang pertama kali datang dengan gejala diabetes yang hampir terlambat ditangani dan yang sekarang sudah jauh lebih terkontrol dengan perubahan pola makan.

Ada pasien yang dikenalnya lebih dari sekadar riwayat penyakit. Yang mengenalnya lebih dari sekadar nama di papan.

Itu yang membuatnya susah pergi.

---

Rabu pagi, tiga hari setelah reuni.

Ia memeriksa pasien terakhir sebelum jam makan siang ketika ponselnya bergetar di atas meja.

*Lara.*

*Bisa cerita dulu? Aku lagi nunggu sound check.*

Bima menatap pesan itu, kemudian menatap pintu yang baru saja ditutup pasien terakhirnya.

Ia membalas: *Lagi nunggu sound check di mana?*

Lara: *Bandung. Ada konser kecil malam ini.*

Ia: *Berapa kapasitas?*

Lara: *2000an. Kamu akan bilang itu bukan kecil.*

Bima: *Bukan kecil.*

Lara: *Untuk standarku, kecil. Aku pernah konser 15.000 orang.*

Bima: *Aku tidak akan pernah mengerti skalamu.*

Ia bisa membayangkan Lara tertawa di sisi sana — tawa yang sama seperti di restoran hotel tiga hari lalu. Pelan, sungguh-sungguh.

Lara: *Gantian cerita tentang Kalimantan. Kamu bilang siap.*

Bima menyenderkan diri ke kursinya. Meja penuh berkas, stok obat yang perlu direkap, laporan bulanan yang belum selesai.

Ia mengetik: *Tadi pagi ada pasien datang jalan kaki 4 km karena motornya rusak. Itu yang paling biasa terjadi di sini.*

Lara: *4 km jalan kaki buat periksa.*

Bima: *Itu belum yang terjauh.*

Lara: *Kenapa kamu mau di sana?*

Pertanyaan yang langsung. Tanpa basa-basi.

Bima berpikir sebentu sebelum menjawab: *Karena di sini aku bisa lihat langsung apakah yang aku lakukan berguna.*

Lara tidak langsung membalas. Tiga menit. Lima menit.

Kemudian: *Itu jawaban yang paling serius yang pernah aku terima untuk pertanyaan itu.*

Bima: *Pernah nanya ke siapa lagi?*

Lara: *Dokter-dokter yang aku temui di acara charity. Mereka biasanya jawab tentang panggilan jiwa dan sebagainya.*

Bima: *Itu juga benar. Tapi yang pertama lebih jujur.*

Lara: *Aku suka yang jujur.*

Ia menatap kalimat itu lebih lama dari yang diperlukan.

---

Makan siangnya — nasi bungkus dari warung Bu Yati yang setiap hari menyisakan porsi untuknya karena *Dokter Bima itu kalau nggak diingatin lupa makan* — sudah dingin ketika akhirnya ia buka.

Percakapan dengan Lara berlanjut sampai ia selesai makan, berpindah dari topik ke topik dengan cara yang terasa alami — dari Kalimantan ke Jakarta ke masa SMP ke pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak terasa seperti interogasi tapi yang meninggalkan informasi yang cukup penting di kedua arahnya.

Ia tahu sekarang bahwa Lara tidak suka buah durian meski pernah dipaksa mencoba untuk konten promosi. Bahwa ia ternyata masih membaca novel — bukan yang disembunyikan di balik buku Matematika lagi, tapi dengan earphone dan aplikasi audio book ketika perjalanan. Bahwa hotel favoritnya adalah hotel yang punya jendela besar menghadap kota atau alam, bukan interior yang paling mewah.

Lara tahu bahwa ia minum kopi tanpa gula sejak koas. Bahwa hewan peliharaan puskesmas adalah kucing kampung yang datang sendiri dan yang sudah ia beri nama Aspirine karena ditemukannya di dekat lemari obat. Bahwa ia suka memasak di akhir pekan tapi jarang ada yang makan masakannya selain diri sendiri.

"Sound check udah selesai," pesan Lara masuk sebelum makan siang berakhir. *Harus persiapan dulu. Nanti lagi ya.*

Bima: *Oke. Selamat konser.*

Lara: *Doain lancar.*

Bima mengetik: *Sudah.*

Ia kirim tanpa berpikir terlalu lama.

Lara tidak membalas. Tapi ada tanda baca *dibaca* yang muncul beberapa detik kemudian, dan Bima memutuskan itu sudah cukup untuk saat ini.

Di luar ruang dokter, suara antrean siang mulai ramai. Aspirine melompat ke kursi kosong di sudut dan melingkar tidur.

Bima membereskan meja, mengikat kantong nasi bungkus yang sudah kosong, dan mempersiapkan dirinya untuk sisa hari yang sudah menunggu.

Tapi ada yang terasa sedikit berbeda dari kemarin — ringan, hampir tidak terasa, seperti angin yang masuk dari celah jendela yang tidak tertutup sempurna.

Tidak menyebalkan. Tidak mengkhawatirkan.

Hanya ada.

Aspirine melompat turun dari kursi ketika pasien pertama sore masuk. Konsisten — ia selalu pindah ketika ada orang asing yang datang, bukan karena takut, tapi karena ia punya standar privasi tersendiri.

Bima mencatat keluhan pasien, memeriksa, menjelaskan dengan cara yang sudah ia latih selama bertahun-tahun untuk menjadi cukup jelas tanpa membuat pasien merasa bodoh.

Setelah semua pasien selesai, jam empat lebih, ia duduk di ruang dokter yang kini sepi dan membuka jendela. Udara Kalimantan sore hari masuk — ada bau tanah, ada bau pohon, ada sesuatu yang tidak punya nama tapi yang sudah menjadi penanda bahwa hari ini menuju ke ujungnya.

Ponselnya bergetar.

Lara: *Gimana harinya?*

Singkat. Tidak memaksa. Pertanyaan yang memberi ruang untuk jawaban apapun — pendek, panjang, atau tidak ada jika tidak ada yang ingin dikatakan.

Bima: *Padat. Tapi oke. Kamu?*

Lara: *Fitting kostum empat jam. Kaki protes.*

Bima: *Fitting empat jam itu normal?*

Lara: *Normalnya tiga. Hari ini ada revisi mendadak.*

Bima membayangkan ini — empat jam berdiri, bergerak, dicoba pakaian berbeda-beda, dengan lampu studio yang terlalu terang. Berbeda sekali dari hari-harinya tapi sama-sama melelahkan dengan caranya masing-masing.

Bima: *Sudah makan sejak tadi?*

Lara: *Makan siang. Belum makan malam.*

Bima: *Makan dulu.*

Lara: *Kamu juga.*

Dan dari percakapan pendek yang tidak ada yang istimewa itu, ada sesuatu yang terbentuk — ritme kecil yang akan terus ada di antara hari-hari berikutnya, yang tidak direncanakan tapi yang terasa seperti sesuatu yang perlu ada.